Wanita Pulo Aceh Terpaksa Diseberangkan ke Banda Aceh untuk Melahirkan, Kadiskes Aceh Besar: Tak Ada Keluhan Soal Kesehatan

Wanita Pulo Aceh Terpaksa Diseberangkan ke Banda Aceh untuk Melahirkan, Kadiskes Aceh Besar: Tak Ada Keluhan Soal Kesehatan
Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Lukman | Foto: BERITAKINI.CO/Dayat Pulo

BERITAKINI.CO | Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Lukman mengaku tak mendapat keluhan soal pelayanan kesehatan di Pulo Aceh. Hal ini disampaikannya merespon fenomena seorang wanita yang sedang hamil tua namun tidak mendapat pelayanan kesehatan maksimal di Pulo Aceh karena tak ada bidan, sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Meuraxa pada Selasa pekan lalu.

Baca: Bidan Tak di Tempat, Warga Pulo Aceh yang Hamil Tua Terpaksa Diseberangkan ke Banda Aceh

Menurut Lukman, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali dan dirinya serta sejumlah pejabat Dinas Kesehatan Aceh Besar sudah turun langsung ke Pulo Aceh untuk menanyakan keluhan terkait pelayanan kesehatan di sana.

Mawardi Ali, kata Lukman, juga langsung membuka diskusi dengan semua staf puskesmas di daerah tertinggal itu.

"Jadi, kita membuka wawancara dengan petugas yang ada di masyarakat, petugas kita yang ada di Pulo Aceh. Sebelumnya Pak Bupati sudah membuka kesempatan tanya jawab dengan warga Gampong Seurapong, tapi hasilnya tidak ada yang menyatakan persoalan kesehatan," kata Lukman pada BERITAKINI.CO, Senin (15/4/2019) di Banda Aceh.

Justru kata dia, persoalan yang lebih disorot di Pulo Aceh bukanlah terkait kesehatan, tapi masalah pendidikan, olahraga dan transportasi.

"Memang saya tunggu (keluhan warga) tidak ada yang dibicarakan masalah kesehatan. Karena tidak ada warga yang mengeluhkan tentang kesehatan, akhirnya bupati mengambil langkah meninjau langsung di puskesmas," katanya.

Sampai di Puskesmas Pulo Aceh, Bupati memberikan kesempatan pada petugas kesehatan untuk menyampaikan klarifikasi.

Ternyata, kata Lukman, para petugas kesehatan membantah informasi warga Pulo Aceh hamil tua dan melahirkan harus diseberangkan ke Rumah Sakit di Banda Aceh, itu.

Para petugas kesehatan tersebut mengaku ada di tempat pada saat kejadian, bahkan mereka mengaku bahwa merekalah yang membawa pasien ke Banda Aceh.

"Kemudian pasiennya pun dalam keadaan terinfus pak. Ppasien itu dengan resiko tinggi (resti), karena sudah 12 tahun tidak pernah melahirkan," kata Kadis meniru pengakuan petugas kesehatan di Pulo Aceh.

Alasan lainnya, karena petugas kesehatan di Pulo Aceh itu sebelumnya sudah menyarankan agar pasien tidak melahirkan di sana tapi harus di bawa ke Banda Aceh.

Lanjut Kadis, saat itu petugas kesehatan mengaku jika pasien melahirkan nanti tidak mungkin ditolong di Pulo Aceh, karena itu harus di bawa ke Banda Aceh, karena faktor resti.

"Resiko tinggi ini kan tak mungkin dilayani di tingkat pelayan dasar di Puskesmas Pulo Aceh dengan serba minim kondisi pelayanannya. Jadi, terakhir ketika sakit pagi itu, pasien mencari bidan, memang bidan hari itu tidak ada di tempat," kata Lukman.

"Kalau petugas lain ada empat orang, informasinya. Sehingga ini khusus difasilitasi oleh perawat kita yang sudah D3, yang sudah memenuhi standar memberikan pelayanan, pulang ke Banda Aceh."

Pada Sabtu, 13 April kata Kadis, pasien sudah bisa pulang ke Pulo Aceh dengan selamat dan bertemu dengan petugas Dinas Kesehatan Aceh Besar saat hendak ke Pulo Aceh, dari Banda Aceh.

"Kami tidak sengaja (bertemu di boat), kami menugaskan tim kami pada hari Sabtu, tiba-tiba pasien itu naik boat itu, ada anak bayinya Alhhamdulilah sehat, dan tidak ada masalah seperti yang beliau katakan mencari petugas kesehatan sampai dilarikan seperti bahasa kemarin," katanya.

Kadiskes Cari-cari Alasan

Sementara keluarga pasien, Abbas, saat dikonfirmasi ulang oleh BERITAKINI.CO via seluler membantah keras pernyatan Kadis Kesehatan Aceh Besar yang dianggapnya hanya mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari masalah.

"Mereka sangat mudah berbohong, padahal itu kewajiban mereka sebagai tenaga kesehatan yang bertugas di Pulo Aceh. Seharusnya mereka malu berbohong," kata Abbas.

Abbas menegaskan bahwa hanya ada satu petugas kesehatan bernama Mis (nama paggilan) yang saat itu berada di tempat.

"Tapi kan dia petugas laki-laki, mana bisa melayani perempuan melahirkan sendiri. Kalau dia bidan walaupun sendiri tidak masalah," katanya.

Abbas juga menyesalkan karena bidan di Pulo Aceh ternyata mengaku bahwa mereka ada di sana saat kejadian.

"Kalau memang mereka ada di sana tidak mungkin kami bawa pasien ke Banda Aceh. Kami tau hamil tua, makanya karena itulah kami tidak ingin menunggu lama, langsung bawa ke Banda Aceh agar tidak mengancam nyawa akibat tak ada petugas yang bertanggung jawab," kata Abbas.

Bukan hanya itu, Abbas juga menyesalkan sikap Dinas Kesehatan Aceh Besar, karena walaupun sudah berkunjung ke Pulo Aceh tapi tak ada inisiatif menjenguk kakak iparnya di rumah.

"Kalau etika kita kan adalah menjenguk sebagai bentuk permintaan maaf begitu, tapi ini sudah ramai-ramai ke Pulo Aceh tak ada yang datang ke rumah. Mereka boleh membela diri, tapi masyarakat bisa menilai siapa yang berbohong," kata Abbas.

"Sebenarnya itu dijadikan pelajaran agar tidak terjadi lagi hal serupa, karena kasus tidak ada bidan saat wanita melahirkan seperti ini bukan yang pertama kali. Silahkan datang ke Pulo Aceh tanyakan langsung pada warga yang netral, bukan yang ada kepentingan, apalagi ini musim politik dan bawa-bawa caleg."

Rubrik
Iklan Sabang Merine

Komentar

Loading...