Beratnya Pendidikan Kopassus, Prajurit TNI Dibayar Rp 1 Miliar Ogah Mengulang

Beratnya Pendidikan Kopassus, Prajurit TNI Dibayar Rp 1 Miliar Ogah Mengulang

BERITAKINI.CO | Dalam TNI di Angkatan Darat atau AD adalah satuan Komando Pasukan Khusus atau Kopassus. Pasukan ini menjadi salah satu pasukan yang paling diandalkan Indonesia. Untuk masuk dalam satuan ini tidaklah mudah. Proses seleksinya ketat.

Seperti yang dikatakan oleh Serka Asmujiono dalam buku "Kopassus Untuk Indonesia" karya Iwan Santosa dan E.A Natanegara. Asmujiono mengatakan "Le, kalau kamu pingin hidup lebih sengsara dari prajurit biasa, ya masuklah RPKAD (nama lama Kopassus). Pasti kamu sengsara."

Tak hanya itu saja, dalam buku yang sama disebutkan apapun alasan orang masuk Kopassus, mereka tak akan mau mengulang meski dibayar satu miliar rupiah.

"Tidak ada seorang pun yang sebelumnya bisa membayangkan hal-hal yang akan mereka hadapi sebagai seorang Kopassus. Semua berkata sama, mutlak tanpa pengecualian, meskipun kalau dibayar satu miliar mereka tidak akan mau lagi menjalani pendidikan Komando selama tujuh bulan itu." demikian kutipan dalam buku "Kopassus Untuk Indonesia".

Lalu, seperti apa beratnya latihan Kopassus di TNI?

Tidak Ada Hari Libur Selama 7 Bulan

Pendidikan Kopassus dijalani selama tujuh bulan. Mereka akan menjalani pendidikan dua tahap, yaitu tahap 1 dan tahap 2. Selama itu pula, siswa tak bisa berhubungan dengan keluarga, kerabat, dan teman. Mereka juga tak mendapat hari libur.

Sistem gugur diterapkan dalam pendidikan Komando. Jika siswa gagal, tak kuat atau menyerah selama pendidikan, secara otomatis mereka akan diberhentikan dalam pendidikan.

Jadi, selama tujuh bulan itu mereka akan sering berhadapan langsung dengan para pelatih di Batujajar, Situ Lembang, Cilacap, dan Nusa Kambangan.

Beratnya Latihan

Selama pendidikan Komando, siswa akan diberikan tahap-tahap pendidikan. Tahap-tahap itu seperti Tahap Basis (teori tentang kemampuan Prajurit Komando yang berisi ilmu medan, menembak, pengetahuan senjata ringan dan pengetahuan Demosili).

Kemudian Tahap Gunung Hutan, tahap ini dimaksudkan agar prajurit memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mengatasi hambatan di gunung dan hutan. Latihan yang diberikan antara lain Penjejakan atau anti penjejakan, survival, dan ilmu medan.

Dan terakhir Tahap Rawa laut. Tahap ini dimaksudkan agar prajurit mampu beradaptasi dengan medan rawa laut. Latihannya seperti pengenalan rawa laut, patroli, dan pendaratan laut.

Ada juga Pembinaan Jasmani Militer. Latihannya cukup menyeramkan. Seperti Ketangkasan jasmani (lempar pisau, renang militer). Lalu latihan bela diri ala militer, dan kesegaran jasmani.

Latihan Fisik Menguras Energi

Latihan fisik selama pendudukan Komando juga sangat berat. Tak bisa sembarang orang mengikuti latihan ini. Mereka harus memiliki rasa juang tinggi dan tak menyerah.

Salah satu latihan terberatnya adalah jalan kaki yang merupakan latihan akhir tahap Gunung Hutan dan mengawali tahap latihan Rawa Laut di Pantai Cilacap. Jalan kaki ini dilakukan sepanjang 500 kilometer, atau dari Batujajar hingga Cilacap. Wajar saja banyak yang menyerah dalam latihan ini.

Dalam satu hari, mereka harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer menelusuri bukan jalan raya. Diawali dengan bangun jam 4 pagi di Batujajar, mempersiapkan diri, beribadah, dan memasak sendiri untuk makan hari atau bekas hari itu.

Kemudian, pukul 5 pagi mereka berangkat dan terus berjalan hingga sekitar pukul lima atau enam sore setiap harinya. Sesampainya di Cilacap, mereka tak beristirahat. Mereka melanjutkan latihan Rawa Laut dan diakhiri dengan Latihan Pelolosan dan Uji Kerahasiaan.

Latihan-latihan itu dianggap berat, karena siswa selama enam jam dianggap sebagai tawanan oleh pihak musuh dan terus mendapat deraan fisik sambil mempertahankan samaran yang diberikan.

Rubrik
Sumber
MERDEKA.COM

Komentar

Loading...