Jufri Hasanuddin: Kita Patut Dukung Pemerintah Akmal

Jufri Hasanuddin: Kita Patut Dukung Pemerintah Akmal

SEBAGAI politisi, Jufri Hasanuddin tentu memiliki lawan politik. Dan jika boleh dikatakan, salah seorang di antaranya adalah Akmal Ibrahim, Bupati Abdya terpilih. Meski tak langsung berhadap-hadapan pada Pilkada 2017, Jufri memang memiliki riwayat rivalitas dengan Akmal.

Pada 2012 lalu, misalnya, dia berhasil menumbangkan Akmal Ibrahim yang saat itu merupakan calon petahana. Pada Pilkada 2017, Jufri memutuskan tak maju lagi. Dukungan politiknya diberikan pada pasangan HM Qudusi Syam Marfali-Hamdani.

Di beberapa kesempatan menjadi juru bicara kampanye, tak jarang Jufri menyerang lawan-lawan politiknya, tak kecuali Akmal.

Meski begitu, Jufri gagal mengantarkan pasangan HM Qudusi Syam Marfali-Hamdani untuk menyambung estapet kepemimpinannya yang akan berakhir 13 Agusus 2017 mendatang. Akmal Ibrahim berhasil mengunci kemenangan dan akan memimpin Abdya 2017-2022 mendatang.

Tapi bagi Jufri, kontestasi telah usai. Rivalitas politik juga harus ditanggalkan. Dia memutuskan untuk mendukung pemerintah terpilih.

Tapi apa alasan kongkrit sehingga Jufri akhirnya mendukung pemerintahan rivalnya itu? Lantas, kemana pula langkah politik Jufri setelah turun dari kekuasaan?

A. Putra dari BERITAKINI.CO mewawancarainya pada 28 Juni 2017 lalu di Pendopo Bupati Abdya. Seperti apa penjelasannya, berikut petikannya.

***

Kepemimpinan Anda akan segera berakhir, apa kira-kira yang ingin Anda sampaikan untuk Abdya?

Masyarakat Abdya begitu heterogen dan tingkat pendidikan di atas rata-rata. Eskalasi politiknya juga luar biasa.

Tapi ketika kita samakan hati, maka akan sangat mudah membangun Abdya ini. Ini sudah terbukti.

Di saat  hiruk-pikuk politik sedang berlangsung, tapi saat kita gelorakan semangat menyatukan, "Abdya harus kita selamatkan", bahkan orang-orang yang berseberangan pandangan politik juga akan bersatu membantu pemerintah.

Karena itu, dengan kebersamaan, banyak perubahan yang bisa kita bumikan. Saya berharap, rasa cinta dan kebersamaan untuk Abdya ini peting selalu dipupuk, digelorakan dan kampanyekan. Dengan begitu, kita akan melihat hasil yang luar biasa nanti.

Mundur sedikit, sebetulnya apa alasan Anda tidak ikut dalam kontestasi Pilkada 2017?

Begini. Saya ingin katakan, apapun yang saya lakukan di Abdya, sesungguhnya bukankah untuk popularitas dan elektabiltas. Apa yang saya perbuat hanyalah agar Abdya ini berubah ke arah yang lebih benar. Bahkan saya tak sungkan membunuh syahwat politik saya untuk maju kembali sebagai calon bupati, semua demi kepentingan Abdya.

Karena itu, sejak awal saya sudah kampanyekan bahwa saya tidak akan maju lagi. Saya katakan, saya ingin mendedikasikan diri untuk Abdya, membangun Abdya, bukan untuk mempertahankan kekuasaan.

Hasilnya, saya mendapat efek yang luar biasa, terutama dari kalangan birokrat. Saya melihat muncul kesamaan visi untuk membangun Abdya, baik dari birokrat dan tokoh-tokoh masyarakat.

Anda gagal mengantarkan pasangan yang Anda dukung, begitu juga dengan pasangan calon yang diusung bekas partai Anda, apa pendapat Anda soal ini?

Saya ingin katakan, kemenangan itu bukan datang dari kita. Bukan tim, bukan kandidat, tapi Allahlah yang telah memenangkan,.

Seperti kemenangan saya 2012 lalu. Itu bukan karena hebatnya saya atau juga kemenangan PA, tapi memang sudah dimenangkan oleh Allah.

Karena itu, kita harus memberikan apresiasi dan dukungan pada figur yang menang hari ini. Karena kemenangan ini juga karena Allah.

Allah ingin memenangkan Akmal dan apa yang terjadi hari ini adalah kehendak Allah. Makanya kita harus dukung, karena kalaupun kita tidak dukung Akmal, maka yang bahaya bukan Akmal, melainkan Pemerintah Abdya.

Maksud Anda?

Karena jika kita marah pada Akmal, setiap hari kita hardik, misalnya, sementara di tangan Akmal itu ada Aceh Barat Daya. Nah, bisa dibayangkan nanti seperti apa efeknya.

Karena itu, saya sendiri mendukung bupati yang sudah terpilih. Karena dengan kita mendukung kepemimpinannya, maka yang terjadi adalah keselamatan dan kesejahteraan Pemerintah Abdya.

