Tengku Jazuli: Keliru Jika Dikatakan Perempuan Tak Boleh Jadi Pemimpin

Tengku Jazuli: Keliru Jika Dikatakan Perempuan Tak Boleh Jadi Pemimpin
Tengku Jazuli (Foto: BERITAKINI.CO/Irwan Saputra)

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Ketua Rabithah (persatuan) Alumni Dayah Aceh Besar Tengku Jazuli mengatakan Islam tidak pernah melarang seorang perempuan untuk menjadi pemimpin.

"Keliru jika ada yang menafsirkan ayat bahwa hanya lelaki yang boleh menjadi pemimpin, sementara perempuan tidak boleh," kata Tengku Jazuli saat menjadi pembicara pada acara pertemuan pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Banda Aceh, Illiza-Farid dengan masyarakat di Desa Neusu Jaya, Banda Aceh, Selasa (27/12/2016).

Tak sulit menerka kemana arah pernyataan Jazuli itu. Ini menyusul pernyataan salah seorang ulama Aceh di Masjid Raya Baiturrahman beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa tidak boleh sebuah daerah dipimpin oleh perempuan. 

“Ulama Besar Aceh Abu Tumin Blang Bladeh mengatakan boleh pemimpin perempuan, maka yang mengatakan perempuan tidak boleh jadi pemimpin adalah keliru,” ujarnya lagi. 

Menurutnya, kepemimpinan perempuan telah terkenal sejak zaman keemasan Aceh, dan ulama saat itu juga tidak pernah melarang perempuan menjadi pemimpin. 

Illiza bersama para pendukungnya di Neusu Jaya

 

Menurutnya, ayat yang mengatakan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan hanya dikhususkan dalam urusan rumah tangga bukan dalam urusan kepemerintahan.

“Tumin Blang Bladeh tidak pernah berbohong dan tidak pernah mengada-ngada, apalagi terkait ayat Al Quran. Maka Insya Allah kalau kita pilih pasangan Illiza-Farid tidak akan berdosa,” tegasnya.

Kemudian, katanya, alim ulama juga telah sepakat untuk mendukung pasangan Illiza-Farid sebagai walikota dan wakil walikota Banda Aceh, seperti Waled Rusli. Oleh karena itu, katanya, jika ada ayat yang melarang kepemimpinan perempuan sudah barang tentu mereka (para ulama) akan menolak lebih dulu pasangan ini.

Selain itu, Jazuli mengatakan pernah berdiskusi dengan Abu Ulee Titi di Lambaro, Kabupaten Aceh Besar, tentang penafsiran pemimpin perempuan tersebut. Hasilnya, Abu Lambaro juga mengatakan bahwa ayat tersebut hanya untuk kepemimpinan dalam rumah tangga, bukan dalam kepemimpinan daerah.

Apalagi, menurut Jazuli, pasangan Illiza-Farid telah terbukti mampu mengemban amanah rakyat untuk menjadikan Banda Aceh yang Islami. Hal ini terlihat dari kebijakan Illiza saat menjabat sebagai walikota aktif, selalu melarang perayaan tahun baru dilaksanakan.

"Di samping bagitu banyak program-program produktif yang pro rakyat baik yang sudah dijalankan maupun yang sedang berjalan saat ini, belum lagi prestasi yang diukir baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional," ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Jazuli, pemberlakuan jam malam untuk perempuan juga dinilai sebagai sebuah kebijakan yang  sangat positif.

“Makanya, Kota Banda Aceh resmi disebut kota Madani, apa artinya kota Madani? adiknya kota Madinah,” tegasnya.

Dia menjelaskan, suasana Kota Madinah sungguh menunjukkan nuansa Islami. "Tidak ada orang yang buka jilbab di depan umum, dan keadaan itulah yang kini dirasakan di Banda Aceh. Hal ini adalah terobosan yang sangat besar," katanya.

Raut wajah Illiza dan Farid, nilai Jazuli, juga memancarkan keteduhan. Hal itu, menurutnya, adalah sebuah tanda jika keduanya bukanlah tipikal wajah pencoleng uang rakyat melainkan wajahnya orang-orang baik. Sebab menurutnya,  wajah adalah cerminan dari hati seseorang.

 “Saya yakin, mereka bukanlah pembohong dan bukan pengumbar fitnah, walau banyak fitnah yang menyasar  pasangan ini. Tapi demi Allah saya tidak pernah mendengar dari mulut beliau pernah memfitnah orang lain, malah beliau mengatakan biar difitnah karena semakin difitnah maka semkain menambah kedewasaan dan kebijakan kita,”ungkapnya.(*)

Penulis
Rubrik

Komentar

Loading...