Sakaratul Maut Industri Mal Amerika Serikat

Sakaratul Maut Industri Mal Amerika Serikat
Ilustrasi

BERITAKINI.CO | Ada masanya di AS, ketika kegilaan konsumerisme dirayakan, dan semua orang berbelanja, dan mal jadi tempat orang-orang pergi untuk menghabiskan waktunya,” kata Harley Peterson, koresponden senior Business Insider. “Ya tahulah, kita bakal nongkrong di stan Auntie Anne’s Pretzel, dan pergi ke Abercrombie, dan kita keliling-keliling mal cuma untuk menghabiskan waktu,” tambah Ashley Lutz, deputi editor Business Insider.

Namun, masa-masa itu berakhir ketika resesi—pelan-pelan tapi pasti—datang. “Kebiasaan berbelanja orang-orang berubah,” kata Ashley. Industri mal AS sedang sakaratul maut.

Orang-orang AS sekarang lebih senang menabung untuk pergi liburan ketimbang membeli pakaian. Mereka juga lebih senang jalan-jalan ke luar kota atau luar negeri—untuk mengoleksi pengalaman—ketimbang nongkrong di mal dan merayakan konsumerisme. Berdasarkan riset Cushman and Wakefield yang dikutip Business Insider, jumlah kunjungan ke mal-mal di AS pada 2010 mencapai angka 35 juta. Angka ini merosot lebih dari 50 persen tiga tahun kemudian. Pada 2013, kunjungan ke mal hanya mencapai angka 17 juta.

Dalam laporan TIME, analis ritel Jan Kniffen bahkan memprediksi lebih dari sepertiga mal di Amerika akan tutup pada 2017. Dari 1.100, 400 di antaranya akan segera tutup. Dan dari sisa 700, hanya 250 yang akan bertahan dalam beberapa tahun ke depan.

Penelitian Green Street, sebuah grup konsultan perumahan, bahkan menunjukkan 15 persen mal di AS akan tutup dalam 10 tahun ke depan. Selain perubahan kebiasaan belanja, kemajuan teknologi juga menjadi salah satu faktor utama yang mematikan industri mal. Seperti dilansir CNBC, Green Street perusahaan-perusahaan mal kehilangan jenama-jenama besar yang menyewa tempat mereka karena orang-orang yang berbelanja online meningkat. Berjualan online terbukti memangkas biaya sewa tempat di mal—yang harganya cukup besar.

Sejumlah jenama besar di AS, seperti Macy’s, Sears, GAP, Abercrombie & Fitch ramai-ramai menarik gerai mereka di mal-mal karena sepi pengunjung. Penarikan besar-besaran paling anyar dilakukan Macy’s awal Januari lalu. Sebanyak 68 gerai ditutup dan tak main-main sampai mengorbankan 10 ribu pekerja yang harus kehilangan mata pencarian. Penutupan ini dilakukan karena pendapatan Macy’s pada musim liburan akhir tahun lalu jauh dari target. Sebelumnya, pada Agustus 2016, Macy’s juga sempat menarik 100 gerainya di mal-mal AS.

Sebagai salah satu pemasukan terbesar bagi pengelola mal, tentu saja ini adalah pukulan terberat. Garrick Brown dari Cushman & Wakefield mengatakan kepada CNBC bahwa kawasan-kawasan metropolitan di AS yang biasanya punya 12 mal kini hanya punya 7 atau 8 mal saja.

Masalah ini rupanya tak hanya melanda mal-mal kecil atau kelas C, D, E, dan seterusnya. Mal-mal kelas A yang luasnya bisa sampai 1,1 juta kaki persegi juga mengalami krisis ini. Highland Mall di Austin, Texas adalah contohnya. Sebelum benar-benar tutup, mal itu kehilangan gerai J.C. Peney, Macy’s, dan Dillard’s.

Kalau kabar mal di Texas ini kurang mengejutkan, tengoklah fakta soal Galleria at Pittsburgh Mills, salah satu mal paling besar di Pennsylvania, yang terjual cuma seharga $100 atau setara sekitar Rp 1,3 juta. Padahal luasnya mencapai 1 juta kaki persegi.

“Sayangnya, bangunan-bangunan bekas mal juga tak bernilai tinggi,” kata Kate Taylor, reporter Business Insider dalam video editorial yang sama dengan Harley Peterson dan Ashley Lutz. “[Bangunan] mal yang terlalu besar bukanlah sesuatu yang bakal dilirik pengelola mal baru,” tambahnya.

Business Insider sepakat bahwa satu-satunya cara menyelamatkan industri ini adalah dengan beradaptasi mengubah konsep mal menjadi tempat orang-orang merasakan pengalaman-pengalaman yang tak dijual di tempat lain. Misalnya pengalaman menonton di bioskop, dan membuat restoran besar. Atau cara-cara lain yang bisa merayu pengunjung mendatangi mal lagi.

Menurut Bill Taubman dari Taubman Centers, salah satu pengelola pusat perbelanjaan terbesar di AS dan Asia, cara lain untuk mempertahankan industri mal di AS adalah dengan memusatkan mal-mal yang ada di kota dan merancangnya sebisa mungkin berbeda dengan yang suda ada, sehingga pengunjung kembali datang. Setidaknya pengunjung datang untuk melihat-lihat komoditas kesayangannya secara langsung, tidak hanya dari layar ponsel atau komputer saja.(*)

Penulis
Rubrik
Sumber
Tirto.id

Komentar

Loading...