Defisit APBN Melebar, Tembus Rp135,8 Triliun per Semester I

Defisit APBN Melebar, Tembus Rp135,8 Triliun per Semester I
Menteri Keuangan Sri Mulyani. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A).

BERITAKINI.CO | Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melebar. Hingga semester I 2019, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,8 triliun atau 0,84 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, defisit APBN cuma Rp110,6 triliun atau 0,75 persen dari PDB. "Realisasi defisit, meski lebih dalam dari 2018, namun jauh lebih baik dibandingkan tahun 2017 dan 2016," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di DPR, Selasa (16/7).

Sekadar mengingatkan, defisit APBN pada paruh pertama 2016 dan 2017 masing-masing mencapai Rp230,7 triliun dan Rp175, 1 triliun.

Menurut Sri Mulyani, defisit APBN berasal dari pertumbuhan pendapatan negara yang lebih lambat dibandingkan belanja negara.

Konsekuensinya, keseimbangan primer atau pendapatan negara dikurangi belanja negara di luar pembayaran bunga utang tercatat minus Rp1 triliun.

Baca Juga : Sri Mulyani Siapkan Rp 10 Triliun untuk Kartu Pra Kerja Jokowi

Jika dirinci, realisasi pendapatan negara hingga 30 Juni 2019 sebesar Rp898,8 triliun atau 41,5 persen dari target Rp2.165,1 triliun. Secara tahunan, realisasi itu tumbuh 7,8 persen.

Pendapatan negara tersebut ditopang oleh penerimaan pajak sebesar Rp603,34 triliun atau 38,24 persen dari target Rp1.577,6 triliun. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, realisasi tersebut hanya tumbuh 3,7 persen.

Selain itu, pendapatan negara juga ditopang oleh penerimaan kepabeanan dan cukai yang melesat 18,97 persen secara tahunan menjadi Rp85,6, triliun. Capaian tersebut setara dengan 40,99 persen dari target Rp208,82 triliun.

Berikutnya, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) naik 18,2 persen menjadi Rp209,1 triliun. Meski harga komoditas turun, PNBP pada paruh pertama 2019 masih mendapat tambahan dari PNBP lain berupa sisa surplus Bank Indonesia (BI) yang mencapai Rp30 triliun.

Sementara, realisasi belanja negara tercatat Rp1.034,5 triliun atau tumbuh 9,6 persen dari pagu Rp2.461,11 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp630,57 triliun atau setara dengan 38,6 persen dari pagu tahun ini. Bila dibanding periode yang sama tahun lalu, realisasi tersebut tumbuh 12,9 persen.

Besaran pembiayaan berasal dari penerbitan surat berharga negara (neto) sebesar 195,7 triliun atau tumbuh 1,6 persen secara tahunan Sisanya, berasal dari pinjaman (neto) yang minus Rp20,4 triliun atau 68,7 persen dari perkiraan sepanjang tahun yang mencapai minus Rp29,7 triliun.

Hingga akhir tahun, pemerintah memperkirakan defisit anggaran akan mencapai 1,93 persen dari PDB atau lebih lebar jika dibandingkan targetnya tahun ini yang sebesar 1,84 persen dari PDB.

Realisasi tersebut berasal dari proyeksi pendapatan negara yang hanya sebesar Rp1.643,08 triliun atau 93,8 persen dari target. Sementara, belanja negara diperkirakan mencapai Rp2.341,57 triliun atau 95,1 persen dari pagu APBN 2019.

"Defisit 2019 sedikit lebih tinggi dari yang dianggarkan dalam undang-undang meskipun tidak terdeviasi terlalu jauh ini akibat tren pelemahan dari penerimaan dengan perekonomian yang mengalami tekanan," tandasnya. | CNNIndonesia

Komentar

Loading...