Geuthee Institute Minta Pembangunan Pasca Gempa Pidie Jaya Adopsi Kearifan Lokal

Geuthee Institute Minta Pembangunan Pasca Gempa Pidie Jaya Adopsi Kearifan Lokal
Teuku Muttaqin Mansur

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Direktur  Geuthee Institute, Dr. Teuku Muttaqin Mansur berharap, pembangunan pasca gempa Pidie Jaya bisa mengadopsi dan mempertahankan kearifan lokal masyarakat setempat.

Hal itu disampaikan Muttaqin setelah Pemerintah Aceh menetapkan berakhirnya masa tanggap darurat pada 20 Desember 2016, selanjutnya pemerintah melakukan pemulihan melalui rehabilitasi dan rekonstruksi.

“Kenapa harus mengadopsi kearifan lokal, karena Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang rawan terhadap bencana,” kata Muttaqin, Rabu (4/1/2017).

Muttaqin mengatakan, paska Pidie Jaya digoncang gempa bumi 6,5 SR pada Rabu 7 Desember 2016 lalu, Pemerintah Aceh merencanakan masa rehap rehap rekon dimulai sejak 2017 hingga 2018.

Karena, akibat gempa tersebut banyak sarana pendidikan, sarana ibadah, fasilitas umum dan rumah-rumah di pemukiman penduduk yang hancur.

Sementara itu, Akademisi Sulaiman Tripa menilai, selama ini banyak peraturan perundang-undangan yang saling bertabrakan dengan tata ruang pemerintah Aceh.

“Ada suasana ketidak harmonisan dan banyak kepentingan yang mengatur hal semacam ini. Harmonisasi hukum terkait kebencanaan, termasuk di dalamnya keberadaan kearifan lokal sangat penting,” tegas Sulaiman.

Ia mencontohkan misalnya kepentingan kebencanaan selalu bertabrakan dengan kepentingan tata ruang, orientasi ekonomi dan PAD.

Hal lain yang penting pada masa rehab rekon ini, lanjutnya, Pemerintah Aceh harus memperhatikan nilai-nilai Islami, norma-norma adat, dan budaya setempat.

“Hal lain yang harus diingatkan dari awal adalah untuk menjadikan keinginan masyarakat lokal sebagai ukuran bukan keinginan pendonor atau pengambil kebijakan semata,” tegas Sulaiman.(*)

Komentar

Loading...