Angka Pengangguran Terbuka di Aceh Tertinggi di Sumatera

Angka Pengangguran Terbuka di Aceh Tertinggi di Sumatera

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2017 berada di angka 4,19 persen atau di posisi ke tiga terendah di Sumatera.

Sementara inflasi Aceh berada di angka 4,25 persen yang tercatat sebagai tertinggi di Sumatera.

Demikian disampaikan Kepala Tim Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh, Sunarso, dalam kegiatan Edukasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Wartawan dan Pers yang dihelat di Mata Ie Resort, Sabang, Senin (23/7/2018).

Selain menduduki posisi pertumbuhan ekonomi terendah, angka pengangguran terbuka di Aceh juga tergolong tinggi. Berdasarkan data yang dipaparkan BI, terlihat angka pengangguran terbuka di Aceh mencapai 6,57 persen.

"Tertinggi kedua di Sumatera," kata Sunarso.

Selain itu, data yang dipaparkan BI juga menunjukkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Aceh tahun 2017 menunjukkan angka 70,00 atau tertinggi ke empat di Sumatera.

Dilihat dari data tersebut, sebenarnya ada beberapa hal yang bisa memperbaiki kondisi pertumbuhan ekonomi Aceh tersebut. Salah satunya adalah mengembangkan potensi kekayaan alam.

Menurut Sunarso, Aceh memiliki sumber daya alam kelautan, pertanian, dan pertambangan, yang bisa dimanfaatkan secara optimal.

"Selain itu, Aceh juga memiliki dana otonomi khusus di Sumatera," ungkap Sunarso.

Aceh juga mendapat APBN terbesar di Sumatera untuk pengembangan infrastruktur, provinsi dengan APBA terbesar ke-6 serta PAD terbesar ke-16 di Indonesia.

Hal lain untuk memperbaiki kondisi Aceh saat ini adalah dengan mengoptimalkan potensi pariwisata potensial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, Aceh juga memiliki bank daerah syariah pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Bank Indonesia mencatat beberapa penyebab kondisi pertumbuhan ekonomi di Aceh yang menyedihkan tersebut. Pertama, keberadaan industri hilir masih minim di Aceh.

Selain itu, Aceh juga memiliki ketergantungan ekonomi yang tinggi terhadap daerah lain, rawan risiko fiskal, dan PAD jauh lebih kecil dibandingkan dengan belanja daerah.

Hingga saat ini, capaian kinerja ekonomi Aceh masih berada pada posisi ke-8 dari 10 provinsi di Sumatera. "Sedikit di atas Riau dan Bangka Belitung," katanya.

Dari data yang dipaparkan, pertumbuhan ekonomi di Aceh juga menunjukkan trend penurunan di 2018.

"Ada yang tahu penyebabnya? APBA," ujar Sunarso lagi.

Dia menilai pengesahan APBA Aceh beberapa waktu lalu yang terhambat turut memicu pertumbuhan ekonomi di Aceh menjadi menurun. Karena, menurut dia, perekonomian di Aceh masih sangat bergantung pada APBA. Jadi dengan terhambatnya pengesahan APBA juga turut berdampak pada perekonomian daerah.

"Selain itu serapan proyek pemerintah juga masih tahap pengadaan," kata Sunarso lagi.

Rubrik
Pidie Jaya-Ramadan

Komentar

Loading...