Gegara Garam Impor Masih Banjiri Pasar di Aceh Utara, Garam Petani Tradisional Tak Dilirik

Gegara Garam Impor Masih Banjiri Pasar di Aceh Utara, Garam Petani Tradisional Tak Dilirik
Dapur produksi garam tradisional di Aceh Utara | Foto: Khairul Iman

BERITAKINI.CO, Lhoksukon | Petani-petani garam tradisional di Desa Matang Tunoeng, Lapang, Aceh Utara masih dihadapkan dengan situasi sulit.

Harga jual garam milik mereka anjlok lantaran stok di pasaran melimpah. Pasar-pasar lokal masih dibanjir garam impor.

Kini, garam petani tradisional hanya laku dijual Rp 6 ribu bambu.

“Dulu, saat keran impor distop oleh Bu Susi (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan), harganya bisa mencapai Rp 12 ribu per bambu,” kata salah seorang petani garam, Hamdani, Kamis (3/12/2020).

Sementara dengan harga jual saat ini, kata Hamdani, petani masih tergolong merugi.

“Belum sepenuhnya bisa mentutupi biaya produksi. Karena kami membutuhkan material kayu bakar saat memproduksi garam,” katanya.

Mereka pun menginginkan pemerintah mengkaji kembali kebijakan impor garam tersebut, karena diyakini telah memposisikan petani garam di situasi yang sulit.

“Agar kami mendapat angin segar dan mendapat harga yang kompetitif,” katanya.

Hamdani melanjutkan, program produksi garam yang ditawarkan pemerintah melalui pembiayaan dari APBA dan APBN dengan metode geomembran juga belum membuahkan hasil.

“Kami nilai masih sangat nihil hasilnya. Karena tidak ada hasil yang begitu signifikan, jadi kami petani memilih untuk kembali dengan proses tradisional,” katanya. | Khairul Iman

Rubrik

Komentar

Loading...