MA Anulir Hukuman Mati ke Bandar Sabu 20 Kg Asal Aceh Utara

MA Anulir Hukuman Mati ke Bandar Sabu 20 Kg Asal Aceh Utara

BERITAKINI.CO | Mahkamah Agung (MA) menganulir hukuman mati ke bandar sabu 20 kg, Mulyadi Zein menjadi 20 tahun penjara.

Pria kelahiran Babah Buloh, Aceh Utara 19 Desember 1980 itu bagian dari jejaring bandar 20 kg sabu.

Kasus bermula saat Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya meringkus lima kurir narkotika dari kelompok Aceh pada Oktober 2017.

Baca: Bandar Sabu di Aceh Dituntut Hukuman Mati, Tapi Tidak Mati-mati

Dari kelima tersangka tersebut tim Subdit II Psikotropika mengamankan 20,4 kg sabu yang dibungkus dalam kantong teh bermerek.

Salah satu dari kelima orang itu adalah Mulyadi. Tidak mudah bagi polisi menangkap komplotan tersebut. Harus menguntit dari Aceh, ditangkap di Pengandaran, Jabar dan Koja, Jakut.

Atas hal itu, Mulyadi kemudian diadili. Pada 16 Juli 2018, PN Jakut menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Mulyadi. Atas putusan itu, jaksa tidak terima dan mengajukan banding. Gayung bersambut. Permohonan banding dikabulkan.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karen aitu dengan pidana MATI," ujar majelis yang diketuai Sudirman dengan anggota Dahlia Brahmana dan Sri Anggarwati.

Majelis menyatakan tindakan Mulyadi tidak hanya merusak mental generasi muda, tapi juga dapat membunuh secara pelan-pelan penerus bangsa. Perbuatan terdaksa sudah melibatkan pengedar gelap narkotika yang menjadi musuh bersama bangsa Indonesia, bahkan dunia.

"Peredaran gelap narkotika saat ini sudah sangat mengkhawatirkan keselamatan umat manusia sehingga pemerintah mencanangkan keadaan darurat narkotika," ujar majelis dengan bulat.

Mengetahui hukuman mati itu, Mulyadi tidak terima dan buru-buru mengajukan kasasi. Apa kata MA?

"Menolak permohonan kasasi dari Terdakwa tersebut dengan memperbaiki mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa menjadi pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar dengan subsider pidana penjara selama 3 bulan," kata juru bicara MA, hakim agung Andi Samsan Nganro kepada detikcom, Kamis (4/4/2019).

Perkara nomor 416 K/PID.SUS/2019 diadili oleh ketua majelis hakim agung Suhadi dengan anggota hakim agung Desnayeti dan hakim agung MD Pasaribu.

Editor
Rubrik
Sumber
DETIK.COM

Komentar

Loading...