Dipecat dari Partai Aceh, Begini Tanggapan Jufri Hasanuddin

Dipecat dari Partai Aceh, Begini Tanggapan Jufri Hasanuddin

BERITAKINI.CO, Blangpidie | Mantan Wakil Sekjen Partai Aceh Jufri Hasanuddin enggan mengomentari ihwal pemecatannya dari Partai Aceh. “Saya belum mau mengomentari soal itu, jangan sekarang,” katanya saat ditemui BERITAKINI.CO usai menghadiri Kampanye Dialogis Pasangan Tgk Qudusi-Hamdani atau Pasangan Qurani dengan masyarakat Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie, Rabu (8/2/2017) malam.

Saat dikejar agar memberikan tanggapannya, Bupati Abdya itu mengatakan sangat menghargai suasana di internal Partai Aceh saat ini. “Jadi begini, Saya sangat menghargai suasana kebatinan di Partai Aceh,” katanya.

Bagi Jufri, berjuang itu tidaklah harus ada jabatan. Dan Jufri mengatakan dia tetap sebagai kader PA. “Persoalan ada yang disebut pemecatan, tidak masalah bagi saya. Saya hargai keputusan itu,” katanya.

Partai Aceh, kata Jufri, tetap sebagai partai terbaik baginya. “Untuk provinsi tetap saya menangkan Mualem (Muzakir Manaf),” katanya sambil berlalu.

Sebelumnya, saat berbicara di kampanye dialogis pasangan Qurani, Jufri mengatakan, keputusan mendukung Pasangan Qurani memang adalah keputusan yang sulit baginya.

“Karena saya harus berbeda pendapat dengan partai saya. Partai yang membesarkan saya. Tapi saya serahkan kepada Allah. Saya memilih kepentingan agama dan rakyat, daripada simbul-simbul partai,” katanya di hadapan hadirin yang meramaikan lokasi kampanye dialogis itu.

Jufri mengatakan, dia memang telah mendengar ihwal pemecatannya itu. Tapi setelah diselidiki, yang membacakan SK pemecatan (Wen Rimba Raya) dan semua yang hadir di Pulau Kayu,  Kecamatan Susoh di kampanye Pasangan Erwanto-Muzakir, tak seorangpun tercatat pengurus Pimpinan Pusat Partai Aceh.

“Kalau dari segi jabatan, tinggi jabatan saya di partai dari pada mereka semua. Pantaskah mereka membaca surat pemecatan terhadap saya?” kata Jufri.

Jufri menjelaskan, jika mengutip bahasa salah satu pemimpinnya di Partai Aceh, SK pemecatan yang dibacakan Wen Rimba Raya tersebut adalah surat bulot (ilegal). “Itu jangan didengar, itu surat tidak resmi,” kata Jufri mengutip pernyataan pimpinan Partai Aceh yang dia maksud.

Menurut Jufri, hal yang sama juga pernah dialami mantan Ketua KPA/PA Abdya M Nazir dan Si Jai (Zainal Cot).  Surat bulot tersebut dipaksa oleh seorang bernama Erwanto agar diteken oleh Muzakir Manaf.

"Entah saat itu Mualem sedang istirahat, entah sedang apa. Tapi Mualem itu orangnya memang sangat baik sangka. Beliau memang seperti itu. Maka saat disodorkan, beliau langsung teken karena memang sosoknya yang selalu berbaik sangka," katanya.

Dan kondisi itu, kata Jufri, terulang lagi saat ini. “Artinya jelas sudah, Erwanto hadir di Abdya ini membawa ilmu Belanda, memecah belah. Dulu memecat ketua KPA/PA Abdya, sekarang menabrakkan saya dengan Mualem. Yang kita khawatirkan, nanti bisa-bisa Mualem juga dipecat nantinya.”

Kembali ke soal pemecatannya, kata Jufri, dia tidak akam mempermasalahkan kebijakan itu. “Saya sudah mengikarkan, tanpa jabatan pun di Partai Aceh, saya tidak akan pindah dan saya tetap kader Partai Aceh.  Tetap saya ingin memenangkan Mualem. Saya nyatakan dan saya ajak semua masyarakat untuk memilih Muzakir Manaf sebagai gubernur Aceh,” tegasnya.(*)

Rubrik
Pemkab Pidie Jaya-Idulfitri

Komentar

Loading...