Bejamu Saman, Tradisi Turun Temurun Suku Gayo yang Mengakrabkan

Bejamu Saman, Tradisi Turun Temurun Suku Gayo yang Mengakrabkan
Bejamu Saman tradisi turun temurun yang mengakrabkan dan meningkatkan tali persaudaraan suku Gayo di Aceh | Jawapos

BERITAKINI.CO | Setiap tahun, untuk merayakan pascapanen, Idul Fitri atau Idul Adha, Pemuda di Kabupaten Gayo Lues umum melakukan tradisi Bejamu Saman. Ritual yang telah dilakukan turun temurun oleh Masyarakat Suku Gayo itu dilakukan dengan tujuan mendapatkan serinen (red, sahabat) antar desa dan sebagai ajang silaturahmi untuk mengakrabkan persaudaraan antar desa.

Saman berasal dari bahasa tsamaanun, yang dalam bahasa Arab artinya delapan, seperdelapan. Gerakan Saman awalnya dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dari Gayo, Aceh Tenggara. Seperti yang diungkapkan pelaku Saman sekaligus Camat Rangon, Gayo Lues, Sabri pada JawaPos.com.

"Saman itu dari bahasa Arab, Tsamaanun, artinya seni ke delapan. Saat itu Syekh Saman menyiarkan agama Islam dengan Saman sebagai fasilitas," ungkap Sabri saat ditemui usai pertunjukkan Saman Bale Asam di Gayo Lues, Minggu (24/11).

"Karena orang (suku) Gayo dulu itu kalau udah duduk bertiga atau lebih pasti ngajak main Saman. Jadi itu budayanya. Pertama kali Besaman itu di Baling, (mereka) duduk semacam ini (bersimpuh) ada bentangan kayu yang isinya serbuk gergaji," tuturnya sambil mengenakan pakaian khas Gayo, baju Kerawang lengkap dengan kain penutup kepala sebagai simbol tahta.

Baca juga : Cekcok Beda Capres Berujung Maut, Ini Pesan Kubu Jokowi - Prabowo

Kopi dan rokok tak bisa lepas dari budaya masyarakat Gayo, hampir tiap rumah menawarkan kopi sebagai jamuan minum. Bukan air putih atau teh. Bertukar rokok pun menjadi simbol keakraban bahwa antara tamu dan tuan rumah bisa cocok satu sama lain.

Pak Sabri meneruskan ceritanya, Bejamu Saman tak dipungkiri menjadi simbol kerukunan di masyarakat Gayo. Pasalnya, Bejamu Saman mempertemukan seluruh pemuda desa dengan desa lain hingga menjadi serinen (red, sahabat) yang akan menjadi simbol persaudaraan abadi yang menular ke sanak keluarganya kelak.

Bejamu Saman dilakukan dengan mengirimkan salah satu pemuda desa untuk meminang desa lain sebagai rekan Bejamu. Waktu yang dilakukan dalam Bejamu Saman biasanya dua hari dua malam (saman roa lo roa ingi) dan satu hari satu malam (saman sara lo sara ingi).

 
Awal dari kegiatan ini biasanya bermula dari perbincangan seberu sebujang di suatu kampung. Kemudian, keinginan Bejamu Saman ini disampaikan kepada tokoh masyarakat yang ada di kampung tersebut melalui mufakat. Jika sudah di dapat kata sepakat maka hal ini disampaikan kepada seluruh sebujang Gayo (desa tamu dan penamu), dan biasanya mereka langsung melakukan latihan saman untuk menyambut kedatangan serinen mereka.

Sembari latihan, ada beberapa pemuda yang ditunjuk untuk mencari ketersediaan suatu desa untuk menjadi serinen mereka nantinya. Jika suatu kampung tidak menyetujui karena suatu alasan, maka pemuda tersebut langsung mencari desa lain. Setelah mendapatkan kesediaan dari suatu desa maka dilakukan perjanjian, di mana dalam perjanjian itu memuat kapan Bejamu Saman dilakukan.

Saat hari H, desa A akan melakukan penyambutan kepada desa B yang hanya terdiri dari sebujang dan orang tua laki-laki saja. Biasanya penyambutan dengan melakukan didong alo, pengalungan kalung bunga oleh gadis gayo kampung A kepada tokoh masyarakat Kampung B.

"Setelah penyambutan, maka seluruh tamu yang datang dibawa ke tempat Bejamu Saman yang biasa di sebut “bangsalan” yang sebelumnya telah dihiasi seberu sebujang gayo kampung A dengan adat istiadat setempat," ungkap Sabri.

Biasanya, tempat yang dipilih adalah tempat yang luas karena biasanya pada saat Bejamu Saman, selain menampilkan Saman antar desa A dan B, akan banyak datang penonton yang datang dari desa lain. Setelah itu, dilakukan pemilihan serinen yang sebelumnya mereka tak saling kenal. Biasanya sebujang A mendatangi sebujang B kemudian serinen mereka di bawa kerumah untuk dijamu dan diperkenalkan pada keluarga.

