Cewek Asal Abdya yang Buka Layanan Open BO di Banda Aceh Dicambuk

Cewek Asal Abdya yang Buka Layanan Open BO di Banda Aceh Dicambuk

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Kejaksaan Negeri Banda Aceh mengeksekusi cambuk dua terpidana pelanggar syariat, Rabu, 10 November 2021.

Keduanya adalah MA (20), perempuan asal Abdya; dan AM (23), asal Pidie.

Mereka ditangkap di Hotel Ayani, di kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Mahkamah Syar'iyah Banda Aceh memvonis keduanya sebanyak 17 kali cambuk.

Amatan BERITAKINI.CO, MA digelandang ke lokasi tersebut sekitar pukul 13.30 WIB menggunakan kendaraan tahanan kejaksaan.

Setiba di sana, MA langsung diberikan baju pesakitan berwarna putih lengkap dengan masker.

Dia juga sempat menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dieksekusi.

Sementara itu pasangannya AM tiba setengah jam kemudian. 

Berbeda dengan MA, AM tampak menggunakan pakaian tahanan berwarna orange sebelum diberikan baju persakitan.

AM menjalani eksekusi lebih dulu. Awalnya, eksekusi berjalan dengan lancar. 

Namun saat algojo mengayunkan cambukkan yang ke-10, AM tampak merintih kesakitan.

Algojo pun menghentikan cambukan untuk sementara. 

Petugas kemudian memberikan AM sedikit air untuk diminum. 

Setelah itu, dia kembali menjalani hukuman cambuk tersebut hingga selesai.

Selanjutnya, giliran MA yang menerima hukumannya. 

Di hadapan para tamu undangan, MA tampak berhasil menjalani eksekusi hingga cambukan yang ke-10.

Sama dengan pasangannya, ayunan itu dihentikan lantaran MA kesakitan. Setelah diberikan minum, algojo kembali melanjutkan tugasnya hingga selesai.

Untuk diketahui, pasangan tersebut ditangkap di Hotel Ayani, kawasan Peunayong, Kota Banda Aceh pada 21 Agustus 2021 lalu.

Saat itu tim gabungan dari Satpol PP WH dan TNI-Polri melakukan operasi di setiap kamar Hotel.

"Jadi waktu itu kita lakukan operasi mendadak lantaran ada laporan dari warga, pada salah satu kamar didapatilah pasangan ini sedang berduaan," kata Kasatpol PP dan WH Banda Aceh Ardiansyah.

Kemudian setelah diinterogasi perempuanya mengakui dia berprofesi sebagai penjaja seks komersil (PSK) yang beroperasi di wilayah Banda Aceh.

"Namun saat ditangkap dia mengakui bahwa belum sempat melakukan hubungan badan," katanya.

MA mempromosikan dirinya melalui aplikasi MiChat. 

Kasi Penyidikan Satpol PP dan WH Banda Aceh Zakwan menambahkan, MA mengakui bahwa dia mendapatkan pesanan hubungan badan melalui aplikasi tersebut.

"Juga diungkapkan tarifnya yakni Rp 1,5 juta untuk sekali kencan," kata Zakwan kepada wartawan, kemarin.

MA, kata Zahwan, harus terlebih dahulu menerima uang dari pelanggannya sebanyak Rp 1 juta sebelum melakukan hubungan badan.

"Sementara sisanya diterima setelah pekerjaan itu selesai," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...