Begini Gagasan Dr. Syahrul Jadikan Unsyiah Universitas Kelas Dunia

Begini Gagasan Dr. Syahrul Jadikan Unsyiah Universitas Kelas Dunia

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Dr. Syahrul SpS-(K) mengatakan, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) akan tetap seperti saat ini, bahkan hingga 20 tahun ke depan, jika tak cepat melakukan pembenahan.

“Jika tak dilakukan dengan cepat, 20 tahun lagi Unsyiah tetap tidak akan masuk ke World Class University,” katanya saat berbicara di acara silaturahmi dengan sejumlah tokoh Aceh di Ballroom Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, kemarin.

Baca: Maju Sebagai Bakal Calon Rektor, Dr. Syahrul Ingin Bawa Unsyiah Masuk World Class University

Lantas apa yang akan dilakukan Syahrul agar Unsyiah bisa masuk dalam kategori unversitas kelas dunia?

“Intinya hanya tiga, Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Ini harusnya terintegrasi, tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” katanya di hadapan hadirin.

“Unsyiah tambah satu lagi, Jantong Hate (jantung hati). Nah, bagaimana membuat Unsyiah ini masuk ke dalam jantung hati masyarakat Aceh.”

Syahrul juga mengungkapkan kondisi Unsyiah saat ini. Untuk Dharma Pendidikan, katanya, tak berjalan optimal lantaran kondisi SDM yang masih relatif minim.

“Kita punya mahasiswa hampir 25 ribu, dosen 1.502 orang, 131 prodi, dan 13 fakultas. Nah, berapa orang guru besar? Hanya 48 guru besar,” ungkapnya.

Semestinya, kata Syahrul, dengan 131 program studi, harusnya ada 131 guru besar.

"Banyak sekali yang kurang, tidak mungkin kita masuk World Class University karena jika merujuk pada syarat SDM, kita berada di papan bawah," katanya.

Itulah sebabnya, harus dilakukan percepatan dan pemerataan. Saat ini, kata Syahrul, guru besar hanya ada di beberapa fakultas, seperti di pertanian dan ekonomi.

“Jadi proses-proses untuk menjadi guru besar itu sangat penting. Total ada 486 S3 saat ini. Minimal ada 25 per tahun yang jadi profesor,” katanya.

Dengan kekuatan SDM ini, kata Syahrul, maka akan muncul kualitas pengajaran sehingga tercipta lulusan yang memiliki kekuatan akademik dan kemampuan untuk bekerja secara efektif.

Kemudian bagaimana dengan Dharma Penelitian? “Bagaimana mahasiswa S3 bisa jadi profesor sementara minat penelitiannya tidak ada,” katanya.

Itulah sebabnya, kata Syahrul, untuk penelitian, minimal satu lulusan dianggarkan Rp 1 miliar. “Jadi kalau ada 48 profesor, maka Rp 48 miliar akan disediakan,” katanya.

“Jadi ada 1 profesor, didukung sekira 5 doktor, ada yang S2 dan S1. Jadi mahasiswa bisa ikut terbantu, dia bisa ikut penelitian.”

Dengan begitu, mereka akan melakukan penelitian yang dapat memecahkan persoalan-persoalan masyarakat.

“Misal, meneliti apa sesungguhnya persoalan di wilayah tengah, pesisir dan barat-selatan Aceh. Hasil penelitain itu nanti bisa kita sinerjikan dengan pemerintah,” katanya.

Nah, tri dharma ini harus benar-benar disusun secara baik, direalisasikan maksimal dan cepat. “Jika tak dilakukan dengan capat, 20 tahun lagi Unsyiah juga tetap seperti ini," katanya.(*)

Rubrik

Komentar

Loading...