Didakwa Gelapkan Rp 1 Miliar Duit Klinik di Banda Aceh, Suci Rahayu Ngakunya Hanya Nilep Sekedar untuk Jajan!

Didakwa Gelapkan Rp 1 Miliar Duit Klinik di Banda Aceh, Suci Rahayu Ngakunya Hanya Nilep Sekedar untuk Jajan!
Suci Rahayu, terdakwa penggelapan duit klinik di Banda Aceh mencapai Rp 1 miliar mengikuti sidang secara virtual

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Pengadilan Negeri Banda Aceh menggelar sidang lanjutan kasus penggelapan uang Klinik Anugerah Ayah Bunda di Ateuk Pahlawan, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh dengan terdakwa Suci Rahayu, bekas karyawan klinik tersebut, Rabu (7/4/2021). 

Perempuan asal Lambaro, Aceh Besar itu sebelumnya didakwa telah menilep duit klinik tersebut yang nilainya diestimasi mencapai Rp 1 miliar. 

Dugaan culas itu dilakukan secara bertahap sejak 2019 hingga 2020.

Tapi Suci, yang mengikuti sidang secara virtual dari Lapas Kelas III Lhoknga, tersebut mengaku bahwa dia hanya menilep duit klinik sekedar untuk jajan. 

Artinya, dia mengakui menggelapkan duit klinik tersebut, tapi nilainya tak seperti yang didakwakan.

Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Nurmiati, didampingi dua hakim anggota yakni Eti Astuti dan Safri, itu diawali dengan agenda pemeriksaan dua orang saksi yang dihadirkan kuasa hukum terdakwa.

Kedua saksi itu masing-masing, Abdullah, warga Desa Meunasah Dayah, Ingin Jaya, Aceh Besar yang juga bekas perangkat gampong tersebut; dan Joni Saputra, warga Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, tetangga terdakwa.

"Apa maksud kuasa hukum mengajukan kedua saksi ini?” tanya majelis.

"Ingin membuktikan jika keluarga terdakwa memiliki pemasukan lain selain dari gaji,” jawab Kuasa Hukum Suci Rahayu, Akbarul Fajri.

Di hadapan hakim, Akbarul Fajri mengelaborasi kesaksian Abdullah, saksi yang meringankan terdakwa tersebut.

Di hadapan hakim, Abdullah pun mengaku saat masih menjabat sebagai perangkat desa, orangtua Suci sempat menjual tahan miliknya kepada desa dan tanah itu kemudian menjadi aset desa.

Menurutnya, desa tersebut membeli tanah itu senilai Rp 118 juta. 

"Saya tahu, karena menjadi saksi saat jual beli,” kata Abdullah. 

Sementara saksi Joni, yang mengaku sebagai tetangga Suci mengatakan, bahwa keluarga Suci merupakan keluarga yang biasa-biasa saja. 

Keluarga Suci hanya memiliki rumah semi permanen, dan kedua orangtuanya bekerja masing-masing, ayahnya sebagai pekebun, dan ibunya bekerja di kantor desa. 

"Apakah saksi penah melihat terdakwa dengan gaya hidup mewah? tanya kuasa hukum terdakwa.

"Saya tidak melihat gaya hidup mewah,” jawab Joni. 

Usai kuasa hukum, giliran majelis hakim memeriksa Joni.

"Saksi pernah bertemu dengan terdakwa,” tanya hakim pada Joni.

"Saya tidak pernah ketemu, karena saya pergi pagi dan pulang malam,” kata Joni yang sebelumnya mengaku rumahnya berhadap-hadapan atau beberapa meter saja dari rumah Suci.

"Sudah berapa lama tinggal di situ?” timpa hakim lagi. 

"Sejak tahun 2018, di mana awalnya saya tinggal di toko tempat saya kerja,” jawabnya.

"Apa pekerjaan terdakwa?” hakim melanjutkan pertanyaan.

"Saya tidak tahu, tapi kata orang, Suci ini bekerja di klinik milik dr. Ulfah,” kata Joni yang mengaku sebagai sekretaris pemuda gampong tersebut.

"Berapa banyak kendaraan yang dimiliki terdakwa?” kata hakim.

Joni pun mengaku tak mengetahuinya.

"Saksi paham dihadirkan sebagai apa?" timpa hakim.

