7 Tanda Tubuh Terlalu Banyak Konsumsi Garam

7 Tanda Tubuh Terlalu Banyak Konsumsi Garam
Ilustrasi. Menurut para ahli, terdapat sejumlah tanda saat tubuh Anda terlalu banyak garam. (iStockphoto/chaofann)

BERITAKINI.CO | Makanan terasa hambar tanpa garam. Tak heran Anda bakal menemukan garam hampir di tiap makanan bahkan dalam sepotong kue kering manis sekalipun. Garam, selain gula dan lemak, merupakan pemicu penyakit tidak menular.

Kementerian Kesehatan menganjurkan untuk membatasi asupan garam atau natrium maksimal 2.000 miligram per orang per hari.

Barangkali cukup sulit mengukur asupan garam harian mengingat hanya makanan kemasan yang mencantumkan takaran garam. Seporsi nasi padang atau semangkuk bakso bakal sulit diketahui kadar garamnya.

Dari sini, Anda pun mesti cermat sebab tubuh sebenarnya mengirimkan sinyal atau tanda saat kelebihan konsumsi garam. Berikut tanda tubuh Anda terlalu banyak garam, menurut para ahli.

1. Buang air kecil terlalu sering

Tanda umum akibat terlalu banyak konsumsi garam adalah Anda sering buang air kecil. Keinginan buang air kecil ini bisa saja timbul di malam hari atau di saat tidur.

Dilansir dari NDTV, sering buang air kecil sebenarnya juga tanda penyakit seperti infeksi saluran kencing, diabetes tipe 2 juga kemih yang terlalu aktif. Namun Anda perlu mengecek akar permasalahannya mulai dari cek konsumsi garam baru kemudian ke dokter untuk konsultasi.

2. Terus merasa haus

Rasa haus sebenarnya wajar layaknya Anda merasa lapar. Namun jika rasa haus ini seperti terus datang dan tidak kunjung terpuaskan dengan air, bisa jadi Anda terlalu banyak mengonsumsi garam.

Sebagaimana dilansir dari Livestrong, rasa haus disebabkan konsentrasi darah mulai naik dipicu peningkatan zat terlarut, termasuk natrium, kemudian otak dan ginjal mulai bekerja untuk memulihkan keseimbangan.

Hormon antidiuretik diaktifkan sehingga tubuh menahan cairan untuk mengencerkan lonjakan natrium. Sebuah studi pada Desember 2016 menyebut dalam proses ini, sinyal saraf dapat memberikan sinyal sensasi haus.

Agar tidak dehidrasi, tubuh memberikan sinyal haus, mulut terasa kering begitu pula kulit.

3. Makanan terasa hambar

Tanpa Anda sadari, makanan apapun yang Anda konsumsi jadi terasa hambar atau kurang mantap. Makin banyak makan garam, makin bertambah pula kebutuhan akan garam untuk memperoleh respons serupa.

"Banyak orang mungkin tidak menyadari seberapa banyak kelebihan natrium yang mereka konsumsi sebagai akibat dari perubahan atau penumpulan kemampuan indera pengecap karena kelebihan garam," ujar Mandy Enright, ahli gizi dan pelatih kebugaran di New Jersey, dikutip dari Women's Health Magazine.

4. Kembung

Makin banyak garam yang Anda konsumsi, makin banyak air dalam tubuh. Saat terlalu banyak garam dalam darah, air meninggalkan sel-sel tubuh sehingga mengakibatkan pembengkakan. Anda pun bakal merasakan kembung dan begah.

"Kadar garam yang ekstrem, diikuti kelebihan air untuk menyeimbangkan bisa mengakibatkan kembung, khususnya pada area perut," jelas Enright.

5. Edema

Selain perut kembung, akan terjadi pembengkakan di beberapa area tubuh. Bengkak biasanya terdapat pada jari-jemari dan sekitar tungkai. Ini terjadi akibat kelebihan cairan pada jaringan atau disebut edema.

Meski edema bisa saja tanda penyakit atau masalah kesehatan lain, Anda bisa mengurangi pembengkakan dengan memangkas konsumsi garam.

6. Sakit kepala

Pernah mengalami sakit kepala tanpa alasan yang jelas? Cek makanan terakhir yang Anda konsumsi. "Terlalu banyak garam bisa mengakibatkan pembuluh darah otak melebar, yang mana bisa menimbulkan sakit kepala," ujar Enright.

7. Tekanan darah naik

Konsumsi makanan tinggi garam memainkan peran dalam kenaikan tekanan darah. Ahli kardiologi preventif di Cleveland Clinic, Luke Laffin mengatakan kelebihan garam bisa meningkatkan retensi cairan dan membuat tekanan darah naik.

Cairan berlebih bakal memenuhi kapasitas pembuluh darah. Lama-kelamaan, tekanan pada pembuluh darah bisa mengganggu aliran darah dan oksigen ke organ tubuh.

Jantung makin bekerja keras untuk memompa darah, begitu pula ginjal harus kerja ekstra untuk mengembalikan cairan dan menyeimbangkan elektrolit.

"Hipertesi jangka panjang yang tidak terkontrol meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, gagal jantung dan penyakit ginjal kronis," imbuhnya.

Rubrik
Sumber
CNNIndonesia.com

Komentar

Loading...