Serangan Tentara Filipina Tewaskan 8 Teroris di Mindanao, 2 Orang Diduga WNI

Serangan Tentara Filipina Tewaskan 8 Teroris di Mindanao, 2 Orang Diduga WNI
foto ilustrasi tentara filipina di Mindanao. ©2016 Merdeka.com

BERITAKINI.CO | Pasukan keamanan Filipina menewaskan sedikitnya delapan orang militan dalam serangan di hutan Pulau Mindanao. Di tempat itu diyakini salah seorang teroris asal Singapura bersembunyi.

Mayor Jenderal Cirilito Sobejana, komandan Divisi Infanteri ke-6, mengatakan, warga Singapura, Muhamad Ali Abdul Rahiman alias Muawiyah, termasuk target di dalam sebuah kamp di pulau Mindanao yang dilanda perang.

Namun Muawiyah tampaknya selamat dan berhasil melarikan diri, demikian sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Senin (4/2/2019).

Kamp itu tampaknya menjadi markas utama sebuah faksi Pejuang Kemerdekaan Islam Bangsamoro (BIFF) yang terlibat konflik dengan pasukan pemerintah Filipina pada Minggu pagi.

Sebuah bom seberat 226 kilogram dijatuhkan di benteng utama di dalam kamp, di kota Sultan sa Barongis di provinsi Maguindanao, tempat Muawiyah dan enam teroris asing lainnya --dua orang Malaysia, dua orang Indonesia, dan dua orang "berpenampilan Timur Tengah"-- diyakini bertempat, kata Mayjen Sobejana.

Dia mengatakan jenazah delapan militan ditemukan setelah kamp tersebut berhasil dikuasai pasukan keamanan Filipina.

BIFF adalah kelompok sempalan dari Front Pembebasan Islam Moro yang berkekuatan 12.000 orang, kelompok separatis utama yang telah menandatangani pakta perdamaian dengan pemerintah.

BIFF telah mengupayakan pendekatan yang lebih keras, menjanjikan kesetiaan kepada kelompok teroris ISIS.

Menteri pertahanan Filipina, Delfin Lorenzana, mengatakan militer mengawasi setidaknya 44 teroris dari luar negeri yang mencari perlindungan di Mindanao.

Mayor Jenderal Sobejana mengatakan kamp Maguindanao, yang diperkuat dengan sekitar dua lusin bunker dan lubang perlindungan, dijalankan oleh Muhajireen Wal-Ansar, yang juga dikenal sebagai Maguindanao Daulah Islamiyah, sebuah faksi dari BIFF di bawah imam penghasut Esmael Abdulmalik, juga dikenal sebagai Abu Turaife.

Turaife sendiri dikatakan berada di kamp saat penyerangan terjadi.

Para pejabat intelijen mengatakan kelompok Turaife telah menyediakan tempat berlindung bagi para militan di Asia Tenggara, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Sementara itu, Muawiyah diketahui sebagai tersangka utama dalam penculikan tiga pekerja Komite Internasional Palang Merah di provinsi Sulu, di pulau Mindanao yang dilanda perang, pada 2009.

Dia melarikan diri ke Mindanao pada 1990-an dengan Zulkifli bin Hir dari Malaysia, alias Marwan, dan kedua orang itu pada satu waktu digambarkan sebagai "teroris internasional paling berpengaruh yang saat ini beroperasi di Asia Tenggara".

Keduanya dikatakan mahir membuat bom, dan telah merekrut dan melatih ratusan gerilyawan dari luar negeri yang melarikan diri ke tempat yang aman di pulau Mindanao yang dilanda perang.

Warga Malaysia, Marwan, terbunuh dalam serangan pada 2015 oleh pasukan khusus polisi di tempat persembunyiannya di kota Mamasapano, juga di Maguindanao. Tes yang dilakukan oleh Biro Investigasi Federal mengkonfirmasi kematiannya.

Muawiyah, di sisi lain, pertama kali dilaporkan tewas dalam serangan udara di provinsi Jolo pada 2012. Ini tidak pernah diverifikasi.

Dia kembali dikatakan tewas dalam serangan militer di seluruh Maguindanao pada 2016. Sekali lagi, tidak ada konfirmasi.

Rubrik
Sumber
MERDEKA.COM

Komentar

Loading...