"Saya tidak paham pak hakim.”

"Anda ini sebagai saksi, beri keterangan yang benar, pergi pagi pulang malam itu maksudnya apa?" tanya hakim.

"Saya bekerja pagi hari dan pulang malam,” jawab Joni.

"Ia, tapi Anda kan pasti pernah ketemu dan melihat bagaimana terdakwa, kendaraan apa, kesehariaannya bagaimana,” tawab hakim.

Hakim pun melanjutkan bertanya apakah Joni mengetahui jika Suci terlibat kasus penggelapan uang.

Joni pun mengaku mengetahuinya dari pemberitaan.

"Saksi, tadi saksi kata kan orangtua Suci keduanya bekerja, kerja apa?” kata hakim.

"Ayahnya kerja di kebun, ibu di kantor desa.” jawabnya.

"Dari mana saksi tau?” tanya hakim lagi.

"Saya sering lihat tiap pagi, ayah Suci pergi ke kebun.”

Tapi Joni seakan memastikan bahwa keluarga Suci adalah orang yang tak mampu. 

Menjawab pertanyaan hakim, Joni mengatakan bahwa keluarga Suci merupakan keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH), program pengentasan kemiskinan dari pemerintah.

"Ya pak, menerima PKH,” kata Joni. 

Hakim pun memberikan kesempatan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Banda Aceh untuk menanyai saksi.

"Saksi kenal dengan keluarga terdakwa?” tanya JPU Yuni Rahayu.

"Tidak begitu dekat, saya tidak kenal Suci, tahu namanya saja, tapi ibunya saya tahu pernah nyaleg dan gagal tahun 2019,” jawabnya. 

"Berapa penghasilan orang tua terdakwa?” tanya JPU lagi.

"Ayahnya saya tidak tahu, tapi ibunya sekitar Rp 500 ribu per bulan,” jawab Joni.

"Sering keluarga terdakwa membuat kenduri?” timpa JPU.

"Pernah, satu kali tahun 2019, saya hadir juga.” 

Majelis hakim kemudian menkonfrontir jawaban para saksi meringankan tersebut langsung kepada Suci Rahayu lewat video coference.

“Terdakwa apakah benar keterangan saksi?” tanya hakim.

Suci pun langsung menjawab, “Benar ibu hakim.”

Hakim, JPU, dan kuasa hukum kemudian bersepakat agenda sidang dilanjutkan dengan dengan pemeriksaan terdakwa.

"Terdakwa sejak kapan bekerja di klinik tersebut? “ tanya hakim.

Suci mengaku bekerja sejak 2014 yang awalnya sebagai bidan.

Mulai 2019, kata Suci, dia kemudian bertugas membantu praktek, termasuk sebagai asisten pribadi dan mulai dipercaya memegang uang yang merupakan pendapatan klinik.

"Sejak kapan terdakwa mengambil uang klinik untuk kepentingan pribadi?” tanya hakim.

Suci mengaku mulai menilep duit klinik tersebut sejak Maret 2020.

"Sejak 2020 awal mula Covid-19 di bulan Maret,” katanya. 

"Per hari, berapa juta terdakwa ambil?” tanya hakim.

"Saya hanya ambil Rp 100 dan 200 ribu, dari Maret hingga Desember 2020, untuk jajan," kilahnya.

Atas perbuatannya itu, Suci pun mengaku telah meminta maaf di selembar kertas. Kemudian bersama korban, dia pun pergi ke noratis untuk menguatkan surat pengakuan dan permintaan maaf itu," katanya.

Dalam sidang itu, Suci kemudian membatah sebagain keterangannya yang tertulis dalam Berita Acara Pemeriksaan saat di tingkat penyidik.

"Keterangan tidak semuanya benar di penyidik,” katanya.

"Benar saudara mengembalikan emas sepeda, tas, sepatu dan sertifikat dan barang lain yang sudah pernah ditunjukkan di persidangan, kepada buk Ulfah,” tanya hakim.

"Benar ibu, tapi tidak semuanya milik saya,” kilahnya. 

Hakim pun memberikan kesempatan pada JPU untuk memeriksa terdakwa. 

"Terdakwa benar buku ini milik saudara (sambil menunjukkan buku laporan keuangan klinik)?” tanya JPU.

