75 Persen Rotan Aceh Diserap Daerah Lain

75 Persen Rotan Aceh Diserap Daerah Lain

Banda Aceh | Ketersediaan bahan baku rotan seharusnya membuat Aceh menjadi daerah yang sangat potensial untuk memajukan industri mebel. Aceh bisa memproduksi hinga 250 ribu ton rotan mentah setiap tahunnya.

“Setiap tahunnya Aceh mampu memproduksi hingga 250 ribu ton rotan mentah. Sayangnya, 75 persen dari rotan itu serap daerah lain, khususnya ke Medan dan Cirebon,” ungkap Asisten Administrasi Umum Sekda Aceh, Kamaruddin Andalah, saat membacakan sambutan tertulis Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada acara pelantikan Dewan Pengurus Daerah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (DPD-HIMKI) Aceh, di Aula Serbaguna Setda Aceh, Kamis (26/10/2017).

Kamaruddin meyakini, jika sebahagian besar bahan baku tersebut diolah di Aceh, tentu akan menjadikan daerah berjuluk Serambi Mekah ini sebagai salah satu pusat pengembangan mebel dan rotan terbesar di Indonesia.

“Maka akan membuka lapangan kerja, yang secara bersamaan akan mengurangi angka pengangguran dan menurunkan kemiskinan,” sambung Kamaruddin.

Sebagaimana diketahui, angka pengangguran di Aceh cukup tinggi, lebih dari 7 persen atau tertinggi kedua di Sumatera. Bahkan kemiskinan Aceh adalah yang tertinggi di Sumatera.

Berkaca dari potensi dan kondisi saat ini, Pemerintah Aceh periode 2017-2022 berencana mengembangkan misi untuk meningkatkan usaha kerajinan rakyat. Sebagaimana diketahui, Pemerintah Aceh Irwandi–Nova memiliki Program Aceh Kreatif.

“Program Aceh Kreatif fokus pada tiga sasaran pokok, yaitu penyediaan sentra produksi berbasis sumber daya lokal yang berorientasi pada pasar nasional, memberi perlindungan bagi produk lokal agar dapat bersaing dengan produk dari luar Aceh, serta merangsang lahirnya industri-industri kreatif yang potensial di sektor jasa,” imbuh Kamaruddin.

HIMKI Aceh diharapkan mendukung suksesnya program ini. Setidaknya ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian bersama, yaitu Sumber Daya Manusia.

“Kita melihat, SDM Aceh untuk mengembangkan karya-karya kerajinan mebel ini masih terbatas. Pengerjaannya juga masih menggunakan cara-cara yang tradisional. Oleh karena itu perlu upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar proses kreatif dapat lebih meningkat.”

Hal selanjutnya yang sangat penting untuk diperhatikan adalah belum luasnya jangkauan pasar. “Saat ini, sistem transportasi sudah jauh lebih baik dari masa lalu, bahkan sudah terhubung secara nasional dan internasional. Oleh sebab itu langkah-langkah promosi dan peningkatan kualitas produk perlu kita lakukan lebih optimal.”

“Terakhir, dukungan dan fasilitas bagi usaha ini masih sangat minim. Apalagi kita tahu, sektor usaha mebel dan kerajinan rakyat ini umumnya masuk kategori UKM yang kerap menghadapi kendala modal. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan dukungan perbankan guna memperkuat usaha yang ada agar para pegiat usaha ini lebih leluasa bergerak,” ujar Kamaruddin.

Dalam kesempatan tersebut, Kamaruddin juga mengungkapkan bahwa kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN akan menjadi peluang yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha.

“Pemerintah Aceh akan menyiapkan sejumlah program dalam rangka memajukan usaha ekonomi kreatif. Namun dengan hanya mengharapkan usaha Pemerintah, tentu daya dorongnya tidak akan efektif. Peran dunia usaha, perbankan dan pihak swasta lainya juga sangat dibutuhkan,” kata Kamaruddin.(*)

Rubrik
Sumber
humas.acehprov.go.id

Komentar

Loading...