Dianggap Tak Serius Perangi Narkoba, Bupati Aceh Tenggara Didemo Mahasiswa

Dianggap Tak Serius Perangi Narkoba, Bupati Aceh Tenggara Didemo Mahasiswa

BERITAKINI.CO, Kutacane | Puluhan mahasiswa dan pemuda dari Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) Aceh Tenggara berunjuk rasa di kantor bupati pada Jumat siang (16/10/2020).

Salah satu orator aksi, Arigandi mengatakan, aksi itu dilakukan menyikapi fenomena peredaran narkoba yang kian marak di Aceh Tenggara. Namun upaya pencegahan dirasakan belum maksimal.

"Tak kelihatan tindakan pemerintah daerah meminimalisir peredaran narkoba yang semakin marak ini," ujarnya.

Menurutnya, bahaya narkoba saat ini bukan lagi hanya menyasar orang dewasa. Tetapi telah merambat hingga ke kalangan siswa.

"Kami para mahasiswa dan pemuda alumni PMII siap membantu program pemerintah maupun aparat kepolisian memberantas narkoba," katanya.

Selain itu, kata dia, sebaiknya Pemkab Aceh Tenggara juga membangun gedung rehablitasi narkoba.

"Karena pemakai atau pecandu narkoba terus bertambah," kata Arigandi.

Tak lama beroarasi, massa akhirnya ditemui Asisten I Setdakab Aceh Tenggara Ali Surahman, Ketua harian BNK Riduan, dan Kabag Umum Setdakab Saiful Rahchaman.

Ketua BNK Aceh Tenggara Riduan di hadapan massa menjelaskan, Pemerintah Aceh Tenggara sebetulnya sudah mengusulkan pembentukan Badan Narkotika Nasional Kabupaten agar langkah-langkah penanganan peredaran narkoba bisa lebih efektif.

"Tetapi hal itu tidak terwujud karena ada moratorium dari pusat," katanya.

"Terkait dengan rencana gedung rehabilitasi narkoba itu sudah kami usulkan dengan bekerja sama salah satu yayasan. Mungkin saat ini masih ada kendala anggaran. Mudah-mudahan tahun depan bisa diwujudkan."

Dia juga mengungkapkan bahwa pada 2020 kantor BNK Aceh Tenggara tak memiliki anggaran sepeser pun.

"Jujur tahun ini, kantor BNK Aceh Tenggara yang saya pimpin tidak ada biaya seribu pun," katanya.

Dia juga menyadari bahwa saat ini terdapat sediktinya tiga jenis narkotika yang marak beredar di kabupaten itu yakni ganja, sabu dan pil ekstasi.

"Jika semua elemen masyarakat tak mau ikut berperan serta maka peredaran gelap narkoba di Aceh Tenggara tak akan bisa diminimalisir," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...