Dua Anggota DPRK Aceh Singkil Nyaris Adu Jotos di Rapat Paripurna, Ini Penyebabnya

Dua Anggota DPRK Aceh Singkil Nyaris Adu Jotos di Rapat Paripurna, Ini Penyebabnya

BERITAKINI.CO, Singkil | Dua orang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Singkil (DPRK) Aceh Singkil nyaris adu jotos.

Mereka adalah Sadri dan Jaimar Tumangger, keduanya dari Fraksi Nasdem Perjuangan Kebangkitan Pembangunan (NPKP).

Insiden itu dipicu salah satu meteri dalam pandangan akhir fraksi tersebut yang dibacakan Juru Bicara NPKP Ramli Boga.

Materi itu adalah soal pengaduan Forum Cinta Damai Aceh Singkil atau Forcidas ke Komnas HAM tentang pendirian rumah pendeta.

Lihat: Hindari Potensi Konflik, Pemkab Aceh Singkil Ingin Pendirian Rumah Pendeta Pedomani Regulasi

NPKP berpandangan cara yang dilakukan Forcidas itu telah mencoreng wajah dan merendahkan derajat dan martabat Pemerintah Aceh Singkil.

"Oleh karenanya kami meminta berdasarkan Undang Undang Nomor 11 Tahun 2006 Pasal 126 ayat 2 berbunyi setiap orang yang bertempat atau tinggal di Aceh wajib menghormati pelaksanaan syariat Islam. Dan Pasal 127 ayat 4 pendirian rumah ibadah harus mendapat dari Pemerintah Aceh atau pemerintah kabupaten kota. Untuk itu kami meminta saudara bupati agar dapat melakukan penertiban dan dapat melakukan tindakan secara tegas atau pelanggaran hukum yang telah di tentukan oleh peraturan perundang undangan,” kata Ramli Boda.

Selesai Ramli Boga menyampaikan pandangan akhir fraksi itu, Jaimar Tumangger langsung menginterupsi.

"Interupsi pimpinan, terkait isi pandangan fraksi kami tadi, tandatangan saya tarik," katanya.

Sontak dibalas Ketua Fraksi NPKP Sadri.

“Interupsi pimpinan. Sebelum ditandatangani, lembaran pendapat akhir fraksi telah diserahkan kepada yang bersangkutan,” katanya.

Usai paripurna ditutup, Jaimar Tumangger terlihat menghampiri Sadri.

Keduanya pun tampak mengeluarkan suara tinggi bahkan sempat adu jotos. Kemudian langsung dilerai anggota DPRK lainnya.

Dikonfirmasi kemudian, Jaimar Tumangger membenarkan telah menandatangani pandangan akhir fraksi tersebut.

"Karena saya melihat tinggal saya lagi yang belum menandatangani, langsung saya tandatangani," katanya.

“Saya minta tarik tandatangan itu karena saya tidak enak sama konstituen saya nantinya seakan saya setuju. Itu makanya saya tarik. Toh tanpa tandatangan saya tetap saja sah itu, karena hanya satu orang tidak menandatangani.”

Sementara Sadri yang dikonfirmasi soal ado jotos dengan Jaimar mengatakan hal itu terjadi karena dipicu perkataan Jaimar yang tidak menyenangkan.

“Ada perkataan yang tidak enak tadi," katanya.

Namun begitu, Sadri mengatakan bahwa tandatangani Jaimar Tumangger telah dikeluarkan, dalam artinya tanda tangannya dicabut.

Rubrik

Komentar

Loading...