Asteroid Apollo Dekati Bumi Ramadhan Ini, Apakah Bakal Meledak seperti 2013?

Asteroid Apollo Dekati Bumi Ramadhan Ini, Apakah Bakal Meledak seperti 2013?
Meteor Chelyabinsk meledak di langit Rusia pada 15 Februari 2013. Pernah menjadi bagian batu yang sama dengan sebuah asteroid berjenis Apollo. Foto: Wikimedia Commons

BERITAKINI.CO | Setelah asteroid 1998 OR2 melintas dekat Bumi pada 29 April lalu, selanjutnya giliran asteroid 2016 HP6 yang menyusul. Benda langit yang tergolong asteroid jenis Apollo ini diprediksi akan mendekati Bumi pada 8 Mei 2020, pukul 02.28 WIB.

Jika asteroid 1998 OR yang dijuluki “asteroid masker” melintas sejauh 6,3 juta kilometer dari Bumi (setara 16 kali jarak Bumi-Bulan), jarak lintas asteroid Apollo dengan Bumi lebih dekat lagi, yaitu 1,66 juta kilometer (setara 4,33 jarak Bumi-Bulan). Asteroid ini diprediksi bakal melesat dengan kecepatan 5,72 kilometer per detik.

Lalu, apakah asteroid ini akan membahayakan Bumi? Tenang saja, karena ternyata jaraknya cukup jauh sehingga tidak akan berdampak pada planet kita tercinta.

“Tidak akan membahayakan Bumi karena melintas jauh, melebihi jarak Bumi-Bulan. Sama sekali tidak berdampak pada Bumi,” ujar Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), saat dihubungi kumparanSAINS, Sabtu (25/4).

Meski begitu, beberapa asteroid Apollo bisa menjadi ancaman bagi penduduk Bumi jika melintas dengan jarak yang sangat dekat. Peristiwa ledakan meteor Chelyabinsk, misalnya, terjadi karena jarak lintas meteor sangat dekat dengan Bumi, sehingga memasuki atmoster Bumi dan meledak di langit Rusia pada 15 Februari 2013.

Menurut laporan The Guardian, meteor Chelyabinsk kemungkinan pernah menjadi bagian dari batu yang sama dengan asteroid 86039, golongan Apollo, yang mengorbit dekat dengan Bumi. Meteor ini berukuran 20 meter dan melesat dengan kecepatan 19,3 kilometer per detik sebelum pecah berhamburan di langit Rusia, pada ketinggian 45 kilometer.

Para ilmuwan menyebut, ledakan meteor melepaskan sekitar 500 kiloton energi atau setara 33 kali energi yang dilepaskan bom atom Hiroshima. Pada titik paling intens, bola api yang dihasilkan meteor bersinar 30 kali lebih terang dari Matahari, sehingga masih terlihat sampai sejauh 100 kilometer. Orang-orang yang tinggal di daratan di bawahnya menderita luka bakar di kulit dan retina.

Kala itu, penduduk setempat kalang kabut. Peristiwa jatuhnya meteor ini tak terdeteksi badan antariksa Rusia. Peristiwa ini berimbas kehancuran di sejumlah lokasi. Ledakan meteor memecahkan jendela di lebih dari 3.600 blok apartemen. Bahkan atap sebuah pabrik pun ambruk.

Setidaknya ada 1.210 orang mengalami luka-luka, kebanyakan karena tertimpa puing-puing bangunan yang hancur serta terkena pecahan kaca jendela.

Rubrik
Sumber
Kumparan.com

Komentar

Loading...