Acara bejamu saman dilanjutkan dengan berkumpul kembali di bangsalan dan acara saman pun kemudian dilakukan yang biasanya pertama kali dilakukan oleh tuan rumah.

"Segala fasilitas apapun dari A sampai Z yang dia butuhkan saat 2 hari 2 malam mulai dari makan, pakaian, tempat mandinya itu kita (penerima tamu) yang melayani. Nah ini yang dikatakan bejamu saman ini hanya 2 hari 2 malam yang tujuannya mengikat silaturahim ke orang lain. Prinsipnya 2 hari 2 malam ini sahabat sejati dunia akhirat lah," lanjut Sabri.

Bejamu Saman ini, hampir sama dengan saman-saman lainnya, yaitu dimulai dari salam kemudian memuat syair-syair yang dibawakan oleh penangkat saman. Pada saat saman, biasanya hal yang paling menghibur bagi penonton adalah gerakan tari saman dan sonek yang dilantunkan oleh pengangkat saman. Sonek adalah salah satu jenis sastra gayo yang biasanya berupa pantun, yang biasanya dibawakan setelah lagu pokok atau jangin. Dalam sonek ini, biasanya memuat tentang pesan, pujian, rasa syukur dan sindiran halus.

Setelah kampung yang menjadi tuan rumah melakukan saman, maka setelah itu kampung B balas melakukan saman juga. Dalam melakukan saman ini tidak ada penentuan siapa yang menang atau kalah. Penilaian saman hanya dilakukan oleh dari masing-masing penonton saja dalam hati.

Dalam Bejamu Saman, tak lepas dari keikutsertaan seberu gayo (red, gadis gayo). Biasanya mereka melakukan tarian Bines untuk menghibur orang tua dan sebujang dari kampung B. Pada saat menarikan tarian bines, ada kegiatan yang disebut “najuk” yang merupakan kegiatan pemberian uang kepada seberu gayo yang sedang menarikan tarian bines oleh sebujang Kampung B. Biasanya najuk dilakukan kepada gadis gayo yang disukai.

Najuk dilakukan dengan menyelipkan uang pada lidi, kemudian lidi tersebut diselipkan pada sempol gadis gayo tersebut (Sempol adalah jenis Sanggul yang biasanya berbentuk bunga yang terdapat pada suku gayo). Namun, setelah diberlakukannya syariat islam sempol sudah jarang digunakan. Biasanya penari bines memakai jilbab yang dimodifikasi seperti sempol.

Baca juga : Rahasia Militer dalam Perang Irak Diungkap ke Publik

Setelah acara bines maupun saman telah selesai. Maka ada acara pembagian selepah (red, oleh-oleh) dari masing-masing serinen. Selepah adalah pemberian dari serinen kampung A kepada kampung B yang didapat dari masing-masing serinen mereka. Biasanya selepah berupa makanan khas Gayo. Namun seiring waktu, selepah tidak hanya memuat makanan khas Gayo akan tetapi bisa juga kebutuhan lain seperti sandang pangan, kasur, hingga tanah atau kebun yang bisa dikelola.

Setelah Serinen terjalin, hubungan itu akan otomatis menular ke sanak keluarga mereka. Otomatis, hubungan itu pun berlanjut ke anak cucu mereka kelak.

"Misal, orang tua saya dulu bejamu saman, sampai ke saya. Lalu, anak saya itu harus saling mengenal kembali (melanjutkan serinen). Bahkan, menurut cerita orang tua saya bahwa serinan saman ini sampai dapat warisan. Contoh, saya sahabat sama Adinda, dia jadi adik saya dan saya jadi abangnya. Artinya, tidak ada kakak beradik sampai ditelusuri sampai ke rumah, yang jelas jadi saudara. Secara hukum tidak, hanya saja secara prilaku sudah seperti saudara sekandung. Jadi, bejamu saman ini misal si A serinan sama si B itu sudah seperti satu ibu satu bapak. Secara adat, anaknya susah (tidak bisa) kalau dikawinkan. Secara hukum sah saja, tapi tabu secara adat. karena anak dia sudah jadi anak saya," ungkapnya.

Sabri sebagai kepala Camat Rangon juga menyebut bahwa pernah terjadi kecelakaan di Gayo. Saat ditelusuri serinennya, ternyata baik si penabrak maupun korban masih satu serinen dari kakeknya, damailah mereka. Sehingga, serinen dari Bejamu Saman ini juga menjadi simbol kerukunan antar masyarakat Gayo.

"Andai kata bejamu saman ini bisa kerjasama dengan pihak di luar Aceh kan mungkin bagus. Apa salahnya kita serinen dengan orang jawa timur, dengan orang Medan? Tapi kan ini juga menyangkut adat, dan Bejamu Saman di Gayo Lues ini juga jadi bagian program kemdikbud lewat Indonesiana," tutup Sabri.

Rubrik
Sumber
Jawapos.com

Komentar

Loading...