Tugas di Aceh, Irdam Serasa Pulang Kampung

Tugas di Aceh, Irdam Serasa Pulang Kampung
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah memberikan selamat kepada Kajati Aceh yang baru Irdam SH MH | Foto: BERITAKINI.CO/A. Putra

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Meski sesungguhnya berasal dari Sumatera Barat, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Aceh Irdam merasakan dirinya seperti berada di kampung sendiri saat berada di Aceh.

"Saya sebenarnya serasa pulang kampung. Saya lahir di Asrama Keraton, Banda Aceh. Tapi besar di Jakarta," kata Irdam dalam acara pisah-sambut Kajati Aceh yang berlangsung di Anjong Mon Mata, Komplek Pendopo Gubernur Aceh, Sabtu malam (13/10/2018).

Meski begitu, untuk urusan dinas, Irdam memang terbilang baru di Tanah Rencong.

Masa dinasnya di Kejaksaan, banyak dihabiskan di beberapa daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta Pusat, Lombok, Depok, Tasikmalaya, Gorontalo, Padang, dan Jember.

"Pernah juga di Palembang, dan setelah itu kembali ke Padang, dan terakhir saya mendapat tugas di Aceh," katanya.

Sebagai "orang baru", Irdam pun berharap bisa diterima semua pihak.

"Saya permisi, mohon diterima tugas di Aceh," katanya.

Tak lupa, Irdam mengapresiasi kerja-kerja yang telah dilakukan Kajati sebelumnya Chaerul Amir.

"Semua yang sudah dilakukan pak Chairul itu bagus, kalau bisa kita tingkatkan lagi," katanya.

Chaerul sendiri akan mejalani tugas barunya di Kejasaan Agung sebagai Direktur Ekonomi dan Keuangan.

Selama di Aceh, Chaerul telah merintis sejumlah program, di antaranya, kerjasama antara Kejaksaan Agung dengan Unsyiah untuk membuka pusat kajian kejaksaan di Unsyiah.

"Mudah-mudahan bisa dilanjutkan oleh Pak Irdam," kata Chaerul.

Chaerul sendiri bertugas di Aceh selama 11 bulan. Selama di Aceh, ada sejumlah agenda penindakan, terutama pidana khusus, yang belum sepenuhnya rampung.

Baru-baru ini, misalnya, Kejati Aceh telah menetapkan mantan Wali Kota Sabang Zulkifli Aceh sebagai tersangka dugaan mark up pembebasan lahan.

Chaerul juga belum berhasil menuntut mantan Bupati Simeulue Darmili yang telah jauh-jauh hari ditetapkan sebagai tersangka.

Selain itu, ada juga kasus yang menjadi perhatian publik yakni dugaan penyelewengan dana bantuan sosial (bansos) yang disebut-sebut untuk eks kombatan GAM sebesar Rp 650 miliar yang bersumber dari APBA 2013.

Sementara Irdam mengatakan, setiap perkara yang sedang jalan tetap akan dilanjutkan.

"Tapi saya juga belum melihat (perkara-perkara yang sedang berjalan), jadi nanti kami duduk dulu dan melihat semuanya," katanya.

Hadir dalam pisah sambut itu, di antaranya, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Kapolda Aceh Irjen Rio S Djambak, Kasdam IM Brigjen Achmad Daniel Chardin, dan Rektor Unsyiah Samsul Rizal.

Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam sambutannya mengatakan, satu sisi, dirinya merasa sedih melepas Chaerul Amir untuk bertugas di tempat yang baru.

"Di sisi lain, saya merasa gembira karena penggantinya Pak Irdam ternyata tak jauh berbeda dengan pada Chaerul. Satu jam saya ngobrol, saya merasa plong," katanya.

Nova pun berharap program-program yang telah dirintis Chaerul Amir dapat terus berlanjut. Terutama tentang MoU antara Pemerintah Aceh dengan Kejati Aceh.

"Kami merasa sangat beruntung bisa dibantu oleh kejaksaan dalam kapasitasnya sebagai pengacara negara. Banyak sekali kasus, termasuk kerugian negara, yang belum kita ditelusuri. Ada banyak mis manajemen, yang kemudian mengakibatkan kita kehilangan aset, misalnya, yang ternyata bisa dibantu oleh Kejati dalam kapasitasnya sebagai pengacara negara," katanya.

Rubrik

Komentar

Loading...