Pimpinan dan Guru Pesantren Cabuli Santri di Lhokseumawe, Musannif: Hukum Seberat-beratnya

Pimpinan dan Guru Pesantren Cabuli Santri di Lhokseumawe, Musannif: Hukum Seberat-beratnya
Wakil Ketua Komisi VII DPRA Musannif

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Wakil Ketua Komisi VII DPRA Musannif menilai perilaku pimpinan dan guru dayah di Lhokseumawe mencabuli para santrinya merupakan perbuatan yang sangat memalukan dan telah mencoreng nama baik lembaga pendidikan agama.

“Lembaga pendidikan agama yang seharusnya memberi suri teladan untuk umat, justru melakukan hal sebaliknya,” kata Musannif pada BERITAKINI.CO saat ditemui sela-sela kegiatan Panitia Khusus I DPRA meninjau realisasi proyek-proyek APBA di Banda Aceh, Jumat (12/7/2019).

Karena itu, kata Musannif, pelaku hendaknya dihukum seberat-beratnya. Terutama agar memberikan efek jera dan menjadi pembelajaran bagi publik.

“Ini bukan peristiwa biasa dan jangan dianggap enteng, sebab peristiwa tersebut menimbulkan trauma yang  mendalam dan menimbulkan ketakutan terhadap anak,” katanya.

Apa yang dilakukan pimpinan dan guru pesantren tersebut, kata politisi PPP tersebut, juga telah menghancurkan masa depan para santri yang menjadi korban.

“Penegak hukum harus menerapkan hukum maksimal untuk kasus ini,” katanya.

Sementara terkait operasional pesantren tersebut, Musannif menilai hal itu tak bisa digeneralkan.

Sebab, peristiwa itu dilakukan dalam konteks oknum, bukan kelembagaan. “Jadi kita tidak bisa menyalahkan lembaganya,” kata Musannif.

Apalagi, kata dia, saat ini banyak sekali pesantren yang memiliki kurikulum dan lulusan yang berkualitas.

Terhadap peristiwa tersebut, Musanif mendorong Dinas Pendidikan Dayah melakukan pengawasan rutin terhadap seluruh pesantren di Aceh sesuai Qanun Penyelenggaraan Pendidikan Dayah.

“Mereka juga diberi wewenang yang luas untuk mengawasi dan melihat potensi yang terjadi di setiap pondok pesanteren,” ungkapnya.

Seperti diberitakan, Sat Reskrim Polres Lhokseumawe berhasil mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap santri Pasantren An-Nahla di Kota Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan mengatakan, pelaku pelecehan adalah pimpinan dan guru di pesantren itu sendiri. Mereka masing-masing AI (45) dan MY (26).

Baca: Pelecehan Anak di Bawah Umur, Polisi Tangkap Pimpinan dan Guru Dayah di Lhokseumawe

"Sebagian besar santri yang jadi korban berusia 13 tahun dan 14 tahun," ungkap Indra T Herlambang, Kamis (11/7/2019).

Kedua pelaku sudah ditangkap polisi dan saat ini sedang menjalankan proses hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

Rubrik

Komentar

Loading...