Jaksa Ringkus Buronan Kasus Korupsi Saat Sedang Diperiksa di Mapolresta Banda Aceh

Oleh ,
Jaksa Ringkus Buronan Kasus Korupsi Saat Sedang Diperiksa di Mapolresta Banda Aceh
Mahirul Athar masuk ke mobil tahanan

BERITAKINI.CO, Banda Aceh | Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menangkap satu orang terpidana kasus korupsi bernama Mahirul Athar di Mapolresta Banda Aceh pada Rabu (10/10/2018) sore.

Terpidana Mahirul Athar digelandang ke Kejari Banda Aceh untuk menjalani pemeriksaan awal termasuk pemeriksaan kesehatan.

Pantauan wartawan di kantor Kejari Banda Aceh, terpidana keluar dari ruang pemeriksaan dengan menggunakan rompi tahanan berwarna merah. Kemudian langsung dinaikan ke dalam mobil untuk dibawa ke Lapas kelas IIA Lambaro.

Kasipidsus Kejaksaan Negeri Banda Aceh Iskandar mengatakan, terpidana ditangkap berkaitan dengan kasus korupsi pengadaan obat-obatan di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Banda Aceh tahun anggaran 2007.

"Kasus ini telah diputus pada November 2011. Dia divonis 1,5 tahun oleh pengadilan, namun tidak ditahan," kata Iskandar.

Selain vonis penjara, pengadilan juga menuntut pembayaran denda Rp 50 juta, subsider 4 bulan kurungan penjara serta uang pengganti Rp  91 juta.

Iskandar menjelaskan, terpidana adalah rekanan pada proyek pengadaan obat-obatan tersebut.

"Jadi ada permainan pada proses tender di kasus ini. Yang seharusnya menang PT Banda Naira tapi dimenangkan PT Rezekina Muda, yang tak lain adalah perusahaan milik terpidana," ujarnya.

Menurut Iskandar, terpidana telah buron sejak 2012 lalu. "Kita tidak tahu juga mengapa saat itu tidak ditahan. Tadi mendapat informasi yang bersangkutan tengah diperiksa di Polresta Banda Aceh atas kasus penipuan, lalu kita langsung amankan," kata Dia.

Di Polresta Banda Aceh, sebut Iskandar, terpidana juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengaturan HET gas elpiji 3 kilogram.

"Jadi yang bersangkutan ada kasus lain lagi di Polresta Banda Aceh. Juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penipuan," katanya.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus ini, Maimunah mengatakan, akibat kasus ini negara mengalami kerugian sebesar Rp 500 juta lebih.

"Dalam berkas penuntutan yang berbeda, ada dua orang lainya yang juga telah divonis dalam kasus ini, yaitu dr. Bakri Abdullah M. Kes dan Drs. Subki Yahya," kata Maimunah. | MAG-02

Rubrik
IKLAN ACEH JAYA

Komentar

Loading...