Cara Ibu Muda di Aceh Menjalani Peran Orangtua Sekaligus Guru di Masa Pandemi

Cara Ibu Muda di Aceh Menjalani Peran Orangtua Sekaligus Guru di Masa Pandemi
Ilustrasi

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Laju penularan Covid-19 di Aceh belum juga terkendali. Kasus konfirmasi positif, kian hari terus meningkat.

Sejumlah pemerintah daerah pun meniadakan proses belajar mengajar secara tatap muka, sebagai langkah untuk menghindari terjadinya kontak sekaligus memutus rantai penularan.

Sebagai gantinya, para siswa diharuskan belajar dari rumah dengan sistem online.

Tapi fenomena ini akhirnya membuat sejumlah orangtua kelabakan. Terutama karena peran mereka bertambah: sebagai orangtua, sekaligus guru.

“Tak jarang, kondisi ini memicu stres,” kata Yurisa Hikmah (29), warga Kota Lhokseumawe, Senin (26/10/2020).

Meski begitu, kata Yurisma, orangtua harus bisa segera menyesuaikan diri.

Ketimbang terus menunggu dan berharap belajar tatap muka diaktifkan kembali, kata dia, ada baiknya segera menyusun program harian.

"Di masa pandemi ini, orangtua merangkap menjadi guru sudah tak bisa ditawar-tawar lagi. Itulah sebabnya, kita harus menyesuaikan diri dan segera menyusun langkah-langkah atau program harian,” kata Yurisma.

“Hal-hal yang sudah lazim dilakukan sebelum pandemi, seperti membiasakan anak untuk salat subuh, tak boleh berhenti.”

Sementara kegiatan mengaji, lanjut Yurisma, langsung diambil alih.

“Kita harus membimbingnya untuk terus mengaji. Di samping mendampingi dan mengajari anak untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru,” katanya.

“Terkadang, memang saya merasa seperti saya sedang bersekolah.”

Hal yang sama disampaikan Hefa Liza Yanti, warga Takengon, Kabupaten Aceh Tengah. Berperan sebagai orangtua sekaligus guru, kata dia, merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Terlebih jika orangtua memiliki anak lebih dari satu yang dalam usai sekolah.

"Saya harus memahami bahwa karakter setiap anak berbeda-beda. Cara mereka berhadapan, mencermati, dan menjawab tugas sekolah juga berbeda. Anak saya yang pertama, dia dapat dengan mudah memahami tugas oleh guru, hanya ketika dia butuh bantuan oleh orang tuanya baru dia akan bertanya. Sementara itu, anak saya yang kedua, memiliki karakter dan pemahaman tugas oleh guru dengan cara yang berbeda. Dia sangat imajinatif, aktif dan tidak bisa terlalu lama berkonsentrasi. Sehingga saya harus mendampingi proses belajarnya lebih lama dan Panjang,” jelasnya.

Orangtua, kata dia, juga harus lebih bersabar dalam hal ini.

“Karena, setiap anak itu unik dan dikaruniai kecerdasan yang berbeda-beda. Tidak bisa saya sebagai orang tua memaksakan kehendak dan kemampuan di luar batas anak. Dan Alhamdulillah, hal ini juga dapat terwujud berkat bekal ilmu parenting dan dukungan suami," ujarnya. | Fanny

Rubrik

Komentar

Loading...