Sejak Tahun 416, Tsunami di Selat Sunda Terjadi 12 Kali, Ini Daftarnya

Sejak Tahun 416, Tsunami di Selat Sunda Terjadi 12 Kali, Ini Daftarnya
Pasca diterjang tsunami kondisi sepanjang Pantai Anyer mengalami kerusakan parah. (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)

BERITAKINI.CO | Tsunami di sekitar Selat Sunda (Banten-Lampung) pada Sabtu 22 Desember 2018 bukan kali pertama terjadi. Dari catatan sejarah, tsunami telah berulang kali terjadi, bahkan sejak tahun 416.

Dikutip dari Jurnal Geologi Indonesia Volume III (4 Desember 2008) berjudul 'Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian Terhadap Katalog Tsunami Soloviev', yang ditulis oleh Yudhicara dan K Budiono, dijelaskan sejumlah fakta terkait tsunami di Selat Sunda.

Dalam jurnal ini dijelaskan tsunamigenik merupakan kejadian alam yang berpotensi menimbulkan tsunami. Kejadian tersebut berupa terganggunya air laut oleh kegiatan-kegiatan gunung api, gempa bumi, longsoran pantai dan bawah laut atau sebab-sebab lainnya.

Berdasarkan sejarah, Selat Sunda telah berkali-kali terjadi bencana tsunami yang tercatat dalam katalog tsunami. Tsunami yang terjadi ini disebabkan oleh beberapa fenomena geologi, di antaranya erupsi gunung api bawah laut Krakatau yang terjadi tahun 416, 1883 dan 1928.

Kemudian tsunami yang disebabkan gempa bumi pada tahun 1722, 1852 dan 1958. Terakhir, penyebab lainnya yang diduga kegagalan lahan berupa longsoran baik di kawasan pantai atau dasar laut pada tahun 1851, 1883 dan 1889.

"Kondisi tektonik Selat Sunda sangat rumit, karena berada pada wilayah batas Lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia, tempat terbentuknya sistem busur kepulauan yang unik dengan asosiasi palung samudera, zona akresi, busur gunung api dan cekungan busur belakang. Palung Sunda yang menjadi batas pertemuan lempeng merupakan wilayah yang paling berpeluang menghasilkan gempa-gempa besar," tulis jurnal tersebut yang diterima deticom dari Kasubid Gempa dan Tsunami Wilayah Barat PVMBG Ahmad Solihin, Minggu (23/12/2018).

Adanya kesenjangan kegiatan gempa besar di sekitar Selat Sunda dapat menyebabkan terakumulasinya tegasan yang menyimpan energi dan kemudian dilepaskan setiap saat berupa gempa besar yang dapat menimbulkan tsunami.

Sepanjang sejarah letusan, busur gunung api bawah laut Krakatau telah mengalami empat tahap pembangunan dan tiga tahap penghancuran. Setiap tahap penghancuran mengakibatkan terjadinya tsunami dengan kemungkinan potensi peristiwa serupa akan terjadi antara tahun 2500 hingga 2700.

Kondisi geologi dasar laut Selat Sunda yang labil, terutama disebabkan oleh perkembangan struktur geologi aktif yang membentuk terban, berpotensi menimbulkan bencana longsor apabila dipicu gempa bumi. Sementara kondisi topografi pantai yang relatif terjal, dengan tingkat pelapukan yang tinggi di sekitar Teluk Semangko dan Teluk Lampung, merupakan faktor lain yang dapat menimbulkan bencana longsor terutama jika dipicu curah hujan tinggi antara Desember hingga Februari.

Lebih jauh lagi, kalau material longsoran jatuh ke laut, meski sangat kecil dan bersifat lokal, dapat berpotensi mengakibatkan tsunami.

Jejak tsunami di Selat Sunda paling dahsyat tercatat pada tahun 1883. Saat itu terjadi letusan Gunung Api Krakatau. Peristiwa bersejarah ini telah menarik seluruh perhatian dunia karena material yang dimuntahkannya memicu terjadinya tsunami yang melanda sebagian Sumatera bagian selatan dan Jawa Barat bagian barat, sehingga menewaskan lebih kurang 36.000 jiwa.

Jauh sebelum itu, berdasarkan katalog tsunami yang ditulis oleh Soloviev dan Go (1974), tercatat beberapa kali peristiwa bencana tsunami di Selat Sunda. Di dalam katalog dijelaskan tsunami tersebut dipicu salah satunya oleh erupsi gunung api yang pernah terjadi pada tahun 416 [terekam dalam sebuah kitab Jawa yang berjudul Pustaka Raja ("Book of Kings")], yang diduga sebagai gunung api Krakatau kuno.

