Alasan Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Ponakan 

Alasan Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh Vonis Bebas Terdakwa Pemerkosa Ponakan 
Diki Pratama (tengah)

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Keputusan Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh memvonis bebas Diki Pratama (35), terdakwa pemerkosa keponakan berusia 11 tahun asal Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, telah memantik kontroversi.

Majelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh diketuai Misharuddin, dan M Yusar serta Khairil Jamal, masing-masing sebagai hakim anggota, membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah Jantho, yang sebelumnya memvonis Diki 16,6 tahun penjara.

Lihat juga: Terdakwa Pemerkosa Keponakan Divonis Bebas, Kejari Aceh Besar Ajukan Kasasi

Sebetulnya, apa yang menjadi pertimbangan hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh hingga memutuskan vonis yang berbanding terbalik dengan putusan pengadilan tingkat pertama itu?

Dilihat BERITAKINI.CO dalam berkas putusan, putusan Mahkamah Syar'iyah Aceh itu diambil antara lain berdasarkan penilaian atas fakta persidangan yang berlangsung di Mahkamah Syar’iyah Jantho, terutama pada 12 Januari 2021 lalu.

Di mana pada sidang itu, korban dihadirkan sebagai saksi untuk dimintai keterangannya. 

Tapi menurut Majelis Mahkamah Syar’iyah Aceh, kesaksian korban di depan sidang pada 12 Januari 2021 lalu di Mahkamah Syar’iyah Jantho tersebut berlangsung dengan bahasa isyarat sehingga tidak memenuhi syarat sebagai alat bukti saksi.

“Karena saksi korban dalam kesehariannya bukan seorang tuna wicara dan bukan pula mengidap tunarungu sehingga harus memberikan kesaksian dengan bahasa isyarat dan terjemahan diberikan dalam berita acara sidang terhadap jawaban saksi anak korban merupakan imajinasi yang dapat dinilai tidak bersifat objektif dalam proses pembuktian,” begitu antara lain bunyi pertimbangan majelis hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh yang dikutip dari putusan tersebut.

Hakim juga menilai pertanyaan-pertanyaan kepada saksi anak korban yang telah diuraikan dalam berita acara sidang, dinilai sebagai upaya penggiringan.

Adapun pertanyaan itu antara lain, “Apa yang dilakukan terdakwa terhadap saksi korban, apakah terdakwa membuka baju dan celana saksi korban?”.  

Pertanyaan ini dijawab oleh saksi dengan mengganggukkan kepala lantas ditafsirkan dalam berita acara sidang bahwa benar terdakwa membuka baju dan celana saksi anak korban.

Pertanyaan lainnya yang dipersoalankan Hakim Mahkamah Syar'iyah Aceh adalah, “Hal apa lagi yang dilakukan terdakwa terhadap saksi korban? Apakah terdakwa memasukkan kemaluannya ke dalam alat vital saksi?”.

Kemudian dijawab oleh saksi anak korban dengan menganggukkan kepala sambil menunjukkan tangannya ke arah organ vitalnya.

Menurut Mejelis Hakim Mahkamah Syar’iyah Aceh, cara pemeriksaan perkara seperti itu dinilai tidak dibenarkan dalam pemeriksaan perkara jinayah sesuai kententuan Pasal 162 Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 Tentang Hukum Acara Jinayat.

“Karena itu, keterangan saksi korban dinilai bukanlah yang sebenarnya, maka Mahkamah Syar’iyah Aceh berpendapat keterangan saksi korban tidak dapat dipertimbangkan sebagi alat bukti, karena itu kesaksian anak korban harus ditolak,” tulis hakim dalam putusan itu.

Rubrik

Komentar

Loading...