Apa pendapat Anda soal Erwanto dari Partai Aceh?

Erwanto adalah orang yang kuliah di Eropa, Erwanto adalah orang yang dekat dengan Mualem (Muzakir Manaf), Erwanto adalah orang yang saya tahu persis sangat dekat dengan Mualem.

Kemudian saya tempatkan dia sebagai wakil bupati, karena jauh-jauh hari saya ingin mempersiapkan dia sebagai “putra mahkota”.

Padahal, banyak partai menawarkan saya untuk maju lagi, Nasdem menawarkan, Demokrat menawarkan, tapi saya tidak naik.

Saya juga pernah sampaikan pada Erwanto, "Erwanto abang hana majule (Erwanto abang tidak maju lagi)." Saya ingin mendorong Erwanto karena saya ingin menunjukkan bahwa PA itu bukan hanya diisi orang-orang paket C, bukan hanya orang dari dayah, saya ingin jual bahwa ada juga orang lulusan Eropa, ini niat saya dari awal.

Lantas mengapa belakangan justru berseberangan?

Tapi blunder yang dilakukan oleh Erwanto. Dia memecat Nazir yang telah memiliki banyak jasa untuk Partai Aceh. Nazir itu adalah orang yang baru turun gunung, orang yang mampu memenangkan 9 kursi DPRK Abdya pada 2009 dan memenangkan 1 kursi di DPRA. Kemudian di 2012 dia berhasil memenangkan bupati. Kemudian 2014 dia berhasil memperjuangkan 2 anggota DPRA dan 7 DPRK. Tiba-tiba Erwanto memecatnya dengan sangat mengenaskan. Ini yang membuat saya marah, saya melihat ini perlakuan tidak manusiawi.

Terlepas dari politik, apa sesungguhnya pencapaian yang sudah anda lakukan selama memimpin?

Sesungguhnya cukup banyak. Untuk sektor pertanian, misalnya, kita berhasil menggenjot produksi gabah di Abdya yang cukup signifikan. Pada 2012 lalu, ketika masa panen, awalnya itu 6,7 ton per hektar, lalu berangsur-angsur naik menjadi 7,3 ton dan puncaknya pernah 8,7 ton. Ini tak tertandingi di seluruh Aceh, mohon maaf, bukan pamer. Progres ini selalu meningkat, meski di tengah kondisi alam yang tidak mendukung, apalagi di tengah pupuk yang dimonopoli. Tapi Alhamdulillah dalam hal pertanian, sudah luar biasa.

Tapi inilah mungkin kelemahan saya karena tidak mau pamer. Saya memahami, publikasi itu penting untuk pengetahuan, tapi kalau pamer itu cenderung untuk popularitas dan elektablitas. Dan saya memang tidak butuh itu.

Hanya pertanian saja?

Sebenarnya perikanan juga menjadi andalan kita, namun infrastruktur terbatas. Memang ada hambatan dalam urusan infrastruktur perikanan yang agak susah kita tembus ke pusat, karena terbatasnya anggaran di Abdya dan provinsi sangat menyulitkan kita untuk mengembangkan sektor perikanan. Berbicara pengembanganan perikanan tanpa infrasruktur akan omong kososng.

Begitupun saat kita membuat proposal ke pusat, maka yang selalu turun adalah jalan dan jembatan, serta kesehatan. Coba lihat rumah sakit sudah cukup bagus, jalan dan jembatan juga bagus.

Inilah penyebabnya, sehingga bagaimana kita mendorong dan mengembangkan sektor perikanan, sementara pemerintah pusat dan Aceh itu masih berpihak-pihak.

Santer berkembang Anda akan ambil bagian pada pemilu legislatif mendatang?

Memang tersedia ruang untuk saya ikut pemilu legislatif. Pertama, masa jabatan saya memang sudah berakhir sebagai bupati. Sementara, orang-orang yang selama ini memerhatikan saya, mendorong dan menyokong saya untuk ke sana. Jika Allah mengizinkan, tentu saya akan berbahagia sekali.

Maksudnya?

Kalau selama ini fokus di Abdya, di DPR RI, saya bisa fokus untuk Aceh. Apalagi, penduduk barat-selatan itu berjumlah lebih kurang 600 ribu jiwa, tapi tidak ada orang barat-selatan di Senayan.

Soal partai seperti apa?

Saya belum dapat pastikan.

Benarkah PKS?

Apakah akan maju melalui PKS, belum bisa dipastikan. Banyak hal yang harus dipikirkan untuk maju sebagai angggota DPR RI. Jangan sampai nanti setelah banyak orang yang memilih, tapi kita tidak bisa mewakili. Karena salah berhitung kita menciderai aspirasi mereka. Misalnya ada yang memilih kita sebanyak 60.000 orang, tahu-tahu bukan kita yang mendapat kursi. Ini cukup menzalimi, siapa yang salah? Ya kita yang salah karena tidak menghitung, makanya kita harus menghitung.(*)

Penulis
Rubrik

Komentar

Loading...