Diterpa Isu Pecah Kongsi dengan Waled Husaini, Begini Reaksi Mawardi Ali

Diterpa Isu Pecah Kongsi dengan Waled Husaini, Begini Reaksi Mawardi Ali

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Duet kepemimpinan Aceh Besar sedang diterpa sas-sus perpecahan. Bupati Mawardi Ali dan Wakilnya Tgk Husaini A Wahab, kini diisukan tak lagi sejalan.

Di beberapa kesempatan, Tgk Husaini A Wahab atau yang sering disapa Waled Husaini, memang sering mengirim sinyalemen itu.

Pangkal persoalan mengarah pada selisih soal peran. Hal itu telah menggelinding, dan hari demi hari semakin liar. Publik menafsir bahwa relasi keduanya memang benar-benar sudah pada titik terpanas.Kekahwatiran pun muncul karena relasi buruk kedua pimpinan bisa berdampak luas, terutama terhadap jalannya roda pembangunan.

Tapi Mawardi menganulir asumsi liar tersebut. “Memang seolah-olah seperti sedang terjadi bencana besar. Sebenarnya tidak. Jika ada dinamika, itu iya, dan biasa terjadi,” kata Mawardi saat ditemui BERITAKINI.CO usai salat zuhur di Masjid Baitul Salihin, Ulee Kareng, Banda Aceh, Senin (29/72019).

Meski begitu, Mawardi menyatakan tidak menyalahkan siapa-siapa tentang berkembangnya isu relasi buruk antara bupati dan wakil bupati tersebut.

“Saya tidak menyalahkan wakil bupati, tidak menyalahkan pemberitaan media massa, siapapun tidak saya salahkan,” katanya.

Karena Mawardi memahami betul, dinamika memang sesuatu yang lazim terjadi di satu pemerintahan. Bahkan, kata Mawardi, Mendagri sendiri telah menyatakan bahwa hampir 90 persen perjalanan kepala daerah di Indonesia mengalami dinamika.  

Semua disebabkan karena keduanya saling mencari pengaruh, dan mengganggap punya peran yang sama dalam sebuah kinerja.

Dan penyebabnya bisa saja terjadi karena salah bupati, bisa jadi salah wakil bupati, atau mungkin bisa jadi salah peraturan perundang-undangan yang mengatur peran dan fungsi masing-masing.

“Jadi bisa saja terjadi perbedaan-perbedaan pandangan, maupun perbedaan konsep. Apalagi keduanya adalah tokoh politik,” katanya.

Namun Mawardi berharap, dinamika antara dirinya dengan Waled Husaini hendaknya tidak dibesar-besarkan. Sebaliknya, ia justru berharap ada solusi yang ditawarkan.

Tidak perlu pula saling menyalahkan, tapi mengedepankan agar semua yang berada dalam pemerintahan dapat menjalankan tugas masing-masing seperti yang sudah diatur.

“Sebab tidak ada pendelegasian atau penyerahan tugas dan wewenang pada satu orang. Sebab semua kita sudah diberi dan sudah diatur tugas dan fungsi masing-masing. Baik bupati, wakil bupati, anggota DPR, sekda, para asisten, para kepala dinas, semua memiliki tugas dan fungsinya masing-masing yang sudah diatur di dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2016 tentang Pemerintah Daerah,” jelasnya.

Sehingga jika semua komponen tadi memahami apa yang diatur undang-undang tersebut, kata Mawardi, tidak perlu lagi repot menanyakan bupati tugasnya apa, wakil bupati tugasnya apa, atau legislatif tugasnya apa.

“Itu tidak perlu dipertanyakan, apalagi dipertentangkan, sebab jika dipertentangkan makanya jadi repot dan tidak ada habis-habisnya. Toh kita semua sudah diatur tugas masing-masing, berdasarkan undang-undang tersebut, silahkan laksanakan saja tugas tersebut apalagi jika tugas tersebut melekat karena jabatannya dan ini yang sebenarnya perlu diberikan pencerahan,” kata Mawardi Ali.

“Jadi sekali lagi, dinamika yang sedang terjadi sekarang antara saya dengan wakil bupati, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Yang kita salahkan adalah keadaan, seolah-olah Pemerintahan Aceh Besar saat ini sudah terjadi bencana besar, bagaikan insiden yang sungguh amat sangat luar biasa, padahal hanya sebuah dinamika, dan itu biasa terjadi.”

Rubrik

Komentar

Loading...