Debit Air Makin Minim, Petani di Pidie Dihantui Puso

Debit Air Makin Minim, Petani di Pidie Dihantui Puso
Kondisi air di Embung Paya Mee, Kecamatan Padang Tiji, yang menyusut drastis

BERITAKINI.CO, Sigli | Petani di Kabupaten Pidie kembali dihantui kekeringan dan terancam puso menyusul tidak ada pesokan air yang cukup untuk mengairi lahan persawahan.

Hamzah (43) warga Simpang Tiga mengatakan, sejak satu pekan terakhir debit air daerah aliran sungai di kawasan itu mulai berkurang, kondisi tersebut membuat petani tidak bisa mengairi puluhan hektar tanaman padi mereka.

“Sejumlah petani mulai pakai pompa untuk mengairi tanaman mereka, karena debit air di sungai sangat sedikit,” kata Hamzah, Selasa (14/1/2020).

Amatan BERITAKINI.CO, selain di Kecamatan Simpang Tiga, ancaman fuso tersebut juga menghantui sebagian petani di Kecamatan Kembang Tanjong, Peukan Baro, Batee, Grong-Grong, Padang Tiji dan Muara Tiga.

Kapala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Sofyan Ahmad mengakui ancaman puso akan menimpa petani di Kabupaten Pidie, jika saja dalam waktu dekat tidak turun hujan.

Data yang diperoleh dari penyuluh pertanian kecamatan, bahkan ada petani di daerah lahan tadah hujan tidak bisa mengolah tanah akibat tidak bisa mendapatkan air.

“Beberapa kecamatan malah tidak bisa tanam, karena hanya mengandalkan air hujan dan tidak ada irigasi teknis, seperti di Kecamatan Padang Tiji, Batee, Pidie, Grong-Grong, Tangse, Geumpang, Mane,” kata Sofyan.

Peran Dinas PUPR untuk mengatur dan melakukan pembagian air melalui buka-tutup pintu air, kata dia, juga dibutuhkan saat ini.

“Antisipasi lain, dengan mengaktifkan pompanisasi untuk lahan yang dekat dengan sumber air, seperti di sepanjang sungai Teupin Raya, Riro, Baro Raya, Batee untuk antisipasi,” paparnya.

Rubrik

Komentar

Loading...