Inggris Alami Keterpurukan Ekonomi Jelang Keputusan Brexit

Inggris Alami Keterpurukan Ekonomi Jelang Keputusan Brexit
Bendera Uni Eropa dan bendera Inggris yang ditinggalkan demonstran pro-Brexit di Parliament Square di London, 29 Maret 2019.

BERITAKINI.CO | Ekonomi Inggris menyusut untuk pertama kalinya sejak 2012 di kuartal kedua. Kondiisi ini semakin memburuk akibat peningkatan pra-Brexit (British Exit) dan juga menjadi pertanda tidak baik dengan rencana Perdana Menteri Boris Johnson memutuskan akan membawa negara itu keluar dari Uni Eropa (UE) pada Oktober mendatang, meski tanpa kesepakatan.

Nilai mata uang poundsterling turun ke level terendah terhadap dolar AS setelah data menunjukkan output di negara ekonomi terbesar kelima di dunia itu turun 0,2 persen dalam tiga bulan terakhir hingga Juni. Ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, di bawah semua perkiraan dalam jajak pendapat Reuters dengan para ekonom.

Pemerintah Inggris di bawah kepemimpinan Johnson berkomitmen untuk meninggalkan UE pada 31 Oktober, terlepas dari apakah ia dapat mengamankan kesepakatan transisi untuk menghindari gangguan perdagangan, prospek di sepanjang sisa 2019 yang tidak pasti. Ekonomi dunia juga telah mengalami perlambatan, akibat konfilk perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat pertumbuhan ekonomi tahun-ke-tahun turun menjadi 1,2 persen dari 1,8 persen pada kuartal pertama. Pihaknya mengatakan bahwa ini merupakan yang terlemah sejak awal 2018.

"Ada sedikit keraguan bahwa ekonomi macet, terlepas dari volatilitas data," kata ekonom senior dari PwC, Mike Jakeman.

Jakeman juga mengatakan, krisis Brexit dan prospek global yang tidak pasti membuat ekonomi Inggris berada di ‘ujung pisau’ untuk kuartal ketiga. Sebelumnya, Menteri Keuangan Inggris Sajid Javid mengatakan kepada BBC, bahwa, ia tidak mengharapkan adanya resesi sama sekali.

Javid mengatakan angka-angka yang tidak diprediksi oleh seoranpun ekonom, seperti yang disurvei sebelumnya tidaklah mengejutkan sama sekali. Pertumbuhan ekonomi pada Juni ini adalah yang terlemah sejak Agustus 2013, yang terletak pada angka 1,0 persen.

Pada pekan lalu, Bank of England memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi akan naik ke tingkat kuartalan 0,3 persen selama kuartal saat ini. Namun, pertumbuhan untuk tahun ini secara keseluruhan akan turun menjadi 1,3 persen. Selain itu ada kemungkinan lebih buruk, bahkan meski Inggris meninggalkan UE dengan kesepakatan yang masuk akal.

Data sebelumnya telah menunjukkan jatuhnya produksi pabrik di Inggris pada April mengalami penurunan karena produsen mobil mengajukan penutupan musim panas tahunan. Ini mengikuti batas waktu Brexit yang pada awalnya dijadwalkan untuk dilakukan pada 29 Maret dan ditunda hingga 31 Oktober.

Tetapi, data manufaktur Juni juga secara tak terduga buruk dan output pabrik untuk kuartal tersebut berkontraksi pada tingkat tercepat sejak awal 2009, ketika Inggris terperosok dalam resesi. Survei bisnis sektor swasta menunjukkan sektor manufaktur dan konstruksi mengalami penurunan aktivitas pada Juli, sementara sektor jasa yang lebih besar hanya mengalami pertumbuhan yang moderat.

Meskipun demikian, sebagian besar ekonom mengharapkan beberapa perbaikan pada kuartal ketiga. Ini akan menghindari Inggris dalam memenuhi definisi teknis resesi, yang merupakan dua kuartal berturut-turut dari pertumbuhan negatif.

“Konsumen memiliki uang tunai di kantong mereka, pertumbuhan upah berada pada level tertinggi dalam survei 11 tahun, menujukkan peningkatan lebih lanjut dalam lapangan kerja,” jelas ekonom Samuel Tombs.

Selain itu, Tombs mengingatkan, agar pengeluaran pemerintah harus bertahan seperti saat ini. Ia mengatakan bahwa, Pemerintah Inggris saat ini memilliki semangat untuk melonggarkan fiskal. Sebelumnya, Javid mengatakan bahwa pada September, ia akan menetapkan rencana pengeluaran untuk tahun depan.

Ekonomi Inggris telah bergerak melambat sejak keputusan Inggris melakukan pemungutan suara pada Juni 2016 untuk meninggalkan UE. Tingkat pertumbuhan tahunan turun dari lebih dari 2 persen, sebelum referendum meningkat sebesar 1,4 persen tahun lalu. | republika.co.id

Rubrik

Komentar

Loading...