Begini Kisah Tewasnya Muslem Diamuk Gajah Liar di Pedalaman Pidie Jaya

Begini Kisah Tewasnya Muslem Diamuk Gajah Liar di Pedalaman Pidie Jaya
Darussalam, korban selamat dari amukkan gajah liar.

BERITAKINI.CO, Sigli | Untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Pepatah ini pantas disematkan pada Muslim (45), korban amuk gajah liar di puncak Gunung Palang Pantee Breuh Abak Lung, Jijiem, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Rencana untuk mencari penghasilan dari hutan, justru berakhir dengan kehilangan nyawa.

Darussalam (23), salah seorang yang ikut bersama Muslim menuju hutan belantara itu mengatakan, mereka berencana berada di hutan selama satu minggu. Tujuannya untuk mencari burung dan kayu yang mempunyai nilai ekonomis. “Untuk memenuhi kabutuhan keluarga,” kata Darusslam., Minggu (22/1/2017).

Baca: Sempat Dikejar Gajah Liar, Warga Pidie Ditemukan Meninggal di Hutan

Setelah semua perbekalan mereka siapkan, ketiganya berangkat. Selasa, (17/1/2017), setelah beberapa hari di dalam hutan, ternyata rezeki yang didapat belum menggembirakan.

Muslim, kata Darussalam,  memutuskan kembali ke kampung.

Hari itu, waktu masih menunjukkan pukul 17:00 WIB, namun pengunungan mulai diselimuti kabut tebal. Sehingga mengganggu jarak pandang di jalan setapak yang mereka lalui. Pukul 18:00 WIB cuaca sudah benar-benar gelap.

Muslem, kata Darusslam, berjalan tiga meter lebih dulu di depan dia dan Wandi, rekan mereka lainnya.

Tiba-tiba, Muslim telah berhadapan dengan kawanan gajah liar. “Jaraknya hanya sekitar satu meter,” kata Darusslam.

Spontan, Muslem berteriak sekuat-kuatnya dan langsung diikuti aungan gajah tersebut.

Darussalam dan Wandi langsung pontang pantih mendengar teriakan Muslim. Mereka berpencar untuk menyelamatkan diri.

Darussalam mengaku sempat menoleh kebelakang melihat Muslem di hadapan gajah itu. Lantaran panik, Darussalam memilih menyelamatkan diri dan berharap Muslem akan baik-baik saja.

Setelah beberapa saat, suasana kembali hening. Wandi memanggil-manggil Muslim, namun tidak ada sahutan. “Saya mendengar suara Wandi, kamipun bertemu dan mencari Muslim di lokasi kejadian namun tidak ada,” kata Darussalam.

Setelah lama mencari dan lelah mereka memilih mendirikan kemah dari plastik yang sudah disiapkan sejak pergi tersebut tidak jauh dari lokasi kejadian, dengan harapan dapat berjumpa dengan Muslim besok pagi.

Keesokan hari, Darussalam dan Wandi kembali melakukan pencarian, namun tidak membuahkan hasil. Mereka kemudian memutuskan turun gunung dan pulang ke kampung untuk melapor kepada keluarga.

Setelah menempuh perjalan hampir 11  jam, Rabu (18/01/2017) malam, mereka sampai di Kemukiman Jijim, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Darussalam langsung menelpon pembeli burung agar menjemputnya di kawasan tersebut dan mengantarkan ke rumah Muslim untuk melaporkan kejadian tersebut.

Jumat (20/01/2017), 11 warga Tiro yang dipimpin Ridwan Usman dan satu warga Jijim, Pidie Jaya menyisir lokasi kejadian di Gunung Palang dengan jarak tujuh jam perjalanan mendaki. Tiga meter dari lokasi amukan gajah, Muslim ditemukan tergeletak tidak bernyawa di bawah pohon besar.

“Jenazah Muslim ditemukan diakar pohon besar dalam kondisi tidak bernyawa tidak jauh dari lokasi kejadian. Di tubuh korban ada bekas tusukan gading gajah, tangannya patah dan leher depat dada jenazah juga memar bekas injakan gajah, bawaan seperti panci, tempat air remuk semua”, kata Ridwan.

Jenazah Muslim dimandikan, dikafani dan salatkan di Tiro sebelum dibawa pulang ke kampung istrinya di Sibreh, Aceh Besar untuk dikebumikan.(*)

Rubrik

Komentar

Loading...