Mengapa Mayoritas Komoditi Aceh Diekspor dari Belawan? Begini Penilaian Dr. Mukhlis Yunus

Oleh ,
Mengapa Mayoritas Komoditi Aceh Diekspor dari Belawan? Begini Penilaian Dr. Mukhlis Yunus

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Aceh membukukan total nilai ekspor sebesar 12 juta USD lebih pada Januari 2017. Dari jumlah itu, hampir 60 persen di antaranya atau 7.245.410 USD, diekspor melalui pelabuhan di luar Aceh, terutama Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara. Sebesar 40 persen sisanya atau senilai 4.845.987 USD, diekspor melalui pelabuhan di Aceh.

Kondisi ini bahkan sudah berlangsung bertahun-tahun. Lantas mengapa eksportir memilih Belawan sebagai pelabuhan ekspornya, bukan pelabuhan-pelabuhan yang ada di Aceh?

Ekonom Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Mukhlis Yunus mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi.

"Pertama, ketersediaan infrastruktur pelabuhan. Infrastruktur yang baik, mendorong terciptanya pelayanan yang lebih baik, begitu juga sebaliknya," ujarnya pada BERITAKINI.CO,  Jumat (3/3/2017).

Selain itu, kelaziman-kelaziman dan kultur budaya kerja orang Aceh yang belum terbiasa dengan kerja keras. Dimana tanggungjawab yang harusnya dikerjakan, namun karena ia ingin berhenti bekerja, maka dia berhenti.

“Jadi shif yang berlaku di pelabuhan-pelabuhan luar belum bisa diterapkan di Aceh,” katanya. 

Faktor penting lainnya, kata Mukhlis, regulasi-regulasi juga belum sepenuhnya mendukung termasuk bank devisa dan penerbitan Letter of Credit (LC)  yang masih lambat, lantaran perbankan juga masih lemah. 

"Sementara di luar sudah main jemput bola, tapi di Aceh belum," katanya.

Selain itu, jaminan komoditi yang belum pasti juga menjadi penyebab.  Artinya, kata Mukhlis, orang beranggapan bahwa Aceh memiliki banyak komoditi yang diproduksi secara rutin, tapi saat  melakukan ekspor, ternyata kurang.

Artinya,  jelas Mukhlis,  garansi produksi hasil alam Aceh itu belum rutin sehingga armada pengangkutan tidak bisa menjamin kapal untuk bisa sekali jalan. “Jadi tidak ada jaminan saat berangkat ada barang pulang juga ada barang,” katanya.

Lantaran tak ada komoditi, katanya, mengakibatkan cost yang harus dikeluarkan relatif mahal. Oleh karena itu, Mukhlis mengatakan, penting adanya integrasi antara pelaku usaha, pemerintah dan juga pengusaha pelabuhan.

Semua pihak perlu turun tangan, terutama Pemerintah Aceh perlu lebih serius menangani persoalan ini. 

Jika tidak, maka tak heran jika banyak komoditi di Aceh tetap akan diekspor dari pelabuhan di luar Aceh.

Baca: Hampir 60 Persen Komoditi Aceh di Ekspor Melalui Sumut

“Karena prinsip dunia usaha selalu mencari memilih sesuatu dengan biaya murah, bagus dan pelayanan yang memuaskan,  maka sudah barang tentu para eksportir memilih ke pelabuhan tersebut,” katanya.

Mereka akan menggunakan pelabuhan-pelabuhan Aceh bila terdapat pelayanan yang lebih ekstra, cost pelabuhan bisa ditekan lebih rendah, koordinasi antar sistem impor-ekspor itu bisa integratif. 

Sejauh ini, kata Mukhlis, eksportir selalu mengatakan “ya” jika diajak melakukan aktivitas melalui pelabuhan Aceh. Tapi secara bisnis mereka lebih diuntungkan di Medan.

"Maka jalannya adalah bagaimana cara pemerintah membuat pelabuhan Aceh itu bisa menjadi lebih ekonomis, efisien dan lebih menguntungkan pengusaha," katanya.(*)

Komentar

Loading...