Derita Kelainan Jantung, Bocah 8 Tahun di Aceh Barat Butuh Uluran Tangan Dermawan

Derita Kelainan Jantung, Bocah 8 Tahun di Aceh Barat Butuh Uluran Tangan Dermawan

BERITAKINI.CO, Meulaboh | Gita Ayu Surya (8) asal Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, menderita penyakit katup jantung lemah. Bocah ini butuh uluran tangan dermawan untuk biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Putri keempat dari pasangan Surya dan Mutia ini telah menderita penyakit tersebut sejak lahir, namun baru diketahui pihak keluarga empat bulan lalu.

Jika dilihat kasat mata, kondisi Gita sangat sehat seperti anak yang seusia dengannya. Namun, sebenarnya dia menderita penyakit berbahaya, sehingga kondisinya mudah lelah, sudah bernafas dan sering sakit.

“Kami baru mengetahuinya karena ada gejala aneh terjadi pada Gita, mulai dari kejang-kejang hingga seluruh tubuhnya membiru,” kata orang tua Gita, Mutia, saat ditemui wartawan di rumahnya, Jumat (16/11/2018).

Akibat penyakit dideritanya sering kambuh, Gita yang masih duduk kelas II Sekolah Dasar (SD) terpaksa berhenti mengenyam pendidikan.

“Sering kambuh tak menentu, sehingga harus berada dalam pengawasan selama 24 jam,” kata Mutia.

Karena keterbatasan biaya, orangtua Gita hanya mengandalkan kartu BPJS Kesehatan. Namun tidak semua biaya dapat ditanggung dalam program tersebut.

Beban mereka semakin berat karena RSUD setempat tidak bisa menangani penyakit yang diderita oleh Gita, sehingga harus dirujuk ke Rumah Umum Sakit Zainal Abidin (RSUZA) di Banda Aceh. Sehingga, mereka terpaksa menumpuk hutang kepada kerabat dan tetangga untuk biaya pengobatan sang buah hati.

“Dokter yang menanganinya di RSUZA juga menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit di Jakarta agar mendapat pengobatan intensif. Namun keluarga tak mampu memenuhi hal tersebut lantaran tak punya biaya,” kata Mutia.

Mutia mengaku, selama ini hanya mengadalkan pendapatan suaminya yang bekerja sebagai buruh kasar di salah satu perusahaan di Meulaboh untuk biaya berobat anaknya.

Namun, pengasilannya sebagai buruh tak mampu mencukupi semua keperluan. Selain biaya hidup dan pendidikan anak, mereka juga harus menyisihkan penghasilan untuk membayar sewa rumah.

“Kami memang kesulitan membiayai pengobatan Gita. Meski ada BPJS namun tetap saja tidak semua ditanggung, bahkan kami banyak beli obat di luar. Kalau tidak ada obat penyakitnya kambuh dan kejang-kejang,” kata Mutia.

Kini ia hanya bisa pasrah dan mengaharapkan uluran tangan dermawan yang membantu biaya pengobatan Gita, agar tidak mengalami ketergantungan obat.

“Dia harus rujuk ke Jakarta agar dioperasi karena di Aceh belum bisa. Kalau tidak segera dioperasi, Gita harus minum obat terus agar penyakitnya tidak kambuh,” ujar Mutia.

Rubrik
IKLAN ACEH JAYA

Komentar

Loading...