Bandar Sabu di Aceh Dituntut Hukuman Mati, Tapi Tidak Mati-mati

Bandar Sabu di Aceh Dituntut Hukuman Mati, Tapi Tidak Mati-mati

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Sepanjang tahun 2018 BNNP Aceh berhasil menggagalkan peredaran gelap narkoba dalam jumlah besar. Bandar serta kurir narkoba ikut diciduk.

Dalam proses hukum, para bandar narkoba itu semuanya dituntut dengan hukuman maksimal hingga hukuman mati.

Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol Faisal Abdul Naser menyebutkan, sepanjang tahun 2018 ada 26 berkas perkara yang menyeret bandar narkoba semuanya dituntut dengan hukuman mati.

Meski semua bandar narkoba itu dituntut hukuman mati, kata dia, namun proses hukumnya tidak berjalan sesuai dengan harapan. Dari 26 perkara itu, kata dia, baru satu perkara telah vonis mati, namun terdakwa melakukan banding.

"Yang sudah kami tangkap 125 kilo sabu itu juga kita minta semuanya hukuman mati. Kita koordinasi juga bagus dengan kejaksaan. Malah diputus bukan hukuman mati. Jadi nggak mati-mati dia,” kata Faisal.

“Yang kita minta supaya PK-nya (peninjauan kembali) nggak turun, malah turun. Yang hukman mati bisa turun 20 tahun. Bayangin, bukan turun ke bawah seumur hidup, ya. Yang di dalam yang mesannya 20-72 kilo sabu atas nama Ramli itu tidak mati-mati.”

Menurut Faisal, setiap bandar narkoba yang telah ditangkap oleh jajarannya itu, dipastikan mendapat tuntutan hukuman seberat-beratnya, karena peredaran gelap narkoba masuk dalam kategori kejahatan luar biasa.

“Saya juga telah meminta kepada pimpinan untuk bekerja sama dengan Mahkamah Agung, meminta setiap bandar narkoba ini agar dihukum seberat beratya. Kedua, yang ditangkap di Aceh jangan dibawa lagi ke Aceh atau ditahan di Aceh, bisa ditahan di Nusakambangan atau di LP lain,” kata Faisal.

Sementara itu, pada tahun 2019 ini BNNP Aceh telah menggagalkan penyeludupan 131 kilogram narkoba jenis sabu yang dikirim dari jalur laut.

Rubrik

Komentar

Loading...