Nadia Murad, Bekas Budak Seks ISIS Dianugerahi Nobel Perdamaian

Nadia Murad, Bekas Budak Seks ISIS Dianugerahi Nobel Perdamaian

BERITAKINI.CO | Pengumuman mengejutkan kembali disampaikan oleh Komite Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia.

Kali ini, peraih penghargaan bergengsi di isu kemanusiaan dan HAM itu jatuh kepada Nadia Murad dan Danis Mukwege, dua orang aktivis yang dikenal giat mengkampanyekan aksi lawan perkosaan.

Nadia Murad adalah seorang wanita keturunan etnis Yazidi yang disiksa dan menjadi korban perbudakan seksual oleh militan ISIS, dan kemudian menjadi wajah kampanye untuk membebaskan kaum Hawa yang senasib dengan dirinya.

Dikutip dari BBC pada Jumat (5/10/2018), Murad menjadi aktivis untuk orang-orang Yazidi setelah melarikan diri dari ISIS pada November 2014. Kini ia giat berkampanye untuk membantu mengakhiri perdagangan manusia, terutama yang terkait kekerasan seksual pada wanita.

Pada tahun 2016, Murad didaulat sebagai duta besar PBB. Ia mendesak Inggris untuk mengikuti jejak Jerman dalam mengizinkan para pengungsi dari komunitas Yazidi ke negaranya.

Dia berkata: "Mereka yang telah kehilangan nyawa, kehilangan segalanya, ini (izin suaka) akan benar-benar menyelamatkan mereka dan memberi kehidupan baru, jika Inggris berkenan melakukan itu."

Pada tahun 2015, Jerman membuka pintunya bagi lebih dari 1.000 wanita dan anak-anak Yazidi yang berhasil melarikan diri dari ISIS, menawarkan perawatan fisik dan emosional untuk mengobati kekerasan seskual yang mereka alami saat disekap.

Awal pekan ini hadiah Nobel untuk fisika diberikan kepada Donna Strickland, yang menjadi pemenang wanita ketiga dari penghargaan tersebut, dan yang pertama dalam 55 tahun terakhir.

Sementara itu, hadiah Nobel untuk pengobatan diberikan kepada dua ilmuwan --Profesor James P Allison dari AS dan Profesor Tasuku Honjo dari Jepang-- yang menemukan cara melawan kanker menggunakan sistem kekebalan tubuh.

Penulis
Rubrik
Sumber
Liputan6.com

Komentar

Loading...