Deretan Jenderal TNI dengan Pengalaman Tempur Menegangkan saat Perang

Deretan Jenderal TNI dengan Pengalaman Tempur Menegangkan saat Perang
Ilustrasi Net

BERITAKINI.CO | Banyak cerita tentang Jenderal TNI saat masih aktif sebagai prajurit terlibat perang yang menegangkan. Para prajurit terbaik saat itu mampu mengalahkan musuh.

Perjuangan mereka bertaruh nyama demi negara luar biasa. Berikut kisah para jenderal TNI yang pernah ikut perang membela negara:

1. Kenangan Luhut saat Operasi Seroja

Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan menceritakan kenangan yang tak bisa dilupakan saat operasi Seroja, saat itu dia menjadi Komandan Tim C Group 1. Dia masih ingat betul momen terbang selama enam jam dari Lanud Iswahyudi, Madiun menuju Kota Dili, Timor-timor pada 1975. Dari ceritanya, saat itu para prajuritnya sampai harus menahan buang air. Tapi ada saja yang tidak sanggup menahannya.

Prajurit Kopassus dihadapkan pada situasi yang menuntut kesiagaan. Saat hendak terjun dari pesawat, musuh langsung mengarahkan tembakan ke prajurit Kopassus. "Ada tembakan, pesawat belok. Ada (prajurit) yang masuk di laut. Ini suatu momen yang benar-benar membuat kita teringat semua bagaimana operasi dilakukan. Gagah berani, tapi tidak terencana dengan baik," ujar Luhut.

Luhut juga menggambarkan kelelahan prajuritnya yang setiap hari harus menggendong ransel seberat 35 kilogram, lengkap dengan persenjataan. Mantan komandan Kompi A Satgas Nanggala V di Kota Dili ini meminta para perwira saat ini mengambil pembelajaran dari tugas militer pendahulunya.

2. Prabowo Subianto

Prabowo Subianto berperan besar dalam memimpin sebuah misi penangkapan terhadap Nicolau dos Reis Lobato. Nicolao adalah Presiden Frente Revolucionria de Timor-Leste Independente atau Fretilin. Kelompok bersenjata yang terus melakukan perlawanan pada tentara Indonesia di Timor Timur.

Kapten Prabowo Subianto memimpin pasukan elite Nanggala-28. Dalam pertemburan Prabowo diberi tugas mengkoordinasi pengepungan dengan seluruh kekuatan yang ada di sektor tengah tersebut.

Pasukan Nanggala bergerak cepat menyergap pasukan pengawal Lobato. Baku tembak sengit segera terjadi. Sejumlah pengawal Lobato tewas dalam penyergapan ini, namun sang presiden Fretilin menolak menyerah.

Dengan sisa-sisa pengawal yang tersisa Lobato mencoba lari. Namun nahas, mereka dihadang oleh Pasukan Yonif 744 tanggal 31 Desember 1978. Pertempuran jarak dekat terjadi. Lobato tewas ditembak oleh Sersan Satu Jacobus Maradebo, seorang prajurit asli Timor Timur. Peluru itu tepat bersarang di dada Lobato. Ada juga yang mengatakan Lobato tertembak di perut.

3. Cerita Pasukan Garuda Kalahkan 3.000 Gerilyawan Kongo

Pasukan perdamaian dari Indonesia selalu bisa diterima dengan baik di negara penugasan. Sejak Kontingen Garuda I bertugas di Mesir tahun 1957, sejak itulah pasukan baret biru di bawah PBB ini mengharumkan nama bangsa.

Ada cerita menarik soal Pasukan Garuda. 30 Pasukan Garuda berhasil membekuk 3.000 gerilyawan di Kongo berbekal akal bulus dan kecerdikan. Ceritanya, Desember 1962 di Kongo sedang bergolak. Kontingen Garuda III (Konga III) di bawah pimpinan Kolonel Kemal Idris berangkat sebagai pasukan perdamaian di bawah UNOC (United Nations Operation in the Congo).

Suatu hari, terjadi serangan yang dilakukan 2.000 gerilyawan Kongo ke markas Pasukan Garuda. Saat itu markas hanya dipertahankan 300 tentara. Setelah baku tembak berjam-jam, gerilyawan dapat dipukul mundur. Untungnya tak ada korban di pihak Indonesia. Kemal tahu 3.000 pemberontak itu sangat percaya takhayul. Mereka takut pada hantu spritesses yang digambarkan berwarna putih dan melayang-layang di waktu malam. Maka 30 anggota pasukan garuda itu berpakaian jubah putih dan segera menyerang.

Dalam operasi kilat itu, ribuan gerilyawan Kongo ditangkap. Senjata-senjata mereka yang ternyata lumayan canggih disita. Dalam peristiwa itu hanya seorang prajurit TNI yang cedera. Salah seorang gerilyawan yang panik saat digerebek, melemparkan ayam yang tengah dibakarnya pada tentara kita.

4. Duet Maut Hendropriyono vs gerilyawan Kalimantan

Jenderal Purn AM Hendropriyono mengisahkan operasi militer pasukan khusus Angkatan Darat melawan gerombolan Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) sekitar tahun 1968-1974. Waktu itu Hendro memimpin 11 prajurit Halilintar Prayudha Kopasandha (kini Kopassus) untuk meringkus petinggi PGRS/Paraku dengan jabatan Sekretaris Wilayah III Mempawah Siauw Ah San Ah San hidup-hidup.

Mereka tidak membawa senjata api, hanya pisau komando sebagai senjata. Hanya Hendro yang membawa pistol untuk berjaga-jaga. Setiap personel dilengkapi dengan handy talky (HT). Hendro tanpa senjata harus menghadapi Ah San yang bersenjatakan bayonet. Memang ada senjata yang ditaruh di belakang tubuh Hendro, tapi mengambil senjata dalam keadaan duel seperti ini butuh beberapa detik. Hendro takut Ah San keburu menusuknya.

Hendro lalu melompat dan menendang dada Ah San. Berhasil, tetapi sebelum jatuh Ah San sempat menusuk paha kiri Hendro hingga sampai tulang. Darah langsung mengucur, rasanya ngilu sekali. Ah San kemudian berusaha menusuk dada kiri Hendro. Hendro berusaha menangkis dengan tangan. Akibatnya lengannya terluka parah dan jari-jari kanannya nyaris putus.

perwira baret merah ini menembak dua kali. Tapi hanya sekali pistol meletus, satunya lagi macet. Pistol segera jatuh karena Hendro tak mampu lagi memegangnya. Duel maut itu selesai. Ah San tewas, tetapi Hendro pun terluka parah. Beruntung anak buahnya segera datang menyelamatkan Hendro. Rupanya saat diserang tadi Ah San sudah membakar gubuknya sendiri. Tujuannya agar pasukan penyerang sama-sama mati terbakar.

Rubrik
Sumber
MERDEKA.COM

Komentar

Loading...