Dijerat Makar, Dua Pria yang Pajang Spanduk Aceh Merdeka di Pidie Terancam Hukuman Seumur Hidup

Dijerat Makar, Dua Pria yang Pajang Spanduk Aceh Merdeka di Pidie Terancam Hukuman Seumur Hidup
Salah seorang pelaku saat mempersiapkan pemasangan spanduk Aceh Merdeka di Pidie

BERITAKINI.CO, Sigli | Dua warga Kabupaten Pidie, Nasruddin (43) dan Zulkifli (35) Pidie yang beberapa waktu lalu ditangkap aparat kepolisian Polres Pidie karena disangkakan melakukan perbuatan makar, terancam hukuman seumur hidup.

Keduanya terlibat memasang spanduk bertulisan ‘Kamoe Simpatisan ASNLF, menuntut Aceh pisah dengan Indonesia, Acheh Merdheka (Kami simpatisan ASNLF (Aceh Sumatera National Liberation Front) menuntut Aceh pisah dengan Indonesia, Aceh merdeka)’ dengan latar belakang gambar bendera bulan bintang.

Kedua pelaku memasang spanduk tersebut di ruas jalan kawasan Gampong Glee Gapui, Kecamatan Indrajaya, Pidie. Proses pemasangan juga direkam lantas muncul di channel Youtube Asnawi Ali.

Penasehat hukum terdakwa, Syahrul mengatakan, kliennya itu disangkakan melakukan tindak pidana kejahatan terhadap keamaan negara dan ujaran kebencian melalui media sosial.

Keduanya diancam pasal berlapis, yakni Pasal 106 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 106 KUHP jo Pasal 87 KUHP jo Pasal 53 (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP, Pasal 160 KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) KUHP ke-1 dan Pasal 54A Ayat (2) jo Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1.

“Ancaman hukuman kedua tersangka ini maksimal penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara,” kata Syahrul dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh, Selasa (16/2/2021).

Perkara tersebut sedang dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Sigli sejak 26 Januari 2021 lalu dan saat ini memasuki sidang ke lima dengan agenda putusan sela terhadap eksepsi terdakwa yang merasa ada kejanggalan dalam proses hukum terhadap kliennya.

Terhadap perkara tersebut, pihaknya yang ditunjuk sebagai penasehat hukum sejak 8 Desember 2020 merasa tidak pernah diberitahukan terkait perkembangan kasus tersebut, mulai dari pelimpahan dari penyidik polisi kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pelimpahan dari JPU ke PN Sigli.

“Sejak pelimpahan dari penyidik polisi kami tidak mendapatkan pemberitahuan agar bisa mendampingi, tau-taunya satu jam sebelum sidang pertama kami dikabari pihak keluarga dan tidak mungkin lagi  terkejar dalam waktu satu jam dari Banda Aceh,” kata Syahrul.

Atas beberapa kejanggalan itu, pihaknya sudah menyerahkan berkas permohonan kepada Majelis Hakim PN Sigli untuk menghentikan dan/atau menunda proses peradilan perkara tersebut hingga ada hasil pemeriksaan terhadap beberapa kejanggalan.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...