Keluarga TNI Sejati, Ayah & Anak Jadi Pasukan Kopassus, Akhirnya Jadi Jenderal & Pimpin Prajurit

Keluarga TNI Sejati, Ayah & Anak Jadi Pasukan Kopassus, Akhirnya Jadi Jenderal & Pimpin Prajurit

BERITAKINI.CO | Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal TNI Andika Perkasa, memimpin Sertijab Pangdam Jaya, Pangdam V/Bwj, Aster Kasad, Danpusterad dan Danjen Kopassus.

Acara berlangsung di di Guest House Mabes TNI AD, Cilangkap, Jakarta Timur pada Kamis (31/1/2019).

Jenderal TNI Andika Perkasa juga menerima pelaporan kenaikan pangkat 14 Pati TNI AD.

Jabatan Danjen Kopassus diserahterimakan, dari Mayjen TNI Eko Margiyono kepada Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, yang semula menjabat sebagai Perwira Staf Ahli Tingkat III Bidang Polkamnas Panglima TNI.

Dengan adanya serah terima ini, berarti sejak 1952 hingga saat ini sudah ada 31 orang menjadi Danjen Kopassus.

Tapi tahukah Anda, sebenarnya ada keluarga Jenderal TNI yang totalitas, ayah mertua dan anak Kopassus semua.

Itulah keluarga Jenderal TNI Andika Perkasa dan Jenderal TNI (purn) AM Hendropriyono.

Andika Perkasa lulusan Akademi Militer 1987, sementera AM Hendropriyono lulusan Akademi Militer Nasional 1967, atau 20 tahun sebelumnya.

Tahukah Anda siapa AM Hendropriyono? Jenderal purnawirawan TNI ini bukan hanya pernah menjabat Kepala Badan Intelijen Negara.

AM Hendropriyono merupakan mertua dari KSAD, Jenderal TNI Andika Perkasa. AM Hendropriyono merupakan "master of intelligence", profesor intelijen pertama di dunia.

Menelusuri jejak AM Hendropriyono sangat menarik, karena dia ternyata merupakan anggota Puspassus, cikal bakal Kopassus.

Abdullah Makhmud Hendropriyono atau dikenal AM Hendropriyono memiliki jejak melegenda sebagai seorang jenderal.

Pada masanya, AM Hendropriyono menjadi ujung tombak pertempuran pasukan elite Kopassandha yang kini bernama Kopassus.

Selain itu, Hendropriyono pun masuk ke ranah intelijen sebagai Kepala Badan Intelijen (BIN) pertama.

Selama berkarir di dunia militer, AM Hendropriyono terlibat dalam sejumlah operasi yang membesarkan namanya.

AM Hendropriyono dikenal sebagai penuntas insiden bersejarah, Peristiwa Talangsari 1989.

Kala itu, AM Hendropriyono berhasil menindak potensi radikalisme dari Kelompok Warsidi di Talangsari, Lampung.

Pertempuran antara tim Kopassus yang dipimpin AM Hendropriyono pun menumbangkan Kelompok Warsidi itu.

Sebelum Peristiwa Talangsari 1989, AM Hendropriyono pernah melakukan aksi heroik bertempur dengan Pasukan Gerilya Rakya Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).

Awalnya, pemerintah Soekarno sengaja membentuk pasukan gerilya saat konfrontasi Indonesia-Malaysia, pada 1963-1966.

Kedua pasukan itu dilatih secara khusus oleh TNI di Surabaya, Bandung, dan Bogor.

Namun, ketika kekuasaan Indonesia berpindah tangan pada Soeharto, anak asuh TNI itu justru berbalik menjadi musuh.

Soeharto memutuskan berdamai dengan Malaysia. Kemudian, pasukan gerilya itu diminta untuk menurunkan senjata.

Namun, PGRS dan Paraku rupanya mengabaikan permintaan itu. Mau tak mau, pihak TNI pun harus menertibkan aksi para gerilyawan itu.

Akhirnya, AM Hendropiyono bersama timnya bernama Sandi Yudha turun tangan bertempur di hutan rimba kawasan Kalimantan.

Sandi Yudha ini merupakan satuan intelijen tempur milik pasukan elite yang kini bernama Kopassus.

Awalnya, AM Hendropriyono berusaha keras untuk mengambil hati lawan tanpa tindakan keras.

Tim Sandi Yudha ini beberapa kali berhasil mencuri simpati mereka. Satu di antaranya, dengan Wong Kee Chok, komandan PGRS.

Namun, tak semua bisa diselesaikan secara baik-baik. Pada akhirnya, pilihan terakhir pun dilakukan tim Sandi Yudha, yakni menggunakan tindakan keras.

Mulai dari penculikan dan interogasi, hingga melakukan perlawanan. Perlawanan yang membekas diingatan AM Hendropriyono, yakni berduel dengan Hassan, yang juga komandan PGRS.

Kala itu, ia bersama tim kecil sebanyak delapan orang harus mengintai gubuk Hassan semalaman.

Secara hati-hati, satu di antara timnya kemudian membunuh penjaga gubuk yang memegang senjata api menggunakan sangkur.

Kemudian, Hendropriyono pun harus menembak Hassan untuk melumpuhkan lawannya itu. Ia bahkan membanting tubuh Hassan menggunakan jurus bela dirinya.

Duel sengit satu lawan satu itu dilakukan AM Hendropriyono untuk menumbangkan lawan. Paha dan jari-jarinya terluka parah karena terkena sangkur Hassan.

Serangan Hassan itu bahkan nyanris mengenai dada AM Hendropriyono. Sebelumnya, saat melakukan misi di Kalimantan itu, AM Hendropriyono yang saat itu masih berpangkat kapten harus merayap sejauh 4,5 kilometer.

Saat merayap menuju markas musuh itulah, anggota Kopassus itu melewati sarang ular Kobra. Karena sudah terlatih menjinakkan ular, pasukan elite ini melewati dengan mudah.

Pertempurannya di Kalimantan ia tulis dalam buku berjudul Operasi Sandi Yudha: Menumpas Gerakan Klandestin

Keandalannya dalam berbagai operasi pertempuran membuat AM Hendropriyono dipercaya sebagai Kepala BIN.

Tidak hanya mengurus bawahannya di BIN, ia pun membetuk regenerasi melalui pendirian Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Selain sekolah, AM Hendropriyono pun menggagas Sumpah Intelijen, Mars Intelijen, hingga logonya.

Dalam pendidikan, AM Hendropriyono bahkan menerangkan intelijen sebagai ilmu. Sepak terjangnya ini menjadikan AM Hendropriyono menjadi tokoh militer dan intelijen ternama.

Ia bahkan dinobatkan sebagai guru besar intelijen pada 2014. Hal itu membuat AM Hendropriyono menjadi profesor intelijen pertama di dunia.

Rubrik
Sumber
tribunnews.com

Komentar

Loading...