Berikut jejak lengkap tsunami di perairan Selat Sunda berdasarkan Katalog Soloviev dan Go:

1. Tahun 416
Kitab Jawa yang berjudul "Book of Kings" (Pustaka Radja), mencatat adanya beberapa kali erupsi dari Gunung Kapi yang menyebabkan naiknya gelombang laut dan menggenangi daratan hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. Gunung Kapi ini diyakini sebagai Gunung api Krakatau saat ini.

2. Oktober 1722 pukul 8.00
Terjadi gempa bumi kuat di laut yang dirasakan di Jakarta dan menyebabkan air laut naik seperti air mendidih.

3. 24 Agustus 1757 pukul 2.00
Gempa bumi yang kuat dirasakan di Jakarta kurang lebih selama 5 menit. Pada pukul 2.05, selama goncangan yang terkuat, angin dirasakan berasal dari timur laut. Air sungai Ciliwung meluap hingga 0,5 meter dan membanjiri Kota Jakarta.

4. 4 Mei 1851
Di Teluk Betung, di dalam Teluk Lampung di pantai selatan pulau Sumatera, teramati gelombang pasang naik 1,5 m di atas air pasang biasanya.

5. 9 Januari 1852 pukul 18.00
Dirasakan gempa bumi yang menyebar dari bagian barat Jawa hingga bagian selatan Sumatera, dirasakan juga di Jakarta dan gempa-gempa susulannya dirasakan pula di Bogor dan Serang. Pada pukul 20.00, terjadi fluktuasi air laut yang tidak seperti biasanya.

6. 27 Agustus 1883 pukul 10.02
Terjadi erupsi sangat dahsyat dari gunung api Krakatau yang diikuti oleh gelombang tsunami. Ketinggian tsunami maksimum teramati di Selat Sunda hingga 30 meter di atas permukaan laut, 4 meter di pantai selatan Sumatera, 2-2,5 meter di pantai utara dan selatan Jawa, 1,5-1 meter di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan. Di Indonesia sebanyak 36.000 orang meninggal dunia.

7. 10 Oktober 1883
Di Cikawung di pantai Teluk Selamat Datang, teramati gelombang laut yang membanjiri pantai sejauh 75 meter.

8. Februari 1884
Lima bulan setelah kejadian erupsi Gunung Api Krakatau, tsunami kecil teramati di sekitar Selat Sunda, diakibatkan oleh suatu erupsi gunung api.

9. Agustus 1889
Teramati kenaikan permukaan air laut yang tidak wajar di Anyer, Jawa Barat.

10. 26 Maret 1928
Kejadian erupsi gunung api Krakatau diiringi oleh kenaikan gelombang laut yang teramati di beberapa tempat di sekitar wilayah gunung api.

11. 22 April 1958 pukul 5.40
Dirasakan gempa bumi di Bengkulu, Palembang, Teluk Banten dan Banten yang diiringi dengan kenaikan permukaan air laut yang meningkat secara berangsur.

"Dari hasil kajian dan fakta tersebut maka dapat disimpulkan tsunami yang terjadi di Selat Sunda di masa lampau dipengaruhi oleh kondisi geologi dan tektonik," tulis penulis jurnal.

"Maka dapat disimpulkan sumber tsunamigenik di perairan Selat Sunda dapat diakibatkan oleh gempa bumi yang berkaitan dengan subduksi Sunda, erupsi gunung api bawah laut Krakatau, longsoran di pantai dan longsoran bawah laut di sekitar Selat Sunda," kata penulis dalam kesimpulan jurnal tersebut.

Catatan terbaru, kejadian ke-12 berlangsung Sabtu 22 Desember 2018. Pesisir Selat Sunda terkena dampak tsunami yaitu Banten dan Lampung.

Dalam keterangan pers, Minggu (23/12/2018), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan, pada 22 Desember 2018 terjadi letusan Gunung Anak Krakatau. Secara visual, teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300-1.500 meter di atas puncak kawah. Secara kegempaan, terekam gempa tremor menerus dengan amplitudo overscale (58 mm).

"Pada pukul 21.03, WIB terjadi letusan, selang beberapa lama ada info tsunami. Pertanyaannya apakah tsunami tersebut ada kaitannya dengan aktivitas letusan, hal ini masih didalami," demikian keterangan PVMBG.

Rubrik
Sumber
DETIK.COM

Komentar

Loading...