Soal Gampong Pande, Akademisi: Dukung Penelitian Arkeologi Secara Tuntas agar Sejarah Aceh tidak Berada di Bawah Karpet

Oleh ,
Soal Gampong Pande, Akademisi: Dukung Penelitian Arkeologi Secara Tuntas agar Sejarah Aceh tidak Berada di Bawah Karpet
Akademisi Universitas Serambi Mekkah, Mujibburahman, SPd, M.Hum, bersama Guru Besar Undip Semarang Prof Yety Rochwulaningsih, M.Si

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Ada-ada saja yang dilakukan Pemerintah Kota Banda Aceh di bawah kepemimpinan Aminullah Usman. Belum selesai polemik pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) dan pengelolaan tinja di area situs Gampong Pande, Walikota Aminullah yang mengusung jargon Kota Gemilang untuk Banda Aceh ini malah mengizinkan adanya studi proyek pengelolaan sampah melalui PLTSa.

Kabar ini tentu saja memantik protes dari pegiat kebudayaan dan kalangan pecinta sejarah di Aceh. Lembaga Peusaba yang telah lama mengawal isu Gampong Pande, misalnya.

Baca: Teruskan Proyek Sampah di Situs Bersejarah Gampong Pande, Walikota Banda Aceh Dikecam

Lembaga yang intens bergerak di bidang kebudayaan dan sejarah ini mengecam wacana pembangunan PLTSa di kawasan Gampong Pande. Apalagi, pakar georadar internasional sekaliber Teuku Abdullah Sanny telah memaparkan adanya struktur yang terkubur di kedalaman 28,30 meter di bawah Gampong Pande-Gampong Jawa, yang diduga situs Kerajaan Aceh Darussalam yang telah lama hilang.

Baca: Bukti Situs Kerajaan Aceh Terkubur di Kedalaman 28,30 Meter, Arkeolog Minta Pemerintah Stop Pembangunan IPAL

Akademisi Universitas Serambi Mekkah, Mujiburrahman, S.Pd,. M.Hum, turut menyikapi permasalahan ini. Dia sangat menyayangkan jika Pemerintah Kota Banda Aceh melanjutkan program pembangunan instalasi pengelolaan limbah sampah di kawasan Gampong Pande.

Kawasan tersebut dinilai telah menjadi fokus para arkeolog untuk menggali bukti sejarah yang hilang, yang sudah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Penelitian tersebut bahkan dilakukan sebelum tsunami meluluhlantakkan Aceh.

"Seharusnya pemerintah mempertimbangkan alasan akademis untuk kepentingan pembangunan manusia Aceh ke depan, yang berlandaskan pada sejarah indatu," kata Mujibburahman yang saat ini menjabat sebagai Kepala Prodi di Jurusan Sejarah Universitas Serambi Mekkah kepada BERITAKINI.CO, Minggu (24/6/2018).

Penelitian terhadap bukti situs Kerajaan Aceh Darussalam telah lama dilakukan para sejarawan dan arkeolog, baik lokal maupun peneliti internasional. Sangat disayangkan jika penelusuran sejarah tersebut kemudian dihalang-halangi demi kepentingan politis tanpa mempertimbangkan aspek akademis.

"Sejarah merupakan segmen penting dalam membangun manusia, karena dengan sejarah akan mengokohkan keyakinan," tutur Mujibburahman lagi.

Dia mengharapkan Pemerintah Kota Banda Aceh dapat mencari solusi yang solutif terkait Gampong Pande dan Gampong Jawa. Meskipun demikian, dia tidak menampik proyek sampah juga diperlukan untuk mewujudkan kota lebih bersih dan bebas polusi.

"Tapi situs sejarah juga harus dijaga," katanya lagi.

Muji, sapaan akrab Magister Sejarah Universitas Semarang ini, menilai kawasan Gampong Pande dan Gampong Jawa yang telah diketahui adanya struktur kuno yang terkubur dapat dijadikan sebagai lahan riset.

Bahkan, dia mengusulkan agar pemerintah mendukung riset tersebut termasuk eskavasi (penggalian arkeologi) untuk mencari jejak indatu Aceh yang hilang demi mengembalikan kegemilangan Bandar Aceh Darussalam di zaman modern.

"Dukung penelitian arkelogis secara tuntas agar sejarah Aceh tidak berada di bawah karpet," kata Mujibburahman lagi.

Dia sangat menyayangkan jika isu-isu sejarah dan arkeologi dimanfaatkan oleh sebagian orang, tanpa melihat kepentingan akademis dan edukasi generasi muda di dalamnya.

"Isu seperti ini seringkali diambil ketika perlu untuk politik, tetapi tidak ada pengawalan berkelanjutan dan solusi yang diberikan," kata pria yang juga menjabat sebagai pengurus harian di Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Muda Aceh ini.

Dia berharap pemerintah dapat memback-up penelitian para pakar arkeolog dan sejarawan dalam menggali bukti-bukti sejarah Aceh, terutama di Gampong Pande. Menurutnya mengedukasi generasi jauh lebih penting untuk kepentingan Aceh di masa mendatang, dibandingkan proyek multiyear yang justru menenggelamkan sejarah kegemilangan kota tua ini.

"Dengan dijadikan Gampong Pande-Gampong Jawa sebagai pusat wisata dan lahan riset, saya kira, yang datang tidak hanya wisatawan saja. Para ilmuwan pasti juga berdatangan karena mereka pasti merasa tertantang dengan (rencana eskavasi) itu," tutup Muji.

Rubrik

Komentar

Loading...