Benarkah Hubungan Intim Suami Istri di Malam Jumat Sunah Rasul?

Benarkah Hubungan Intim Suami Istri di Malam Jumat Sunah Rasul?

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Sering kita mendengar kalau bercinta atau berhubungan intim pada malam Jumat adalah sunah Rasulullah.

Dalam kitab Ihya' Ulumiddin disebutkan sebuah riwayat:

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa, “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli (Jima') istrinya, maka jima'nya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki yang berperang (dengan Kaum Kuffar) di jalan Allah lalu terbunuh."

Meskipun riwayat tersebut dinilai tidak ada asalnya oleh Al-Iraqi, tapi paling tidak riwayat dalam kitab ini yang menjadi pijakan masyarakat demi menggalakkan Jima' yang juga salah satu sunnah Rasul di malam Jumat, demikian seperti yang dijelaskan oleh Imam Ghazali.

"Dan ada sebagian ulama yang menyukai jimak (bercinta) pada hari dan malam Jumat, sebagai aplikasi dari salah satu takwil hadits, 'Allah merahmati orang yang membersihkan dan mandi (pada hari jumat)'."

Demikian juga dalam syarah Sunan At-Tirmidzy disebutkan:

"Dan dengan sabdanya “mandi” (pada hari Jumat), yaitu memandikan seluruh badannya, dan dikatakan pula maknanya adalah menjimak (menggauli) istrinya."

Jimak atau hubungan seks dalam pandangan Islam bukanlah aib dan hina yang harus dijauhi oleh seorang muslim yang ingin menjadi hamba yang mulia di sisi Allah.

Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa seks atau hubungan badan di jalan yang benar akan mendatangkan pahala besar.

Diriwayatkan dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Dan pada kemaluan (persetubuhan) kalian terdapat sedekah. Mereka (para sahabat) bertanya, 'Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kami yang menyalurkan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?' Beliau bersabda, 'Bagaimana pendapat kalian seandainya hal tersebut disalurkan pada tempat yang haram, bukankah baginya dosa? Demikianlah halnya jika hal tersebut diletakkan pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala." (HR. Muslim).

Di dalam perkawinan terdapat kesempurnaan hidup, kenikmatan dan kebaikan kepada sesama.

Ibnul Qayyim, sebagaimana yang dinukil oleh Al-Istambuli dalam Tuhfatul 'Arus, mengatakan, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajak kepada umatnya agar melaksanakan pernikahan, senang dengannya dan mengharapkan (padanya) suatu pahala serta sedekah bagi yang telah melaksanakannya."

Selain itu, mendapatkan pahala sedekah, mampu menenangkan jiwa, menghilangkan pikiran kotor, menyehatkan menolak keinginan-keinginan yang buruk."

Kesempurnaan nikmat dalam perkawinan dan jimak akan diraih oleh orang yang mencintai dan dengan keridlaan Rabb (Tuhan) dan hanya mencari kenikmatan di sisinya serta mengharapkan tambahan pahala untuk memperberat timbangan kebaikannya.

Karena itu yang sangat disenangi setan adalah memisahkan suami dari kekasihnya dan menjerumuskan keduanya ke dalam tindakan yang diharamkan Allah.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Iblis membangun istana di atas air (tipu muslihat), kemudian menyebarkan istananya itu kepada manusia. Lalu iblis mendekatkan rumah mereka dan membesar-besarkan keinginan (hayalan) mereka.

Kenapa Iblis begitu bersemangat untuk menjerumuskan orang ke dalam perzinaan dan perceraian? Karena pernikahan dan berjimak dalam balutan perkawinan adalah sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.
Makanya hal ini sangat dibenci oleh musuh manusia. Ia selalu berusaha memisahkan pasangan yang berada berada dalam naungan ridla ilahi dan berusaha menghiasi mereka dengan segala sifat kemungkaran dan perbuatan keji serta menciptakan kejahatan di tengah-tengah mereka.

Untuk itu, hendaknya bagi suami-istri agar mewaspai keinginan setan dan usahanya dalam memisahkan mereka berdua.

Seorangsuami dalam aktivitasnya bersama istrinya akan mendapatkan kenikmatan melalui dua arah.

Pertama, dari sisi kebahagiaan suami yang merasa senang dengan hadirnya seorang istri sehingga perasaan dan juga penglihatannya merasakan kenikmatan tersebut.

Kedua, dari segi sampainya kepada ridla Allah dan memberikan kenikmatan yang sempurna di akhirat.

Karena itu, sudah selayaknya bagi orang berakal untuk menggapai keduanya. Bukan sebaliknya, menggapai kenikmatan semu yang beresiko mendatangkan penyakit dan kesengsaraan serta menghilangkan kenikmatan besar baginya di akhirat.

Rubrik

Komentar

Loading...