Cara Sarianto Hasilkan Kakao Organik: Mutu Berkualitas, Harga Mahal

Cara Sarianto Hasilkan Kakao Organik: Mutu Berkualitas, Harga Mahal

Banda Aceh | Bertani secara organik ternyata bisa sangat yang menguntungkan. Seperti yang dilakukan Sarianto, petani kakao asal Saree, Kabupaten Aceh yang bisa menghasilkan kakao organik. Intip caranya yuk! 

Sarianto bercerita awal mulai dirinya menggeluti kakao dimulai dari kerjasama dengan Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh di tahun 2018, untuk mengatasi pengendalian hama dan penyakit. Alhamdulillah dari balai proteksi mendapatkan bantuan insektisida dan fungisida organik berupa metabolit sekunder APH.

Dalam tahun yang sama, dirinya juga berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan kota Sabang. Tujuannya tak lain hanya memproduksi biji kakao fermentasi yang berkualitas.

"Dalam proses fermentasi, ada tiga tahap yang harus dilakukan selain pemilihan buah yang bebas HPT dan masak sempurna, juga seleksi biji. Kemudian pada saat penjemuran agar diperoleh kadar air yang diinginkan, " ungkapnya 

Untuk memperoleh masak sempurna lanjutnya, membutuhkan waktu selama 4 bulan mulai umur berbunga hingga masa panen. "Sementara saat panen hingga menghasilkan biji fermentasi yang baik dilakukan penjemuran lebih kurang 10 hari, tergantung cuaca," sambungnya. 

Dari kerjasama tersebut dapat menghasilkan biji kakao fermentasi yang berkualitas 600 kg dan ditampung dengan harga Rp 40.000/kg."Kalau masalah harga kita tampung mulai Rp 25.000 - 40.000 per kilogram, jika mutunya bagus akan semakin mahal," bebernya. 

Setelah sukses mencoba sendiri, Sarianto juga melakukan pendampingan kepada petani pihaknya selalu mengawasi dengan baik, sehingga terbebas dari penggunaan bahan kimia. Kenapa disebut organik? Karena semuanya berasal dari bahan organik. "Pupuk, insektisida dan pestisida kami buat sendiri dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada disekitar," jawabnya. 

Untuk membuat pupuk organik sebenarnya sangat mudah dan bisa belajar dari chanel Youtube. "Untuk tanaman kakao saya menggunakan pupuk Bokasi yang terbuat dari kohe kambing 4 ton, dedak halus 20 kg, gula pasir 4 kg, mol 10 liter, dan sekam padi 1 ton. Selain bokasi pada tanaman kakao ditambah lagi NPK cair yang terbuat dari dedaunan (leguminosa dan daun bambu) sehingga menghasilkan Nitrogen. Kemudian bahan untuk pupuk Posfor dibuat dari pelepah dan batang pisang. Sementara Kalium dengan memanfaatkan sabut dan pelepah kelapa, " jelasnya. 

Selanjutnya bahan - bahan tersebut diolah, setiap 20 kg bahan, ditambahkan 50 liter dan 1 liter MOL serta gula pasir sebanyak 1 kg.

Sedangkan pembuatan insektisida katanya dapat dibuat dari daun sirsak, serai, jeruk purut, lengkuas dan pelepah jahe. Selanjutnya bahan tersebut diblender, setiap 50 kg bahan dicampur air sebanyak 50 liter.

Dosis yang disemprot pada tanaman kakao digunakan 100 cc dalam satu liter air. Jika menyemprot pakai tangki 15 liter inangnya hanya 1 - 1,5 liter. "Dalam satu tangki, dapat disemprot pada 25 batang tanaman kakao," jelasnya. 

Pada lahan seluas satu hektar terdapat 930 batang kakao dengan jarak tanam 3 x 4 meter. Walaupun dengan pemberian pupuk organik, saat panen bisa mencapai 1,8 - 2,2 ton per hektar/tahun. 

Usaha Maksimal

Dari usaha dan kerja kerasnya yang tak mengenal lelah, kini tanaman kakao organik di pemukiman Saree sudah berkembang menjadi 80 hektar dengan 60 petani. "Padahal sebelumnya hanya 10 orang petani saja yang terlibat dengan luasan 10 hektar," timpalnya. 

Strategi yang dilakukan selama ini hanya mempertahankan bobot biji yang berkualitas bukan memperbanyak buah. Dalam sembilan buah kakao biasanya menghasilkan satu kilogram biji basah, sedangkan untuk 1 kg biji kering diperoleh dari 27 - 30 buah kakao.

Jika dalam satu batang kita pertahankan 60 buah kakao yang bagus dapat menghasilkan dua kilogram biji kering. "Bobot biji yang dihasilkan pun meningkat yakni setiap 100 gram 95 - 97 biji kering," sebutnya. 

Kini dirinya bersama anggota kelompoknya selalu eksis melakukan pendampingan untuk menghasilkan biji Kakao fermentasi. Bahkan dari hasilnya  melakukan budidaya kakao organik dan menanam cabai merah, ia bisa membangun rumah dan membeli mobil. "Rumah dan mobil ini hasil jerih payah saya bertani," ujar Sarianto. 

Bahkan kebunnya kini menjadi percontohan karena sukses dalam pengendalian hama dan penyakit. "Selain petani dan penyuluh dari beberapa kabupaten, juga dikunjungi pejabat dari Provinsi," tutupnya mengakhiri.

Sarianto adalah pria gigih kelahiran Saree Aceh Besar 17 April 1978. Semangatnya saat awal bertani karena didukung sepenuhnya oleh keluarga, sehingga dapat menghemat upah kerja. "Sejak tahun 2008 saya bersama keluarga sudah mulai berkebun dan menanam kakao," kenangnya.

Sebelum menjadi pegawai negeri tahun 2004, selama dua tahun mengabdi sebagai tenaga honor di kota Sabang. Kemudian sejak tahun 2006 sampai sekarang menjadi teknisi di Balai Pengkajian Teknologi Perranian (BPTP) Aceh.

Menurutnya, orang yang sukses itu bukan karena bekerja sendiri tapi karena ada kerjasama sehingga berhasil bersama - sama.

Rubrik

Komentar

Loading...