Irjen (purn) Iskandar Hasan: Alangkah Ruginya Aceh Jika Tak Memilih Muzakir Manaf-TA Khalid

Irjen (purn) Iskandar Hasan: Alangkah Ruginya Aceh Jika Tak Memilih Muzakir Manaf-TA Khalid
Foto: BERITAKINI.CO/Irwan Saputra

USAI mengakhiri karirnya di Kepolisian, Iskandar Hasan memang aktif di politik. Pensiun awal 2013 lalu, dia langsung meramaikan Pemilihan Umum Gubernur Sumatera Selatan. Tapi langkah purnawirawan jenderal bintang dua ini belum membuahkan hasil. Masyarakat Sumatera Selatan masih mempercayai Alex Noredin sebagai pemimpin mereka.

Meski tingkat pupularitasnya tak mampu menyaingi Alex di Sumatera Selatan, namun nama Iskandar cukup familiar bagi warga Aceh. Bukan saja lantaran pernah menjabat sebagai kapolda di Tanah Rencong. Jauh sebelum itu, Iskandar juga sudah pernah menjabat sebagai kapolres Aceh Utara.

Dan aktivitas politik Iskandar sepertinya belum akan berakhir. Senin malam(12/12/2016), Iskandar bahkan telah dikukuhnya sebagai anggota Dewan Pembina Tim Pemenangan Pasangan Muzakir Manaf-TA Khalid.

Kedekatan Iskandar dengan kalangan mantan kombatan GAM ini memang sudah tercium publik sejak jauh-jauh hari. Dia dikabarkan memiliki basis bisnis di Aceh yang berkerjasama dengan mantan kombatan GAM.

Seperti dilansir sejumlah media pers lokal, di Bireuen, misalnya, Iskandar Hasan disebut-sebut memiliki Pabrik Minyak Kelapa Mini di Desa Cot Trieng, Kecamatan Kuala. Pada peresmiannya 2012 lalu, pabrik ini beroperasi di bawah bendera CV Jepisha Sunsri yang katanya akronim dari “Jenderal Polisi Iskandar Hasan Sutri Hamdani Tun Sri Muhammad Mukminin Al-Kahar alias Abu Razak”.

Itulah sebabnya, keterlibatan mantan Kabid Humas Mabes Polri ini di dalam tim pemenangan tak begitu mengejutkan publik Aceh.

Tapi Iskandar punya alasan sendiri mengapa akhirnya menjadi bagian dari tim Pemenangan Muzakir Manaf-TA Khalid. Seperti apa penjelasannya, Wartawan BERITAKINI.CO Irwan Saputra mewawancarai Iskandar Hasan secara khusus, Senin malam (12/12/2016). Wawancara berlangsung di Amel Convention Hall, Banda Aceh, usai pengukuhan Tim Pemenangan Pusat Muzakir Manaf-TA Khalid.

Apa alasan Anda masuk dalam tim pemenangan pasangan calon nomor urut 5?

Karena saya mengenal sosoknya. Saya menilai Pak Muzakir Manaf dari hatinya. Dia ingin membangun Aceh dari hal yang paling dasar. Perjuangan beliau sampai terwujudnya MoU Helsinki itu beliau lakukan dari bawah. Jadi beliau tahu semua penderitaan rakyat Aceh selama ini.

Bagaimana Anda menyakini itu?

Saya ini pernah menjabat kapolres Aceh Utara dan beberapa tahun kemudian dilantik sebagai kapolda. Sebagai kapolda kemarin saya ingin membangun Aceh ini yang fundamental. Apalagi sejak ada kesepakatan  MoU Helsinki, Aceh memiliki banyak sumberdaya finansial. Namun, dari sekian jumlah uang yang berada di Aceh, sayangnya belum dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan saya melihat, keinginan besar untuk mengkonversi sumberdaya finansial untuk kesejahteraan rakyat ini ada di Mualem.

Pada calon lain?

Saya tidak menilai calon lain. Saya ingin mengatakan, alangkah ruginya kalau ke depan masyarakat tidak memilih Muzakir Manaf-TA Khalid. Menurut saya, pasangan ini saya nilai cukup ideal. Mualem mengusai PA dengan jajarannya, sementara TA Khalid ketua partai nasional di Aceh yang punya jaringan cukup bagus, sehingga saya pikir ini adalah pasangan yang cukup solid untuk membangun Aceh ke depan.

