Jejak Pencetus Kopassus; Berjasa Tumpas Berbagai Pemberontakan hingga Marah Besar Tampar Soeharto

Oleh ,
Jejak Pencetus Kopassus; Berjasa Tumpas Berbagai Pemberontakan hingga Marah Besar Tampar Soeharto
Soeharto dan Alex Kawilarang (kolase tribunnews.com)

BERITAKINI.CO | Buku berjudul 'Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975-1983' tulisan David Jenkins (1984) menguak sejarah militer Indonesia. Salah satu jejak sejarah itu adalah cerita Soeharto ditampar oleh atasannya saat masih aktif di militer.

Soeharto dikabarkan pernah ditampar oleh seorang panglima militer yang merupakan pencetus berdirinya Komando Pasukan Khusus (Kopassus) atau Korps Baret Merah.

Sosok yang menampar Pak Harto itu tak lain adalah Alex Evert Kawilarang. Ia saat itu menjabat sebagai Panglima, yang notabene adalah atasan Soeharto yang masih berpangkat Letnan Kolonel (Letkol).

Peristiwa Alex menampar Soeharto terjadi medio 1950-an. Sebagai Panglima Wirabuana, Alex Kawilarang melaporkan kepada Presiden Soekarno bahwa keadaan di Makassar, Sulawesi Selatan, sudah aman.

Namun, Soekarno justru menyodorkan radiogram yang baru saja diterimanya yang melaporkan bahwa pasukan KNIL Belanda sudah menduduki Makassar.

Brigade Mataram, pasukan yang seharusnya mempertahankan Kota Makassar, dilaporkan saat itu telah mundur ke Lapangan Udara Mandai.

Mendengar radiogram tersebut, Kawilarang yang berpangkat Kolonel, memutuskan segera kembali ke Makassar. Ketika itu ia dikabarkan marah besar. Setibanya di Lapangan Udara Mandai, ia langsung memarahi Komandan Brigade Mataram, Letkol Soeharto, sambil menamparnya.

"Sirkus apa-apaan nih?" kata Kolonel Alex sambil menampar pipi Letkol Soeharto.

Bagaimana reaksi Soeharto? Beliau hanya bisa menahan sakit sambil bersungut-sungut karena kelalaiannya dalam menjalankan tugas.

Dilansir dari Wikipedia, Dalam satu wawancara, Kawilarang membantah telah menyerang Soeharto. Tetapi, ia mengakui harus menegurnya pada waktu itu.

Dilansir dari laman kopassus.mil.id, Alex Kawilarang lahir di Jakarta 23 Pebruari 1920. Jabatan terakhir dalam pemerintahan resmi adalah Atase Militer di KBRI Washington (1957).

Setelah tahun itu nama Alex Kawilarang lebih sering dihubung-hubungkan dengan angkatan perang PRRI/Permesta (1959).

Alex Kawilarang dikenal sebagai seorang yang berdarah militer. Ayahnya seorang perwira KNIL yang pada tahun 1910 sudah mendapat pendidikan sekolah perwira di Jatinegara.

Alex sendiri setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Bandung masuk CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren =Korps Pendidikan Perwira Cadangan)

Pada tahun 1941, Alex Kawilarang masuk Koninklijk Militair Academia=Akademi Militer Kerajaan (KMA), yang dipindahkan dari Breda (Belanda) ke Hindia setelah serbua Jerman atas Belanda (1940).

Karena dinilai sangat cakap, Alex ditunjuk menjadi instruktur pada akademi militer tersebut dan ikut bertempur melawan Jepang. Bahkan, ia pernah merasakan siksaan sebagai tawanan Jepang.

Pada awal revolusi Alex bersama sejumlah rekannya di CORO dan KMA ikut menyusun tentara keamanan rakyat di wilayah Jawa Barat.

Tahun 1946 Alex diangkat sebagai Komandan Brigade II untuk wilayah yang mencakup Cianjur, Bogor, dan Sukabumi dengan pangkat Letnan Kolonel.

Dalam Agresi Belanda pertama (pertengahan 1947), Alex Kawilarang mendapat ultimatum dari Belanda untuk menyerah. Ultimatum itu tidak digubrisnya. Alex menjawab bahwa ia bersama rekannya lebih suka mati dari pada menyerah.

Kota Sukanegara yang menjadi markas Brigade II direbut Belanda, namun Alex telah membumihanguskannya terlebih dahulu.

Seiring dengan berlakunya Perjanjian Renville, Alex Kawilarang ikut pindah ke Yogyakarta.

Pada bulan Agustus 1948 Alex dikirim ke Sumatera untuk ikut mengadakan reorganisasi ketentaraan di sana. Setelah penyerahan kedaulatan, ia diangkat sebagai Panglima Teritorium Sumatera Utara dan berkedudukan sebagai Gubernur Militer (1950).

Alex kemudian ditugaskan untuk menumpas pemberontakan militer Andi Azis di Sulawesi Selatan. Dalam operasi tersebut ia diangkat sebagai Panglima dari semua satuan (darat, laut dan udara) yang bertugas menjalankan operasi di wilayah Indonesia Timur.

Setelah pemberontakan tersebut berhasil ditumpas, Alex kembali ditugaskan untuk mengatasi pemberontakan RMS di Maluku dan Kahar Muzakar.

Pada bulan November 1951, Alex diangkat sebagai Komandan Teritorium III Jawa Barat dengan pangkat Letnan Kolonel.

Sebagai Panglima Divisi Siliwangi ia terjun langsung dalam penumpasan gerombolan Darul Islam pimpinan Karto Suwiryo. Alex kemudian diangkat sebagai Atase Militer di KBRI Washington hingga tahun 1957.

Ia selanjutnya mengajukan pengunduran diri karena tidak setuju dengan kebijaksanaan pemerintah pusat dalam menangani kasus Permesta.

Sejak saat itu namanya sering dicantumkan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang PRRI/Permesta.

Dari pengalaman menumpas sejumlah pemberontakan tesebut, Alex kemudian mencetuskan ide agar Indonesia mempunyai pasukan khusus dengan kemampuan hebat.

Alex berkaca kepada Korps Speciale Troepen (KST), baret hijau milik Belanda. Ide tersebut banyak didiskusikan dengan Letkol Slamet Riyadi.

Pada saat inilah Alex memprakarsai dibentuknya Kesatuan Komando yang terlatih bertempur dalam satuan-satuan kecil yang serba bisa dan dapat diandalkan.

Rubrik
Sumber
medan.tribunnews.com

Komentar

Loading...