Guru non Muslim Bisa Mengajar di Madrasah, MPU Aceh: Tidak Tepat!

Guru non Muslim Bisa Mengajar di Madrasah, MPU Aceh: Tidak Tepat!
Wakil Ketua MPU Aceh Tgk Faisal Ali

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Wakil Ketua Majelis Pemusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk Faisal Ali menilai tidak tepat jika guru non muslim ditempatkan untuk mengajar di madrasah.

"MPU Aceh melihat kebijakan penempatan guru non muslim di madrasah adalah kebijakan yang tidak tepat," kata Tgk Faisal Ali atau yang akrab disapa Lem Faisal ini, Senin (1/2/2021).

Fenomena guru non muslim mengajar di madrasah sendiri tersingkap di Makasar baru-baru ini.

Di mana Eti Kurniawati, calon pegawai negeri sipil (CPNS) mendapat penempatan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja untuk mengajar mata pelajaran umum.

Lihat: Kementerian Agama Tunjukkan Aturan Guru Kristen Bisa Mengajar di Madrasah

Sementara menurut Lem Faisal, pendidikan bukan hanya pada penyampaian kata-kata, tapi lebih kepada hubungan batiniah antara guru dan muridnya.

"Hubungan batiniah tersebut tidak akan didapatkan pada perbedaan agama, ini merupakan kebijakan yang tidak sesuai spirit pendidikan," ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, Kementerian Agama sebetulnya tidak perlu mengaplikasikan Peraturan Menteri Agama (PMA) Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2015 dan PMA Nomor 66 Tahun 2016 khususnya pada BAB VI Pasal 30 Tentang  Standar Kualifikasi Umum Calon Guru Madrasah, khususnya pada poin a yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Kita juga harapkan peraturan ini perlu ditinjau kembali, karena semangat mendidik bukanlah hanya pada orasi, tapi lebih kepada hubungan emosional antara murid dan guru, maka dari itu tidak perlu mendatangkan guru dari akidah yang berbeda,” katanya.

Kalau seandainya peraturan itu tidak diubah secara nasional, kata Faisal, maka MPU akan menolak dengan tegas apabila kebijakan penempatan itu berlangsung di Aceh.

"Bukan kita anti pada non muslim, tapi kita ingin bahwa spirit pendidikan itu bukan hanya retorika, tapi lebih kepada spiritual, hati antara murid dan gurunya," ujarnya.

Lagi pula, kata Faisal, Aceh sendiri tidak pernah kekurangan guru, baik yang beragama Islam, Kristen dan lainnya.

"Kita masih cukup guru, baik muslim dan non muslim, jadi kebijakan tersebut jelas kita tolak," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...