Aceh Rebut Kembali Predikat Termiskin se-Sumatera, MaTA: Para Birokrat Tetap Hidup Mewah

Aceh Rebut Kembali Predikat Termiskin se-Sumatera, MaTA: Para Birokrat Tetap Hidup Mewah

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh baru saja merilis profil kemiskinan Aceh. Data terbaru, Aceh ternyata mengalami lonjakan jumlah kaum papa.

Per September 2020, jumlah orang miskin di Aceh mencapai 833 ribu jiwa atau bertambah sebanyak 19 ribu orang miskin jika dibanding Maret 2020.

Jumlah ini pun telah menempatkan Aceh pada posisi pertama provinsi termiskin se-Sumatera. 

Lihat: Berhasil Rebut Kembali Predikat Provinsi Termiskin se-Sumatera, Kantor Gubernur Dikirimi Papan Bunga Ucapan Selamat

Bertambahnya jumlah kemiskinan di Aceh ini dinilai tak semata imbas pandemi Coivd-19. Tapi juga karena indikasi pola korup birokrasi pemerintah selama ini.

"Kita lihat setiap tahun ada perencanaan untuk pemberantasan kemiskinan, namun seluruh program yang dibuat tidak pernah menyentuh secara langsung," kata Koordinator MaTa Alfian, Rabu (17/2/2021).

Contohnya, kata Alfian, dalam RPJM, pemerintah setiap tahunnya merencanakan pembangunan sekirat 6.000 unit rumah layak huni.

“Fakta di lapangan, pada 2020 misalnya, hanya dibangun hanya sebanyak 700 unit. Secara RPJM itu sudah menyimpang," katanya.

Parahnya lagi, lanjut Alfian, ada dugaan rumah-rumah yang seharusnya untuk masyarakat miskin tersebut, justru diberikan kepada mereka yang tak layak menerima.

“Sehingga kebutuhan rumah untuk warga miskin tidak pernah terpenuhi," ujarnya.

Alfian mengatakan, kendati pemerintah mengatakan banyak anggaran yang dialihkan untuk penanganan Covid-19 pada 2020, tetap saja itu tidak bisa dijadikan alasan.

“Karena seperti yang kita ketahui dana refocusing sebanyak Rp 2,5 triliun dan hibah 1,8 triliun, itu juga tidak disalurkan dengan baik, persoalan sebenarnya ada di birokrasi,” katanya.

"Bayangkan saja, hari ini para birokrat hidup mewah, namun kemiskinan di masyarakat tidak pernah tertuntaskan.”

Alfian mengatakan, pemerintah saat ini hanya lihai memamerkan jumlah anggaran pembangunan melalui flyer di pinggir jalan, namun lokasi pembangunan tidak  pernah diketahui secara ril.

"Kita banyak liat pamflet pembangunan di jalanan, bertuliskan jumlah anggaran dan penerima, tapi lokasinya tidak ditunjukan," katanya.

Editor
Rubrik

Komentar

Loading...