Sebab, membangun Aceh ini tidak bisa hanya sesama orang Aceh. Kita juga harus mengajak orang lain. Karena, banyak sumber dana itu dari investor, yang berada di luar Aceh dan luar negari, ini yang harus di tarik ke Aceh, jadi sosok Mualem - T A Khalid ini saya yakin akan membuat investror tertarik untuk masuk ke Aceh.

Apakah cukup dengan itu saja?

Selain itu tentu saja pengelolaan keuangan yang bagus. Saya berharap sisa otonomi khusus untuk Aceh 12 tahun lagi, jangan sampai sia-sia. Saya pikir, masih cukup besar duitnya, jadi alangkah sayangnya jika duit sebanyak itu tidak mensejahterakan masyarakat.

Tadi Anda menyebutkan membangun secara fundamental, bagaimana maksud Anda?

Yang dimaksud fundamental menurut saya adalah membangun sektor rill, seperti peratanian, perkebunan dan perikanan. Saat saya menjabat kapolres Aceh Utara, pernah membuat surat waktu itu kepada bupati yaitu Tarmizi Karim, saya tembuskan juga gubermur saat itu. Saya katakan, waktu itu perusahaan-perusahaan besarkan masih banyak di Aceh Utara, saya bilang duit-duit ini kenapa tidak dipergunakan untuk membangun tiga sumber utama. Karena, kalau itu dibangun saya pikir sampai sekarang kita masih merasakan hasilnya itu. Seperti  pertanian, bukankah ini tidak akan habis karena bergulir terus, yang kedua perkebunan, karena Aceh cukup bagus perkebunan, kalau dulu saya lihat, karet aceh, kopi, coklat, pinang dan sekarang ada sawit. Komoditi ini menurut saya adalah hasil-hasil Aceh yang harus dikembangkan ke depan, termasuk kelapa, kemudian perikanan. Karena, Aceh ini dikelililing laut, walau diambil beribu ton tiap hari ikan dilaut, nggak akan habis, cuma tinggal bagaimana teknis mengambil itu.

Selain tiga sektor itu?

Tinggal memaksimalkan Sabang. Bagaimana agar hasil Aceh ini tidak keluar dari Medan lagi kemudian balik lagi ke Aceh. Tapi bisa di ekspor keluar sehingga menjadi nilai tambah bagi daerah. Nah, gagasan dan semangat untuk itu ada pada Muzakir Manaf dan pasangannya.

Muzakir Manaf punya riwayat kepemimpian yang tidak harmonis dengan Zaini Abdullah, apakah ini tidak berpotensi terulang dan merugikan Aceh?

Waktu pasangan ini naik saat itu, saya kan sebagai kapolda. Empat bulan pertama saya  melihat masih bagus, kemudian mulai retak. Saya tidak melihat masalah pribadi-pribadi beliau berdua. Tapi saya pikir keduanya ini ada perbedaan pendapat dalam pengelolaan pemerintah itu. Tapi duet yang saat ini saya nilai jauh dari potensi itu. Keduanya sangat seiring sejalan.

Ada beberapa calon lainnya yang cukup potensial di Aceh, katakanlah Irwandi yang sudah pengalaman dan Tarmizi Karim yang juga kenyang asam garam?

Saya melihat hati Muzakir yang lebih bagus. Saya tidak membandingkan dengan yang lain saya melihat hantinya lebih bagus. Inilah sebab musabab awal pecah kongsi. Jadi kalau saya lihat hanya Muzakir dan PA yang masih komitmen dengan perjanjian MoU Helsinki.

Beliau masih mempertahankan itu, sementara yang lain, mohon maaf ya, mereka sudah keluar dari jalur itu. Saya tidak bilang pengkhiatan tapi paling tidak sudah berubah.

Anda gabung ke tim pemenangan, karena diajak atau keinginan sendiri?

Saya ini belakangan banyak komunikasi dengan Muzakir jadi beliau memang sahabat saya. Saat kapolda saya banyak tukar pendapat, dari segi keamanan juga begitu jadi saya anggap sebagai sahabat saya sehingga saya secara pribadi memang mendukung beliau ini. Nanti kalau saya ada kesempatan saya diundang untuk kampanye ke lapangan saya akan hadir, selama saya memiliki waktu.(*)

Penulis
Rubrik

Komentar

Loading...