"Benar bu, tapi bukan saya saja yang mencatat buku itu,” kilah Suci lagi.

"Jika dilihat semua tulisannya sama, jadi yang mana yang tidak terdakwa catat,” cecar JPU.

"Nama-namanya bukan saya yang catat, tapi uang saya yang catat,” katanya.

"Terdakwa mengambil uang setelah dicatat atau belum?” tanya JPU lagi.

"Sebelum dicatat, kemudian uangnya dimasukkan ke dalam lemari,” katanya.

"Setiap hari terdakwa melakukan pemotongan?” tanya JPU.

Suci pun mengatakan tidak setiap hari menilep uang dari klinik tersebut.

"Tidak setiap hari, jika butuh saja,” katanya.

Dia pun mengestimasi uang yang dia gelapkan tersebut senilai Rp 20 juta.

"Sudah beberapa banyak yang terdakwa ambil?” tanya JPU.

"Sekitar Rp 20 juta yang tersimpan.” 

"Yang nggak tersimpan?” tanya JPU.

Suci hanya terdiam hingga JPU menimpali, “Tidak terhitung lagi ya?” 

Terdakwa kemudian menjawab, “lupa.”

Hakim kemudian melanjutkan memeriksa Suci.

"Terdakwa ada punya akun Go-Food dan akun Shopee (sebuah marketplace)"? tanya hakim.

Suci pun menjawab benar.

"Bisa jelaskan transaksi yang mencapai Rp 600 juta lebih di akun terdakwa?” tanya hakim lagi.

Suci pun beralasan bahwa transaksi ratusan juga itu bukan semua miliknya.

"Itu bukan punya saya semua dan saya tidak mengingatnya lagi," jawabnya.

"Benar setiap hari terdakwa memesan makanan hingga Rp 300 ribu (menggunakan uang klinik)?” tanya hakim.

"Saya ada pesan tapi tidak setiap hari dan tidak sampai Rp 300 ribu,” jawab Suci.

"Terdakwa ada berangkat umroh?” tanya hakim.

"Ada bersama ibu saya tahun 2019, tapi itu pake uang pribadi,” jawab Suci. 

"Terdakwa berapa bersaudara?” tanya hakim. 

"Empat bersaudara, satu sudah selesai kuliah, satu lagi mau selesai dan yang lain masih SD,” katanya. 

Menjawab hakim, Suci mengaku ganjinya bekerja di klinik tersebut hanya Rp 2,2 juta per bulan.

“Berapa uang klinik yang saudara ambil?” tanya hakim lagi.

"Rp 200 ribu per hari dari Maret hingga Desember 2020, ibu,” jawabnya. 

“Terdakwa, Anda jangan berbohong, barang yang saudara kembalikan saja itu semuanya sangat mahal, tidak sesuai dengan gaji. Selain itu, belum lagi akun yang terdakwa miliki tercatat transaksi mencapai Rp 600 juta lebih,” tegas hakim.

Hakim juga mempertanyakan berapa biaya kuliah adik-adik terdakwa. 

Suci pun menjawab bahwa Rp 1,6 juta per semester dan adiknya tersebut mendapat beasiswa. 

"Kurun waktu dari 2019 hingga Desember 2021 terdakwa mengambil uang sekitar Rp 2 juta hingga 4 juta per hari?” tanya hakim.

Suci langsung membantah, “Tidak benar ibu.” 

"Apa Anda ini berbohong? 3/4 yang diminta kembalikan oleh korban apakah terdakwa bersedia?” timpa hakim lagi.

"Belum saya bicarakan dengan kuasa hukum,” kata Suci. 

Pengembalian kerugian, kata hakim, adalah itikad baik dan akan menjadi pertimbangan putusan. 

Lihat juga: Wow, Karyawan Kepercayaan Diduga Gelapkan Duit Klinik Hingga Rp 1 Miliar di Banda Aceh

“Seratus rupiah pun hak orang lain, harus lah dikembalikan, karena akan menjadi pertanggungjawaban nanti di akhirat. Terdakwa, saudara mengakui perbuatannya saudara?” tanya hakim.

"Saya akui perbuatan, tapi tidak mencapai Rp 1 miliar,” katanya. 

Usai mendengar seluruh keterangan Suci, hakim pun menunda sidang hingga Rabu, 14 April 2021 dengan agenda tuntutan.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...