Butuh Berapa Banyak Orang Kebal COVID-19 untuk Capai Herd Immunity?

Butuh Berapa Banyak Orang Kebal COVID-19 untuk Capai Herd Immunity?

BERITAKINI.CO, | Salah satu cara menyelesaikan pandemi corona adalah dengan herd immunity (kekebalan kelompok).

Herd immunity sendiri merupakan kondisi di mana sebuah populasi manusia sudah cukup kebal terhadap penyakit. Dengan demikian, penyebaran infeksi penyakit, seperti virus corona misalnya, dapat terhambat di populasi tersebut.

Untuk mencapai herd immunity dari COVID-19, bisa dilalui dengan cara vaksinasi atau terinfeksi corona. Keduanya sama-sama memberikan kekebalan dari COVID-19.

Di awal pandemi, para ahli epidemiologi memperkirakan setidaknya dibutuhkan 60-70 persen populasi yang kebal dalam suatu kelompok untuk menghentikan wabah COVID-19 di wilayahnya. Kisaran itu masih digunakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan sering diulang selama diskusi tentang perjalanan penyakit COVID-19.

Namun, tampaknya persentase kekebalan untuk mencapai herd immunity itu tidak ajek dan pasti. Baru-baru ini, penasihat pemerintah AS sekaligus direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Anthony Fauci, meningkatkan perkiraan herd immunity yang dibutuhkan AS untuk menyelesaikan pandemi corona.

Ahli tak tahu perkiraan pasti herd immunity

Pada awal pandemi, Fauci sering mengutip perkiraan 60 hingga 70 persen, sama seperti yang dilakukan sebagian besar ahli kesehatan. Namun, perkiraannya mulai berubah dalam beberapa bulan terakhir.

Pada November 2020 lalu, misalnya, dia mulai mengatakan dibutuhkan setidaknya "70 hingga 75 persen" untuk mencapai herd immunity. Pada pekan lalu, dalam sebuah wawancara dengan CNBC News, dia mengatakan proporsi kekebalan perlu mencapai "75, 80, 85 persen" dan "75 hingga 80 lebih persen."

Fauci menjelaskan, meningkatnya perkiraan persentase kekebalan yang dia buat didasari dari survei berapa banyak orang yang mau dan bakal menerima vaksin corona di AS.

“Ketika jajak pendapat mengatakan hanya sekitar setengah dari semua orang Amerika yang akan menerima vaksin, saya mengatakan kekebalan kawanan akan memakan waktu 70 hingga 75 persen,” kata Fauci, dikutip The New York Times.

“Kemudian, ketika survei yang lebih baru mengatakan 60 persen atau lebih akan menerimanya, saya berpikir, 'Saya bisa sedikit mendorong ini,' jadi saya beralih ke 80, 85.”

Dengan meningkatkan persentasenya, Fauci hendak menyampaikan pesan sulit bahwa untuk kembali normal, mungkin membutuhkan waktu lebih lama dari yang kita bayangkan.

Di AS sendiri, sentimen masyarakat terhadap vaksin telah melonjak naik turun tahun ini. Namun, survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar 20 persen orang Amerika mengatakan mereka tidak mau menerima vaksin apa pun, menurut laporan The New York Times.

“Kita perlu memiliki kerendahan hati di sini,” kata Fauci. “Kami benar-benar tidak tahu berapa bilangan aslinya. Saya pikir kisaran sebenarnya adalah antara 70 hingga 90 persen. Tapi, saya tidak akan mengatakan 90 persen. "

Fauci menjelaskan, angka herd immunity di kisaran 90 persen atau lebih tak diperlukan untuk corona. Kata dia, kisaran tersebut lebih cocok untuk mengantisipasi penularan penyakit lain yang lebih menular seperti campak.

Senada dengan Fauci, ahli epidemiologi di T.H. Chan School of Public Health Harvard, Marc Lipsitch, juga mengatakan bahwa dirinya tak mengetahui angka pasti persentase orang yang perlu kebal untuk menciptakan herd immunity.

“Beri tahu saya angka apa yang harus dimasukkan ke dalam persamaan saya, dan saya akan memberikan jawabannya,” kata Lipsitch. “Tapi Anda tidak bisa memberi tahu saya jumlahnya, karena tidak ada yang tahu.”

Estimasi para ahli epidemiologi mengenai tingkat kekebalan kelompok yang diperlukan untuk mengalahkan virus corona juga datang dengan peringatan: semua jawaban hanyalah "perkiraan", menurut Lipstich.

Adapun Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dengan tegas menyatakan tak ada ahli yang tahu berapa perkiraan pasti herd immunity untuk virus corona.

