Bank Aceh Syariah Diminta Restrukturisasi Manajemen, Terutama Posisi Ini

Bank Aceh Syariah Diminta Restrukturisasi Manajemen, Terutama Posisi Ini

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Pemerintah Aceh sebagai pemegang saham pengendali PT Bank Aceh Syariah menyarankan agar bank milik daerah itu melakukan benah-benah, terutama untuk mempercepat akselerasi bisnis perusahaan. 

Saran itu disampaikan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah usai melantik Haizir Sulaiman sebagai Direktur Utama Bank Aceh Syariah, di Pendopo Gubernur Aceh, Senin pagi (8/10/2018).

“Beberapa saran untuk pengembangan dan perbaikan, pertama perlu adanya koordinasi dan komunikasi lintas direktorat yang masih lemah dan cenderung berjalan parsial, atau kerja sendiri-sendiri,” kata Nova Iriansyah.

Baca: Pemerintah Aceh Sorot Lemahnya Kinerja Pembiayaan Bank Aceh Syariah

Di samping itu, kata Nova, Bank Aceh juga perlu meningkatkan kinerja kepatuhan dan IT supaya lebih optimal. “Khusus IT, penerapannya tentu sebuah keniscayaan,” katanya.

Selain itu, kata Nova, Bank Aceh Syariah juga perlu melakukan restrukturisasi manajemen, terutama pada direktorat bisnis, kepatuhan, dan IT, agar pengembangan bisnis dapat dipacu.

Baca: Haizir Sulaiman Resmi Jabat Direktur Utama Bank Aceh

“Selain itu, perlu ada penguatan dan restrukturisasi dewan komisaris yang memiliki visi dan misi yang sama baik dalam mengelola dan mengawasi bisnis perbankan,” kata Nova.

Hal ini penting. Sebab, kata Nova, awal 2020 mendatang akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean yang juga akan berdampak pada sektor perbankan.

“Karena itu manajemen Bank Aceh harus sejak dini melakukan penyesuaian, terutama IT, produk perbankan, tenaga profesional, dan seluruh elemen pendukung agar kita mampu bersaing,” katanya.

Sebelumnya, Nova mengapresiasi Bank Aceh yang telah banyak mengukir prestasi sejak didirikan.

Prestasi yang telah diraih, katanya, hendaknya menjadi acuan dan lompatan bagi Bank Aceh agar lebih signifikan ke depan.

"Agar keberadaan Bank Aceh terasa manfaat dan maknanya, dan secara terukur mencetak banyak pengusaha dan saudagar, khususnya putra Aceh," kata Nova.

Sampai September 2018, kata Nova, total aset Bank Aceh telah mencapai Rp 24,7 trilun.

Bank Aceh berhasil menghimpun dana pihak ketiga sebesar Rp 21,7 trilun, dan pembiayaan Rp 13 triliun, dengan penyertaan modal Rp 1,04 triliun rupiah.

Perolehan laba juga cukup menggemberikan mencapai Rp 422 miliar, demikian juga dengan rasio kecukupan modal mencapai 18,66 persen, jauh melampai batas yang disyaratkan regulator sebesar 8 persen.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa Bank Aceh semakin kuat dan handal berkat dukungan dan kepercayaan nasabahserta stakeholder lainnya. Kita berharap trend positif ini terus bertahan dan dipertahankan," kata Nova. (Adv)

Rubrik

Komentar

Loading...