Harga Premium dan Solar Tak Naik, Pertamina Mengaku Rugi

Oleh ,
Harga Premium dan Solar Tak Naik, Pertamina Mengaku Rugi
Ilustrasi SPBU

BERITAINI.CO | PT Pertamina (Persero) mengaku rugi akibat harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan premium yang ditetapkan pemerintah di bawah harga keekonomian.

Sejak harga minyak mentah naik ke kisaran US$ 50/barel pada akhir 2016, harga solar sebesar Rp 5.150/liter dan premium Rp 6.450/liter sudah di bawah keekonomian.

"Defisit, iya. Sebenarnya dari Januari (2017) itu juga defisit. Kan harga minyak mentah sudah tembus di atas US$ 50/barel," kata Direktur Pemasaran Pertamina, Muchamad Iskandar, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (23/3/2017).

Ia mengungkapkan, pada akhir 2016 saja kerugian dari penjualan solar sudah Rp 300/liter dan premium rugi Rp 150/liter. "Kira-kira per liter solar Rp 300-an premium Rp 150," ucapnya.

Kerugian dari penjualan premium dan solar ini tak mampu ditutup oleh keuntungan dari penjualan BBM non subsidi seperti pertalite, pertamax, pertamax plus, dexlite, dan pertamina dex.
Pertamina juga tak bisa menaikkan harga BBM non subsidi untuk menutup defisit dari solar dan premium karena takut pasarnya diambil para kompetitor seperti Shell dan Total.

"Enggak ketutup (dari BBM non subsidi). Kan ada pesaing," ungkapnya.

Masalah ini sudah dibicarakan bersama pemerintah. Tapi pemerintah tentu punya banyak pertimbangan yang lebih luas dan menyeluruh, sehingga memutuskan harga BBM subsidi dan BBM penugasan tak naik.

"Sudah dibicarakan. Tapi karena pemerintah melihat dari sisi makro, kemarin dilihat dari consumer good, beras tinggi, kalau BBM naik inflasi bisa naik. Maka ditahan dulu," terang Iskandar .

Tapi, Pertamina tak khawatir karena sering mengalami situasi seperti ini. Pada 2015 lalu, Pertamina bahkan pernah nombok karena subsidi yang diberikan pemerintah tak sebanding dengan defisit harga BBM.

"Pada tahun 2015 kita pernah mengalami. Malah saya pernah jualan premium rugi sehari Rp 80 miliar," dia menuturkan.

Lagipula, harga minyak naik turun. Ketika nanti harga minyak turun, Iskandar berharap agar pemerintah tak menurunkan harga solar dan premium sehingga kerugian yang ditanggung Pertamina saat ini bisa tertutup.

"Minyak kan fluktuatif terus. Kita menanggung rugi dulu. Tapi kalau harga minyak turun nanti kita positif. Berarti dikompensasi ke situ. Kan ada kesepakatan dari awal, kalau nanti sempat turun sampai US$ 40/barel, jangan diturunkan lagi sehingga kami dapat gain," pungkasnya.(*)

Rubrik
Sumber
Detik.com
IKLAN ACEH JAYA

Komentar

Loading...