Banggar DPRA Juga Soroti Proyeksi Nilai Defisit dan Silpa Tahun 2019

Banggar DPRA Juga Soroti Proyeksi Nilai Defisit dan Silpa Tahun 2019
Juru Bicara Banggar DPRA Abdurrahman Ahmad

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Salah satu komponen yang menjadi sorotan Badan Anggaran (Banggar) DPRA atas Rancangan Qanun (Raqan) Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA 2019 adalah proyeksi Tim Anggaran Pemerintah Aceh atas nilai defisit dan Silpa.

Ini karena selisih antara yang direncanakan dengan realisasi sangat timpang.

"Anggaran setelah perubahan APBA menetapkan besaran Defisit Rp 1.635.379.286.181, namun yang terealisasi hanya sebesar Rp 35.082.483.838," kata Juru Bicara Banggar DPRA, Abdurrahman Ahmad saat menyampaikan laporan banggar dalam rapat paripurna, Senin, 9 November 2020.

"Artinya, anggaran Defisit lebih besar daripada realisasi Defisit. Jika dibandingkan dengan besaran Defisit tahun 2018, terjadi penurunan sangat besar."

Banggar pun meminta Gubernur Aceh untuk menjelaskan mengapa nilai defisit memiliki selisih sangat jauh antara yang direncanakan dan realisasinya.

"Apakah ini menggambarkan ketidakseriusan/ketidakmampuan Pemerintah Aceh dalam memprediksi Pendapatan dan Belanja dalam APBA-P TA 2019?" kata Abdurrahman.

Banggar juga mengoreksi nilai Silpa yang dicantumkan dalam Raqan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBA 2019 tersebut.

Adapun yang diproyeksikan, Silpa 2019 sebesar Rp 1.247.078.678.761, namun terealisasi dua kali lipat menjadi Rp 2.846.141.906.063 atau 228,22 persen.

"Selisih antara yang direncanakan dan yang terealisasi mencapai dua kali lipat mencerminkan ketidak-akuratan dalam memprediksi sisa uang pada akhir tahun," katanya.

Banggar pun meminta gubernur Aceh untuk menjelaskan mengapa begitu jauh selisih antara prediksi Silpa dalam APBA-P yang ditetapkan pada 9 Oktober 2019 dengan realisasi Silpa sampai tanggal 31 Desember 2019.

"SKPA yang mana saja yang memberikan sumbangan terbesar untuk Silpa tersebut? Berapakah jumlah Silpa yang merupakan sisa anggaran yang harus dilanjutkan pengerjaan proyeknya di tahun 2020 sebagai kegiatan lanjutan (DPA-L SKPA)? Apakah seluruhnya dalam bentuk Konstruksi Dalam Pengerjaan (KDP)?" katanya. | M Husaini Dani

Rubrik

Komentar

Loading...