“Para ahli tidak tahu berapa persen orang yang perlu divaksinasi untuk mencapai kekebalan kawanan terhadap COVID-19,” kata CDC dalam situs web mereka. “Persentase orang yang membutuhkan perlindungan untuk mencapai kekebalan kelompok bervariasi menurut penyakit.”

Bagaimana cara memperkirakan herd immunity?

Meski disebut “perkiraan”, para ahli epidemiologi sebenarnya tak asal menduga-duga. Mereka memiliki rumus untuk menghitung estimasi kekebalan yang dibutuhkan untuk mencapai herd immunity. “Kita punya rumusnya,” kata epidemiolog Universitas Griffith, Dicky Budiman kepada kumparanSAINS, Minggu (27/12).

Dicky menjelaskan, rumus dan formula untuk menghitung herd immunity dipengaruhi oleh tiga faktor: Adanya vaksin yang aman dan efektif, angka reproduksi yang ideal serendah mungkin, dan cakupan vaksinasi di sebuah penduduk.

“Yang sering jadi diskusi banyak orang adalah dua itu lupa, efikasi vaksin dan angka reproduksi. Bukan lupa, mungkin tidak tahu,” kata Dicky. “Nah, berapa persennya itu kan hasil hitungan. Semakin rendah angka reproduksinya, semakin tinggi efikasi, efektivitas dari vaksinnya, akan semakin rendah cakupan penduduk yang harus divaksinasi.”

Dicky mengingatkan, ketiga faktor tersebut diperlukan untuk mencapai herd immunity. Menurutnya, vaksinasi hingga 90 persen penduduk Indonesia pun bakal gagal menciptakan herd immunity kalau vaksin yang dipakai tak efektif dan angka reproduksinya masih tinggi.

Perkiraan awal bahwa 60-70 persen penduduk perlu kebal demi mencapai herd immunity sendiri didasarkan pada data awal dari China dan Italia, menurut laporan The New York Times.

Ahli epidemiologi yang mengamati seberapa cepat kasus berlipat ganda dalam wabah tersebut menghitung bahwa jumlah reproduksi virus, atau R0. Angka reproduksi itu menjelaskan berapa banyak korban baru yang terinfeksi setiap pembawa.

Dari pengamatan para ahli di awal pandemi, angka reproduksi virus corona berkisar di angka 3. Artinya, dua dari tiga calon korban harus menjadi kebal sebelum setiap pembawa virus menginfeksi kurang dari satu. Ketika setiap pembawa menginfeksi kurang dari satu korban baru, wabah perlahan-lahan menghilang.

Nah, dua dari tiga adalah 66,7 persen. Sehingga, para ahli menetapkan kisaran 60 hingga 70 persen untuk herd immunity.

Namun, perkiraan awal dari Wuhan dan Italia kemudian direvisi naik, kata Lipsitch, begitu para ilmuwan China menyadari bahwa mereka salah menghitung jumlah korban gelombang pertama. Diperlukan waktu sekitar dua bulan untuk memastikan bahwa ada lebih banyak orang tanpa gejala yang juga menyebarkan virus.

Selain itu, kurang disiplinnya masyarakat memungkinkan adanya penyebar super (superspreader). Istilah superspreader sendiri merujuk pada peristiwa di mana satu orang menginfeksi lusinan atau bahkan ratusan orang lainnya.

Peristiwa superspreader sendiri memainkan peran penting dalam persebaran virus corona. Peristiwa ini umumnya terjadi ketika orang berkumpul-kumpul tanpa memakai masker dan menjaga protokol kesehatan.

Lalu, ada pula varian baru virus corona yang membuatnya jadi lebih mudah menular. Varian ini di antaranya adalah D614G atau B.1.1.7 yang baru-baru ini muncul di Inggris.

Meskipun WHO kadang-kadang masih mengutip perkiraan 60-70 persen untuk mencapai herd immunity, direktur imunisasi di sana, Katherine O’Brien, mengatakan bahwa dia sekarang mengira kisaran itu terlalu rendah. Meski demikian, O’Brien menolak untuk memperkirakan persentase penduduk untuk mencapai herd immunity.

“Kami akan bersandar pada buluh yang sangat tipis jika kami mencoba mengatakan tingkat cakupan vaksin yang diperlukan untuk mencapainya,” katanya kepada The New York Times. “Kita harus mengatakan kita tidak tahu. Dan itu tidak akan menjadi angka dunia atau bahkan nasional. Itu akan tergantung pada komunitas tempat Anda tinggal. ”

Rubrik
Sumber
kumparan

Komentar

Loading...