Divonis Bebas dari Kasus Pemerkosaan Keponakan, Diki Pratama Tinggalkan Rutan Jantho

Divonis Bebas dari Kasus Pemerkosaan Keponakan, Diki Pratama Tinggalkan Rutan Jantho
Diki Pratama (dua kanan).

BERITAKINI.CO, Jantho | Diki Pratama (35) akhirnya bisa menghirup udara bebas. Pria asal Lhonga, Kabupaten Aceh Besar yang sempat divonis sebagai pemerkosa anak di bawah umur lalu dibebaskan oleh Mahkamah Syar’iyah Aceh itu, resmi meninggalkan Rumah Tahanan (Rutan) Jantho, kemarin.

“Sekira pukul 11.00 WIB, dia sudah bebas,” kata Kepala Rutan Jantho Bambang Waluyo, Jumat (28/5/2021).

Diketahui, Diki dijemput oleh pengacaranya Tarmizi. Dikonfimasi, Tarmizi mengaku kini Diki akan menetap sementara di kawasan Ketapang, Kabupaten Aceh Besar.

Sementara JPU dari Kejari Aceh Besar, Muhadir menyatakan masih menyiapkan permohoan untuk mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan bebas Mahkamah Syar’iyah tersebut.

Muhadir mengatakan masih memiliki waktu hingga Rabu pekan depan untuk memasukkan permohonan tersebut.

“Senin depan akan kita ajukan,” katanya.

Lihat: Alasan Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Ponakan

Selain itu, Muhadir juga mengatakan masih menunggu putusan kasasi atas vonis bebas Muhammad Akbar (33), ayah kandung korban yang juga sempat menjadi terdakwa pemerkosa anaknya itu. Muhammad Akbar lebih dulu divonis bebas oleh Mahkamah Syar’iyah Jantho. 

Lihat: Ayahnya Dibebaskan, MS Jantho Vonis Paman Pemerkosa Keponakan 16,6 Tahun Penjara 

Seperti diketahui, Mejelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh memvonis bebas Diki Pratama pada Kamis, 20 Mei 2021 lalu.

Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho yang memvonis Diki 16,6 tahun penjara.

Putusan bebas itu dibacakan Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh yang diketuai Misharuddin, dan M Yusar serta Khairil Jamal, masing-masing sebagai hakim anggota.

"Menyatakan terdakwa Diki Pratama tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya sebagaimana dakwaan alternatif kedua yang diatur dalam Pasal 49 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayah," begitu antara lain bunyi putusan tersebut.

Rubrik

Komentar

Loading...